Saturday, December 1, 2012

SUSUR DAN UNGKAPAN JAWA

Susur adalah tembakau yang disumpalkan di mulut dan dikulum pelan-pelan, umumnya dipakai sebagai penutup makan sirih. Kebanyakan yang nyusur adalah ibu-ibu atau nenek-nenek. Dewasa ini sudah jarang kita melihat wanita “nyusur” walaupun di desa sekalipun. Susur mungkin tidak lama lagi tinggal kenangan. Kalau orang ditanya tentang susur, maka banyak yang mengatakan “O itu mbah putri saya dulu nyusur”.
 
Konon kata yang empunya ceritera, terjadilah perdebatan antara sirih, pinang, gambir, kapur dan tembakau. Semua mengatakan dirinya yang paling hebat. Terakhir tembakau mengatakan: “Tidak ada yang lebih hebat daripada aku. Tanpa aku, nginang (makan sirih) mu tidak sempurna”. Hampir tembakau menang kalau tidak keburu dilerai Batara Guru, bahwa semuanya adalah tim yang “All for one, one for all”. Tanpa keberadaan salah satu, maknanya pun hilang. Demikian pernah saya tulis dalam Bekerja dalam tim: Tuladha dari “kinang”
 
Saya teringat posting lama tersebut ketika teman saya, dr. Toto Andriono, SpA memposting di wall Facebook gambar wanita nyusur yang ada di samping. Entah beliau ambil dari mana, langsung saya minta.
 
Susur yang di Jawa Timur sebelah barat, dari Blitar sampai Pacitan disebut “jegul” kelihatannya tidak lama lagi hilang dari peredaran. Sisi baiknya kalau kita kaitkan dengan bahaya tembakau. Sisi buruknya tidak ada, kecuali kisah-kisah tentang susur bisa-bisa ikut ditelan jaman. Saya coba gali dari kelompok FaceBook Nguri-uri Basa Jawa, ternyata betul, banyak kisah menarik dari susur.
 
 
SUSUR DAN CANGKRIMAN
 
Orang Jawa suka cangkriman. Dua dari tulisan saya tentang cangkriman sampai sekarang kurang lebih satu tahun, tetap menduduki 10 besar dalam posting terbanyak dibaca. Cangkriman Jawa selalu bersumber dari hal-hal yang akrab dengan kehidupan, dan cangkriman yang berkaitan dengan “susur” ternyata cukup banyak.
 
dalam Cangkriman: Kumpulan (Maret: 2012) baru satu tentang susur yang saya tulis, yaitu “Surlespenen” (Susur teles pepenen). Terjemahan Indonesianya: Susur basah jemurlah. Memang susur kalau sudah lama diisap-isap dan terlalu basah oleh ludah, sering dijemur untuk nanti diisap lagi. Di bawah adalah Cangkriman berbau "susur" lainnya, umumnya cangkriman wancahan (akronim) dan tidak melanggar kaidah (menggunakan suku kata terakhir).

1.   Surdhegwer: Susur neng gedheg pating klewer (Dulu biasanya susur yang mau dipakai ulang dislempitikan di celah-celah bambu penjepit dinding gedheg. Ada untungnya karena menjadi tidak gampang kabur ditiup angin. Tetapi ya tetap pating klewer).
 
2.   Surdhegwerweren: Susur neng gedheg ewer-eweren (Hampir sama dengan di atas, bedanya yang di atas iris-irisan tembakau susurnya pating klewer dengan sendirinya, yang ini kita yang aktif mengewer-ewer)
 
3.   Surdhegtasen: Susur neng gedheg entasen (Ngentas: mengambil sesuatu yang selesai dijemur. Celah-celah dinding gedheg memang tempat yang paling strategis untuk menjemur susur).
 
4.   Suritjopih: Susur pahit aja dilepih (susur pahit jangan diludahkan. Susur memang pahit. Tapi justru pahitnya itu yang enak, katanya. Jadi jangan “dilepih” atau dibuang dari mulut).
 
5.   Surmbahlangsu: (Susure simbah dianggo mbalang asu. Susurnya simbah dipakai melempar anjing. Kalau yang ditanya agak “lemot” si pelontar  akan memberi petunjuk dengan menambahkan kata “kaing-kaing”)

6.    Surmbahdirabon: (Susure simbah dikira abon. Abon bikinan rumah jaman dulu tidak halus dan lembut seperti sekarang. Mirip-mirip empal yang disuwir-suwir dan warnanya coklat kehitaman).

Ada satu lagi cangkriman yaitu “Susur gumantung”. Orang Jawa menyebut buah-buahan yang di atas tanah sebagai “pala gumantung” sedang yang tertanam di dalam tanah (sebenarnya bukan buah tetapi umbi-umbian) sebagai pala kependhem). Jadi kalau dikatakan “susur gumantung” jawabannya tidak lari jauh-jauh dari buah-buahan: Rambutan.
 
 
DIPAKAI MEROKOK
 
Namanya juga tembakau, mestinya bisa dipakai merokok juga. Pernah terjadi seorang bapak yang perokok kehabisan rokok, mau beli sudah kemalaman. Kebetulan isterinya “nyusur” dan tidak keberatan kalau suaminya nempil sedikit untuk merokok. Bukannya si bapak tenggang-rasa sehingga minta “mbako susur” yang sudah beberapa kali diisap-jemur. “Mbako susur itu keras sekali. Daripada mabok, si bapak minta yang bekas kunyah-kulum saja.
 
Anak-anak kecil jaman dulu yang mau coba-coba merokok tentu kesulitan mencuri tembakau bapaknya. Yang paling mudah adalah mencuri susur neneknya. Kalau ketahuan sama saja dimarahinya: “Awas nanti saya suruh minum jamu dubang”. (dubang: ludah berwarna merah karena nginang dan nyusur)
 
 
INTERVENSI KE MAKANAN
 
Karena susur bisa diletakkan dimana-mana, jaman dulu banyak juga nenek-nenek lupa menaruh susurnya dimana. Salah satu filem lama almarhum Benyamin S kalau tidak salah juga ada yang menampilkan episod ini. Si nenek kehilangan susur, cari punya cari ternyata masuk ke dalam minuman Benyamin.
 
Yang namanya makanan, kemasukan rambut saja bisa membuat kita hilang selera. Pada jaman masih banyak wanita “nyusur” bukan barang aneh kalau “susur” mengkontaminasi makanan. Bisa tidak kelihatan, bisa kelihatan. Ada susur nyasar di jadah (juadah), ini mudah kelihatan. Tapi ada seorang bapak ngamuk waktu di warung makan gudheg karena ada susur di dalamnya. Kok awas betul beliau. Mungkin gumpalan susur.
 
 
PARIBASAN
 
Tidak begitu umum, kemungkinan bersifat lokal, tetapi dapat dipahami oleh orang yang mengerti bagaimana caranya orang nyusur”. Seorang anak minta uang kepada bapaknya, tetapi tidak dikasih, katanya: “Kowe ki kok kaya ora ngerti umete susur”.
 
Apakah yang dimaksud dengan “umete susur?” Kita kembali ke perilaku “nyusur” sebagai penutup “nginang”. “Susur” selain diisap-isap juga akan selalu digerak-gerakkan memutari mulut. “Susur” sebagai penutup “nginang” mendapat tugas membersihkan sisa-sisa kinang (kapur, jambe, pinang dan sirih). Jadi “Ora ngerti umete susur” maksudnya tidak mengerti situasi bagaimana susahnya orang mencari uang (kalau dikaitkan dengan minta uang).
 
 
PENUTUP
 
Susur sudah tidak begitu dikenal saat ini. Tetapi nama susur masih diabadikan di tempat lain. Kita kenal “tahu susur” yang maksudnya sama dengan tahu isi, tahu berontak, tahu bunting, tahu buntel dan mungkin masih banyak lagi.
 
Matur nuwun dumateng para kadang sutresna Nguri-uri Basa Jawa. Seratan radi panjang punika saking sumbangsih panjenengan sadaya.
 
Seorang teman pembela susur mengatakan: Karena orang “nyusur” sudah tidak ada lagi, maka tidak heran sekarang banyak orang yang suka “nyosor” dan “nyasar”. Wah, ya jangan gitu. Jadi orang mbok ya yang sabar. (IwMM)
 

1 comment:

rudeyz said...

Selamat siang salam bloger.

bapak ada buku tentang susur dan ke budayaan jawa ?

terimakasih

Recent Posts

POPULAR POST