Monday, December 3, 2012

WATAK, WATUK DAN WAHING: SULIT DIKENDALIKAN

Orang Jawa sampai saat ini masih suka berbicara dengan menggunakan “purwakanthi”. Contohnya adalah “Watak, watuk dan wahing” yang merupakan purwakanthi guru wanda (suku kata) “Wa”. Katanya, ketiga hal tersebut “ora bisa diowahi” (tidak bisa diubah).
 
 
WATAK:

Ada dua ungkapan Jawa yang mendukung pendapat bahwa “watak ora bisa diowahi”. Bahkan sampai mati pun tidak akan berubah. Yang dimaksud adalah watak  tidak baik. Watak yang baik sudah pasti jangan sampai “owah” (berubah) jadi buruk.

GAWAN BAYI: Kita sering mendengar perkataan dalam ucapan sehari-hari orang Jawa, untuk “ngrasani” seseorang yang kelakuannya tidak baik atau kurang baik. Misalnya suka nipu teman, tidak mengembalikan hutang, selalu bangun kesiangan, tidak tahu sopan santun, dll. “Lha wong sudah gawan bayi gitu mau diapakan”. Maksudnya, biar dinasihati seperti apapun ya tidak akan berubah karena dianggap sudah bawaan sejak lahir.

CIRI WANCI LELAI GINAWA MATI: Sebuah paribasan, dengan purwakanthi guru swara “I”. Bukan merupakan percakapan sehari-hari. Maksudnya sama dengan “gawan bayi” tetapi lebih banyak digunakan untuk orang-orang yang kelakuannya memang tidak baik. Sudah merupakan “ciri” yang dibawa sejak lahir dan akan dibawa sampai mati.


WATUK:

Batuk adalah refleks, akibat adanya sesuatu yang mengiritasi jalan napas kita. Diatur oleh syaraf otonom yang di luar kendali kita. Saya tulis dalam blog yang lain Batuk: Gejala penyakit yang banyak diabaikan. Jadi “watuk” memang tidak bisa diubah (maksudnya: ditahan).

Ada orang yang batuk maupun berupaya menahan batuk sampai terkencing-kencing bahkan terkentut-kentut. Ada teman ceritera, neneknya umur 80 tahun memakai pembalut wanita, bukan karena ia masih menstruasi melainkan karena sering batuk-batuk dan otot-otot sistem perkencingannya sudah terlalu lemah untuk menahan supaya tidak kelepasan kencing.
 
Karena watuk memang tidak bisa ditahan padahal batuk itu menjengkelkan baik bagi orang lain maupun diri sendiri, maka yang utama adalah bagaimana upaya kita supaya batuk kita tidak terlalu membuat risih orang lain, dengan kata lain pakailah “etika batuk”. Hampir 100 tahun yang lalu, tahun 1913, Ki Padmasusastra, Ngabehi Wirapustaka di Surakarta telah mengingatkan melalui bukunya “Serat Subasita”
 
“Tiyang watuk ing pakehan, tatakramanipun mengo mangiwa: Angingkemaken lambe, kejawi saged mayaraken watuk , boten katingal mangap-mangap, saru dinulu”.
 
Jadi batuk itu saru. Kita harus menyingkir, atau memalingkan wajah kalau berada bersama orang banyak (ing pakehan). Saat itu Ki Padmasusastra mungkin belum paham bahwa batuk juga dapat menularkan penyakit, utamanya TB Paru. Tetapi “mengo mangiwa” atau memalingkan wajah, adalah “etika batuk” yang tetap diterapkan sampai sekarang dan menjadi pedoman yang ditulis oleh WHO, CDC Atlanta dll.
 
 
WAHING
 
Wahing sama dengan batuk, merupakan reflek akibat adanya pengganggu yang mengiritasi saluran pernapasan teratas kita. Jaman dulu waktu masih SD di depan halaman sekolah selain banyak orang jualan makanan juga ada yang jual “obat wahing”, kalau kita hirup dengan hidung, dijamin pasti wahing. Rupanya wahing itu enak.
 
Dalam ilmu kesehatan kalau wahing didepan orang dan kita menderita penyakit saluran pernapasan, misalnya Flu, TB Paru juga tentunya, maka kita bisa menularkan penyakit kepada orang di dekat kita.
 
Etika wahing menjatu dengan etika batuk. Tentang wahing ini, dalam “Serat Subasita” Ki Padmasusastra menulis sedikit lebih banyak daripada batuk. Disebutkan sampai ke “umbel” (ingus) segala. Tetapi prinsipnya sama: memalingkan wajah. Kalau Ki Padmasusastra mengambil contoh bagaimana orang Belanda “sisi” (membuang ingus), mohon dimaklumi karena bukunya diterbitkan tahun 1913.
 
Tiyang wahing tatakramanipun mengo ngiwa, wêdaling swara kaaling-alingan èpèk-èpèk têngên, ingkang dipun kuwayani (kawekani) mênawi mêdal umbêlipun: saru, dene mênawi badhe sisi katadhahan ing kacu, swaranipun kaangkah-angkaha sampun ngênêk-ênêki, inggih kados manawi tiyang Walandi sisi, dipun gêtêrakên, punika pantês dipun tiru.
 
 
LIDING DONGENG
 
pitutur dan perilaku a la jawa
Huruf Jawa: Ora kena idu
Kita diperingatkan melalui “Watak, Watuk dan Wahing” yang katanya “ora bisa diowahi”. Karena telah diperingatkan, hendaknya kita “mulat sarira” introspeksi diri.
 
Setidaknya ada dua sanksi untuk watak yang tidak baik. Sanksi dari masyarakat: Kita tidak punya teman, dan sanksi hukum: Bisa masuk bui. Untuk watuk dan wahing, mbok ya yang punya tepa selira. Disamping tidak sopan juga bisa menularkan penyakit.
 
Batuk akan dilanjutkan dengan meludah, buang dahak. Perilaku buang dahak bangsa kita juga masih belum baik. Di negara lain bisa dikenakan sanksi “bayar denda” (IwMM)

1 comment:

mochtar said...

damn, I love it this content though we rarely use javanese language anymore...............
seem my javanese sense emerge again

Most Recent Post

POPULAR POST