Tuesday, November 13, 2012

GUGON TUHON, TIDAK SEKEDAR “ORA ILOK” (7): PERILAKU DUDUK

 
Melanjutkan tulisan: Gugon tuhon, tidak sekedar “ora ilok” (6): Perilaku minum, maka perilaku duduk kita pun juga banyak “wewaler”nya. Umumnya adalah mengenai bagaimana cara kita duduk dan apa yang kita gunakan sebagai alas duduk.
 
Di bawah adalah beberapa contoh perilaku yang menjadi larangan setidaknya pada jaman dulu, karena pada masa sekarang hal-hal tersebut sebagian besar  sudah tidak kita lakukan khususnya bagi yang bermukim di perkotaan
 
 
1. AJA LUNGGUH, NGADEG, ANDHODOK ANA TENGAH LAWANG MUNDHAK SIYAL OLEHE GOLEK BOJO
 
Sudah jelas bahwa pintu adalah tempat orang keluar masuk. Kalau kita duduk atau jongkok di tengah pintu akan menghambat keleluasaan orang yang lalu-lalang. Kaitannya dengan orang sial cari jodoh tentunya tidak ada. Hanya perlambang dan hukum timbal balik bahwa orang yang suka menghambat orang lain akan dapat balasan yang sama. Disini diberi ancaman susah jodoh. Tentunya orang tidak ingin mendapat kesulitan untuk yang satu ini. Takutlah dia jongkok di tengah pintu.
 
 
2. AJA ANDHODHOK SUWE-SUWE, BESUK MUNDHAK DOBOL SAGENTER
 
Jangan jongkok terlalu lama, karena kelak akan “dobol” (ambein, bawasir) panjangnya “sagenter” (genter: galah). Ambein sepanjang itu tentunya tidak mungkin terjadi. Tetapi jongkok terlalu lama memang meningkatkan tekanan dalam perut dan menghambat peredaran darah bagian bawah tubuh kita. merupakan faktor risiko terjadinya ambein. Dalam hal ini pesannya benar, risikonya pun benar, tetapi dilebih-lebihkan. Mengapa dilebih-lebihkan tentunya supaya orang takut. Duduk jongkok berlama-lama disamping berpengaruh terhadap kesehatan yang bersangkutan juga tidak sedap dipandang mata.
 
 
3. AJA LUNGGUH ANDHA, MUNDAK KEWIRANGAN
 
“Andha” adalah tangga yang biasa kita pakai untuk memanjat. Biasanya “andha” disandarkan di dinding, lalu anak tangganya kita duduki. Kalau kita tidak waspada terhadap posisi sandar dan tempat pijakan tangga bisa-bisa terjadi kecelakaan. Kalau hanya tangga yang jatuh masih untung. Kalau tangga menjatuhi sesuatu, bisa terjadi kerusakan terhadap barang yang kejatuhan. Yang paling apes kalau tangga jatuh menimpa kita. Berlakulah peribahasa “jatuh dihimpit tangga”. Apa tidak malu? Makanya dikatakan “kewirangan” yang artinya dipermalukan.
 
 
4. AJA SOK NGLINGGIHI KRAMBIL, IKU PRASASAT NGLINGGIHI ENDHASE WONG TUWA
 
“Krambil” atau kelapa memang bentuknya menyerupai kepala manusia. Disisi lain kelapa adalah bahan makanan dan orang Jawa umumnya menaruh hormat kepada bahan makanan. Duduk di atas kelapa disamakan dengan duduk di atas kepala orang tua yang berarti penghinaan. Selain itu kelapa mudah tergulir karena bentuknya yang bulat. Kalau diduduki kurang stabil.
 
 
5. AJA LUNGGUH LEMEK GODHONG GEDHANG, NEK LELUNGAN MUNDHAK KEPESING
 
Daun pisang banyak dipakai sebagai pembungkus atau alas makanan. Kalau kita pakai duduk berarti kita akan mengotori makanan yang akan dibungkus atau dialasi daun pisang tersebut. Demikian pula kalau yang kita duduki adalah daun pisang bekas pembungkus atau alas makanan. Bagian pantat pakaian kita yang akan kotor. Ancamannya: kalau bepergian akan kebelet berak atau terberak-berak (kepesing) di perjalanan.
 
 
6. AJA LUNGGUH TAMPAH, MUNDHAK DUWE LARA AYAN
 
Mengingat tampah adalah tempat menaruh makanan, maka kalau kita duduki berarti kurang hormat pada makanan. Ancamannya: akan sakit ayan.
 
 
7. AJA LUNGGUH LEMEK TEPAS, YEN ANA PASAR MUNDHAK DITARKA NGUTIL
 
“Tepas” adalah kipas yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya kita gunakan untuk mengipasi bara api supaya menyala. Berarti “tepas” banyak beroperasi di dapur. Kalau kita pakai alas duduk, kasihan yang kerja di dapur, mereka bisa kelabakan mencari alat yang amat diperlukan tersebut. Ancamannya: Kalau ke pasar akan didakwa mencopet (mengutil). Risikonya dipukuli massa.
 
 
8. AJA LUNGGUH LEMEK SAPU, MUNDHAK ORA ILOK
 
Sapu adalah alat pembersih lantai. Kotoran di lantai bisa macam-macam. Mulai sekedar debu, sisa makanan sampai barang busuk termasuk tahi. Kalau kita pakai duduk tentunya pantat kita akan ketempelan kotoran.
 
 
KESIMPULAN
 
Posisi duduk kita disamping menunjukkan tingkat kesantunan dan tepaselira kita pada orang lain juga berpengaruh terhadap kesehatan kita. Apa yang kita duduki bisa membahayakan kalau barangnya tidak stabil. Barang yang kita duduki bisa kita kotori maupun mengotori kita. satu hal lagi, tidak hanya makanan, tetapi tempat makanan pun perlu kita hormati. Semua dikemas dalam “wewaler” dengan ancaman yang bisa tidak masuk akal tapi membuat orang takut melanggar.  Dengan adanya ancaman yang didengar dan diikuti tanpa reserve maka jadilah “gugon tuhon” (IwMM)

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST