Monday, November 26, 2012

CABLEK-CABLEK LEMUT DAN NJAGA LAWANG BUTULAN: ORANG YANG DIBERI PERAN KECIL

Dulu ada teman (bukan pegawai negeri) minta berhenti dari tempat  kerjanya. Padahal sepertinya ya sudah lumayan, sebagai pegawai yang baru bekerja beberapa tahun. Ketika saya tanya apa alasannya, dengan enteng ia menjawab: “Cari yang lebih menantang dan menjanjikan, mas. Habis paribasan cuma disuruh cablek-cablek lemut”.
 
Maksud teman saya dengan kata “Cablek-cablek lemut” (lemut: nyamuk) adalah “tidak diberi peran” atau kalau ada peran maka peran tersebut tidak berarti. Bukan seperti “Timun wungkuk jaga imbuh” yang dipakai sebagai tambah-tambah, misal ke pasar beli timun sepuluh dapat imbuh satu tetapi dikasih yang jelek, (dapat dibaca pada mentimun dalam ungkapan Jawa). Tetapi memang dia diberi peran kecil, paling tidak menurut pendapat dia sendiri.
 
“Kamu kan baru kerja dua tahun. Kalau taberi (rajin dan menurut) kan lama-lama dipercaya juga jadi kepala bagian”.
 
“Wah ya nggak tahu, mas. Jangan-jangan setelah cablek-cablek lemut lalu disuruh njaga lawang butulan. Kan kecut, mas”.
 
Istilah “jaga lawang butulan” (pintu belakang) sama maknanya dengan “cablek-cablek lemut”: Diberi peran kecil. Saya pikir teman saya ini cuma kurang sabar dan kurang nerima saja. Pada dasarnya ia memang orang yang tidak sabaran.
 
 
APAKAH PERUMPAMAANNYA YANG SALAH?

Peribahasa “cablek-cablek lemut” sudah lama sekali tidak saya dengar. Kebetulan sebulan setelah itu, saya mendapat penugasan ke Somalia sebagai konsultan (jaman perang saudara 1993). Salah satu perbekalan yang diberikan oleh Depkes adalah kelambu berinsektisida. Afrika memang daerah malaria. Saya jadi ingat ucapan teman saya tentang “cablek-cablek lemut”. 
Wah kalau gitu salah dong peribahasa warisan nenek moyang saya. Membunuh nyamuk justru tugas penting. Kalau orang yang tinggal di Jawa mengatakan malaria bukan masalah, itu kan sekarang. Dulu malaria juga masalah besar. Hari Kesehatan Nasional yang pertama 12 Nopember 1964 ditandai dengan penyemprotan malaria di Kalasan, DIY, oleh Bung Karno, Presiden RI waktu itu.
Sekarang pun malaria masih menjadi ancaman di dunia dan sebagian wilayah Indonesia terutama di kawasan timur. Di Jawa pun masih ada kantong-kantong Malaria dan habitatnya juga banyak. Dengan kemajuan transportasi, pergerakan dan perilaku manusia, bisa saja malaria “comeback”. Oleh sebab itu bersama AIDS dan Tuberkulosis, Malaria termasuk sasaran dalam goal ke 6 Millennium Development Goals tahun 2015.
Pembawa malaria adalah nyamuk Anopheles. Jadi “cablek-cablek lemut” ternyata penting. Demikian pula “njaga lawang butulan”, lebih-lebih pada jaman banyak maling seperti sekarang ini; bisa kecurian habis-habisan kalau pintu belakang rumah kita tidak aman.
 
YANG SALAH ORANGNYA
Dua perumpamaan di atas, adalah ungkapan tidak puas dari orang yang merasa tidak diberi peran semestinya. Yang memberi peran (dalam hal ini pimpinan) pasti tidak merasa demikian. Kalau kita melihat filem-filem silat, si calon jagoan kita pasti tidak langsung diajari ilmu bela diri. Bisa-bisa disuruh menimba air atau membelah kayu. Apakah ini "cablek-cablek lemut?"
Tiga tahun lalu secara tidak terduga saya bertemu dengan si tukang “cablek-cablek lemut”. Penampilannya tetap sederhana tetapi kelihatan kalau ia sudah menjadi pria sukses. Inilah yang dia katakan kepada saya:
“Semua harus diawali dari cablek-cablek lemut, mas. Belum tentu apa yang kita anggap sepele itu tidak ada artinya. Di tempat baru, saya kembali disuruh cablek-cablek lemut. Betul kata panjenengan, yang penting taberi. Rajin, menurut dan dapat dipercaya. Lama-lama saya dipercaya dan saya pertahankan supaya tetap dapat dipercaya.  Tapi lawang butulan juga harus dijaga, mas. Fitnah banyak. Jangan sampai lena. Bukankah yitna yuwana, lena kena?” (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST