Wednesday, November 28, 2012

MITUHU DAN MITAYANI

Dibandingkan dengan tulisan-tulisan terdahulu, barangkali ini pitutur terpendek untuk orang yang mau ngawula. hanya dua kata saja:  “Mituhu” dan “Mitayani”. Penjelasannya memang tidak sependek kata-katanya, demikian pula operasionalisasinya tidak segampang yang diucapkan. Tetapi sepertinya yang ini amat mudah diingat dan akhirnya kembali kepada yang “nglakoni”.
 
 
MITUHU

Sering kita dengar kata “Mituhu adalah “nurut”, dalam bahasa Jawa ngoko. Ketika kita masih jadi tanggungan orang tua, ya “nurut” pada nasehat ayah dan ibu. kalau di sekolah, ya taat pada nasihat guru. Banyak yang harus dituruti dari orang tua dan guru. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi. 
 Di jalan raya kita harus mengikuti peraturan lalulintas. Kalau naik motor ya harus pakai helm. Lampu merah tidak boleh dilanggar. Demikian pula di tempat-tempat umum harus menghormati hak orang lain. Ada larangan-larangan yang banyak dilanggar, misalnya larangan merokok. Banyak etika-etika yang dilanggar misalnya antri.
Ternyata banyak sekali aturan-aturan yang harus kita “tuhoni” atau taati secara hukum atau secara etis. Orang yang tidak taat disebut orang yang tidak disiplin. Ini semua memang tidak ada hubungannya dengan “ngawula” tetapi ketaatan di rumah, di sekolah, di jalan dan di tempat-tempat umum sebenarnya merupakan latihan untuk ngawula, sayangnya tidak pernah kita sadari.
Ceriteranya menjadi lain ketika kita berada di tempat kerja. “Taat kepada perintah atasan” adalah suatu keharusan, “It’s a must!”. Mana ada pimpinan yang suka dengan staf yang tidak “mituhu”. Bagi yang sudah terlatih untuk “disiplin” untuk mituhu tidaklah terlalu sulit. Masuk jam 07 pagi, pulang jam 16 sore, berpakaian rapi, menyelesaikan laporan tepat waktu, semua OK. Tinggal menambah dua hal lagi yaitu bekal sifat taberi (sregep, tekun) dan sabar. “Dhawuh”nya pimpinan bisa kapan saja dan tidak terduga. Yang tidak punya sifat sabar bisa protes (walau dalam hati saja) tetapi manifestasinya jadi mengerjakan dengan ogah-ogahan, selesai lebih lama dan hasil kerjanya tidak mutu. Banyak juga perintah yang istilah teman-teman dulu “tidak ada seger-segerannya”, sehingga kita kerja juga tidak seger dan klelar-kleler. Pimpinan pasti akan melihat kita sebagai orang yang tidak “mituhu” dan akan mencari orang lain yang lebih taat.
Mituhu dhawuhing gusti, atau taat kepada atasan adalah bukti bahwa kita “loyal”.
 
MITAYANI
Apakah dengan “mituhu” sudah cukup? Banyak orang yang amat “mituhu” tetapi kemampuannya pas-pasan sehingga kinerjanya juga tidak sempurna. Kalau tugasnya memang Cuma “cablek-cablek lemut” mungkin tidak terlalu menimbulkan masalah. Tetapi kalau ia harus melakukan hal-hal yang strategis, bisa gawat. Oleh sebab itu disamping kita “mituhu dhawuhing gusti” harus ditambah lagi satu hal yang tidak boleh terpisahkan yaitu “mitayani”.
“Mitayani” artinya “dapat dipercaya”. Dalam hal apa? Bahwa kita mampu melakukan tugas yang diberikan. Tidak hanya “mampu” dalam pengertian punya kompetensi yang cukup tetapi juga harus punya “komitmen” yang tinggi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Kompetensi adalah bekal ilmu kita, ibarat tongkat atau “teken” yang harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk melaksanakan tugas. Kompetensi diperoleh dengan belajar yang dilandasi ketekunan. (baca: tekun, teken, tekan). Kembalilah siklusnya ke “mituhu” karena supaya kita bisa menyerap ilmu dengan sebaik-baiknya, maka kita harus “mituhu” kepada yang memberikan ilmu kepada kita.

LIDING DONGENG
Dengan MITUHU + MITAYANI kita akan menjadi orang yang MRANTASI ing gawe. Orang yang bisa menyelesaikan masalah pasti “ngawula”nya diterima. Jangan kaget kalau kemudian tugasnya menjadi tambah banyak. Dengan KOMPETENSI + KOMITMEN kita akan menjadi orang yang KREDIBEL.
Terkait dengan 3M dan 3K ini, ada satu pertanyaan dari teman saya, Toni: “Mas, hanya orang pintar yang bisa mrantasi. Tapi sepertinya kebanyakan orang yang merasa pintar justru sulit untuk disuruh mituhu. Sebaliknya orang yang mituhu umumnya kemampuannya ya segitu. Kalau diberi tugas-tugas yang berat kan tidak mitayani. Jadi gimana solusinya?” (IwMM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST