Saturday, November 10, 2012

GUGON TUHON, TIDAK SEKEDAR “ORA ILOK” (5): PERILAKU MAKAN (B)

Melanjutkan tulisan: Gugon tuhon, tidak sekedar “ora ilok” (4): Perilaku makan (A), maka dalam perilaku makan (B) tentang apa yang kita makan, keadaannya menjadi lebih rumit. Disini kita akan lebih banyak mendapatkan “gugon tuhon” yang sulit dicerna akal dan memang tidak masuk akal, kecuali dalam bahasa perlambang. Beberapa contoh di bawah dapat dijadikan acuan.

 
 
1. AJA SOK SARAPAN SEGA WADHANG, MUNDHAK PETENG ATINE
 
“Sega wadhang” adalah nasi sisa tadi malam. Orang Jawa jaman dulu mengatakan “hawa sega wadhang amat dingin”. Kalau kita pagi-pagi sarapan “sega wadhang” kemudian berangkat kerja atau sekolah, maka hawa dingin akan bertentangan dengan panas siang hari. Badan kita akan meriang, panas dingin. Otak menjadi tumpul, malas kerja.
 
Bagaimanapun yang satu ini masih masuk akal. Nasi yang sudah menginap semalaman, tidak hanya keras dan dingin tetapi juga berpeluang tercemar bibit penyakit lebih-lebih bila tempat menyimpannya tidak aman, dapat dimasuki serangga pembawa penyakit, misalnya kecoak.
 
Bukannya kita tidak boleh makan sega wadhang. Sepanjang disimpan baik-baik dan sebelum dimakan dipanasi lebih dahulu sesuai aturan pemanasan, tentunya aman. Hanya kalau kita tidak bisa menjamin keamanannya, lebih baik tidak usah dimakan.
 
 
2. AJA SOK MANGAN IWAK TELAMPIK, MUNDHAK DITAMPIK JAKA UTAWA PRAWAN
 
“Telampik” adalah sayap unggas yang bisa digunakan untuk memukul (ngabruk, nladhung) musuh-musuhnya. Kata “Telampik” berasal dari kata dasar “Tampik” (tolak) dengan sisipan “el”.  Analoginya sekaligus perlambang, kalau makan sayap ayam (telampik, chicken wings) nanti saatnya cari jodoh akan ditampik (ditolak). Tidak hanya ditampik saat cari jodoh, tetapi akan ditolak untuk semua yang urusannya menggunakan prosedur lamaran. Mencari kerja, mengirim artikel ke koran atau majalah, dll. Benar apa tidak, sumangga.
 
 
3. AJA SOK MANGAN BRUTU, MUNDHAK KEDHUWUNG BURI. LUWIH BECIK MANGANA ENDHAS UTAWA CAKAR BAE. KAREBEN BISA CUCUK-CUCUK UTAWA CEKER-CEKER
 
Yang ini juga hanya bisa dipahami dengan bahasa perlambang. Brutu (bagian ekor ayam, chicken ass) rasanya paling gurih, didukung dagingnya yang lunak dengan tulang amat kecil. Sementara kepala dan ceker ayam tulangnya besar dagingnya pun sedikit. Otak ayam memang enak, tetapi kita harus memecah tulang kepala lebih dahulu sebelum menyantapnya.
 
Bahasa perlambang disini adalah: sesuai peribahasa “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” maka anak muda yang makan brutu ibarat “bersenang-senang dahulu”. Seterusnya bisa menyesal seandainya di belakang hari yang terjadi adalah “bersakit-sakit kemudian”. Yang diperlukan sekarang ini adalah: Ceker (kaki ayam) untuk mencari makanan dan paruh (yang ada di kepala ayam) untuk mematuk makanan.
 
 
4. AJA MANGAN IWAK ATI, MUNDHAK SEBEL ING SAMUBARANG
 
Hati ayam, sebenarnya termasuk juga alat dalam (jeroan) yang lain seperti usus dan jantung, termasuk yang tidak boleh dimakan. Yang jelas “jeroan” itu enak, lunak dan tidak bertulang. Orang Barat pada umumnya tidak makan “jeroan”. Orang Maluku Utara tahun 1980an awal juga tidak suka jeroan, sehingga teman-teman Jawa yang mau bikin nasi tim untuk balitanya kesulitan cari hati ayam, kecuali ada orang menyembelih ayam, kita minta jeroannya sebelum keburu dibuang. Yang jelas “jeroan” kholesterolnya tinggi.
 
 
5. AJA SOK ANGGANYANG KRAMBIL, MUNDHAK KREMINEN
 
Parutan kelapa memang menyerupai “cacing keremi” tetapi tidak ada keterkaitan sama sekali antara makan daging kelapa dengan penyakit kecacingan khususnya “kereminen”. Walau demikian kelapa yang sudah siap di dapur untuk dijadikan bumbu masak, misalnya santan, janganlah kita pindah ke mulut. Kelapa yang jadi bumbu akan berkurang dan pada gilirannya sedap dan gurihnya makanan pun akan berkurang
 
 
6. AJA SOK LALAP NGANGGO LOMBOK ABANG, MUNDHAK ORA DUWE SEDULUR
 
Lombok merah, maksudnya lombok yang besar umumnya digunakan untuk membuat sambal, bukan untuk “diceplus” sebagai lalap waktu kita menyantap tahu bacem atau tempe. Entah apa sebabnya lombok besar tidak kita pakai sebagai lalap. Apa barangkali ada “wewaler” (larangan) bahwa kalau lalap lombok merah akan tidak punya teman? Reasoningnya tidak ada. Yang berlaku umum adalah lombok rawit untuk lalap dan lombok merah termasuk juga lombok hijau untuk sambal. Orang yang mengeremus lombok merah untuk lalap akan dianggap nyentrik. Kalau tidak percaya silakan coba di depan umum.
 
 
7.  NEK ISIH BOCAH DHEMEN MANGAN INTIP, BESUK TUWANE SUGIH SANDHANGAN
 
Bedakan dengan intip goreng atau intip yang dikrawu dengan kelapa parut karena yang dua ini masuk katagori “nyamikan” (penganan). “Intip” yang dimaksud disini adalah kerak nasi dari hasil kita menanak nasi dengan cara diliwet. Jelas keras dan liat, jadi mengunyahnya harus lebih telaten. Kalau mau lunak ya direndam dulu dengan kuah sayuran, misalnya lodeh.
 
Keterkaitan antara suka makan intip dengan kelak punya banyak baju jelas tidak ada. Tetapi nilai ketelatenan dari orang yang makan intip bila diikuti dengan ketelatenan dalam melakukan sesuatu, misalnya sekolah, bekerja, menabung dan sebagainya tentunya akan berbuah: mampu beli baju banyak.
 
 
8. YEN MANGAN SEMANGKA, NANGKA SABRANG (SIRSAT), SAWO LAN SANESIPUN INGKANG MAWI ISI ALIT-ALIT: BANGSANIPUN KECIK, AJA NGANTI KATUT ISINE, MUNDHAK THUKUL ANA NGEMBUN-EMBUNAN
 
Biji buah-buahan apa saja yang tertelan jelas tidak akan bersemi dalam tubuh kemudian tumbuh dan nongol di jidat kita. Biji-biji itu tidak tercerna tetapi akan keluar bersama kotoran waktu kita buang air besar. Kalau perut banyak kemasukan barang keras yang tidak bisa dicerna,  bisa saja terjadi gangguan pencernaan. Nasihatnya benar, tetapi alasannya tidak masuk akal. Untuk menakut-nakuti anak memang cespleng, sehingga anak-anak  hati-hati kalau makan buah-buahan yang berbiji, daripada di kepalanya tumbuh pohon.
 
 
9. AJA NGEMUT KECIK, MENGKO NEK KOLU MUNDHAK THUKUL ANA NGEMBUN-EMBUNAN
 
Hampir sama dengan angka 8 di atas. Bedanya yang satu kita sedang makan buah dan yang ini kita memang mengulum biji buah tanpa makan buah. “Kecik” adalah biji sawo kecik. Jaman dulu dipakai anak-anak untuk main dakon atau adu kecik. Sering dengan sadar atau tanpa sadar biji sawo ini mereka kulum seperti permen, dengan  risiko tertelan. Tidak ada masalah dengan biji yang tertelan, tidak akan tumbuh di dahi kita. Yang jelas, biji buah yang sudah dijadikan alat bermain dan pindah-pindah tangan tentunya kotor. Mengulum barang kotor sama dengan mendekatkan penyakit. Jadi nasihatnya benar tetapi penjelasannya harus diluruskan.
 
 
KESIMPULAN
 
Terkait dengan makanan yang kita makan maka gugon tuhon lebih banyak yang tidak masuk akal. Larangan untuk tidak makan sesuatu harus kita cermati baik-baik. Misalnya larangan makan sesuatu yang bergizi dan ditujukan kepada anak-anak yang masih tumbuh kembang dan ibu hamil. Kalau kita ragu, tanyakan kepada ahlinya.  Diantara larangan tersebut ada yang masuk akal dan benar, tetapi penjelasannya yang mengada-ada.  Hal ini perlu diluruskan supaya tidak terjadi salah terima (IwMM).

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST