Sunday, November 11, 2012

GUGON TUHON, TIDAK SEKEDAR “ORA ILOK” (6): PERILAKU MINUM

Melanjutkan tulisan: Gugon tuhon, tidak sekedar “ora ilok” (5): Perilaku makan (B), maka perilaku minum kita pun juga tidak luput dari “wewaler” walaupun tidak sebanyak perilaku makan.  Di bawah adalah beberapa contoh perilaku bagaimana seharusnya kita minum setidaknya pada jaman dulu, karena pada masa sekarang kita memang sudah tidak banyak melakukan dengan cara tersebut.

 
 
1. YEN NENGAH-NENGAHI MADHANG AJA SOK NGOMBE
 
Siapapun kalau ditengah-tengah makan merasa tersekat (Jawa: kesereten) ya harus minum. Maksud orang-orang tua dulu adalah: Orang yang makan sampai tersekat menunjukkan kita tergesa-gesa. Belum lembut dikunyah sudah keburu ditelan. Kelanjutan dari  tersekat sering diikuti kecegukan yang kalau apes tidak mau segera berhenti. Orang yang melihat bisa punya perasaan campur aduk antara jijik, kasihan dan ingin tertawa. Larangan minum di tengah makan menyiratkan dua pesan:

a.    Dalam mengerjakan sesuatu kita tidak boleh tergesa-gesa. Contoh disini adalah “makan” dengan indikator ketergesa-gesaan yaitu “minum” ditengah makan.

b.    Mencegah supaya kita tidak berperilaku “murang tata” yang menjijikkan. Dalam hal ini indikatornya adalah “cegukan” akibat makan tergesa-gesa

 
2. AJA NGOMBE NGANGGO IRUS, MUNDHAK ORA ILOK

“Irus” semacam sendok agak besar bergagang panjang, dulu terbuat dari tempurung kelapa, bergagang bambu. Digunakan sebagai alat penciduk dan pengaduk saat memasak makanan. Kalau “irus” kita gunakan untuk alat minum, tentunya terjadi kontaminasi dari ludah kita ke irus tersebut. Kalau toh kemudian dicuci bersih, kesan orang yang melihat tetap menjijikkan. Perilaku ini kaitannya dengan etika.
 
 
3. AJA SOK NUCUP BANYU KENDHI, MUNDHAK ORA ILOK
 
Leher dan mulut “kendi” sering ditempati semut atau binatang kecil lainnya. Kalau langsung kita “cucup” khawatirnya binatang-binatang tersebut yang "ndilalah" pas kebetulan ada di situ, ikut tertelan. Seandainya air kendi kita tuang dulu sedikit ke tanah, baru kita “cucup” mulutnya, memang merupakan tindakan hati-hati tetapi tetap tidak benar karena tidak etis dan tidak higienis. Kotoran dan mungkin bibit penyakit yang ada di mulut kita melalui "cucupan" ke mulut kendi, pasti akan mencemari air dalam kendi. Padahal air didalam kendi disdiakan untuk minum beberapa orang.
 
 
4. AJA SOK ANGLONGGA (ANGGOGOK) BANYU KENDHI, MUNDHAK ORA ILOK
 
Sama dengan angka 3 di atas. Bedanya yang di atas mulut kita menempel ke mulut kendi, sedangkan yang ini ada jarak antara mulut kendi dan mulut kita. Minum dengan cara ini sama halnya dengan menuang air ke ember. Baiknya disini tidak terjadi kontaminasi. Buruknya ada di tatakrama. Jelek sekali dilihat orang. Bayangkan saja kepala kita mendongak ke atas, mulut terbuka lebar, mungkin mata kita membelalak, lalu dituang air dari atas. Bunyi mulut yang celegukan menelan air juga tidak nyaman di telinga orang. Kemudian akan ada sisa air yang terciprat ke dagu dan pipi kita, kita usap dengan tangan. Wah, orang semakin jijik sama kita. Kalau mau minum air kendi ya baiknya pakai gelas atau cangkir.
 
 
KESIMPULAN
 
Dalam hal minum tidak terlalu banyak masalah. Umumnya kita minum tidak bersama-sama orang lain, menggunakan cangkir atau gelas. Dua hal yang perlu diperhatikan adalah: Etika dan Kontaminasi. Jaga sopan santun dan jangan mencemari air minum. Banyak sekali penyakit yang ditularkan melalui air, dan banyak bibit penyakit yang hidup di air. (IwMM)

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST