Tuesday, October 2, 2012

EMPAT CACAT BESAR MENURUT SERAT WULANGREH: MADAT, NGABOTOHAN, DURJANA DAN ATI SUDAGAR AWON

 

Melalui pupuh Wirangrong, Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV banyak memberikan pitutur berupa “wewaler” (larangan) kepada kita semua.

Salah satunya adalah empat cacat besar yang sangat jelek dan  harus kita jauhi (ana cacad agung malih; anglangkungi saking awon; apan sakawan iku kehipun).

Yaitu: Wong madati (pecandu opium), Wong ngabotohan (berjudi), Wong durjana (penjahat, maling) dan wong ati sudagar awon (mempunyai hati seperti pedagang yang tidak baik) seperti dapat di lihat pada bait ke 10 dan 11 pada gambar di bawah dan bait ke 12-22 di bawah pada pembahasan selanjutnya

Wulangreh, Wirangrong bait ke 10-11
1. WONG MADATI
 
 Intinya orang madat itu pemalas, tidak mau kerja, rusak jasmani dan rohaninya, kemudian matinya pun sengsara, jadi tontonan orang banyak, tetapi tidak ada yang kapok. Oleh sebab itu jauhilah perilaku madat ini.  Ceriteranya terdapat pada pupuh Wirangrong bait ke 18 sd 21 di bawah dan penjelasannya dapat dibaca pada posting Serat Wulangreh: Jangan madat.

Wulangreh, Wirangrong, bait ke 18-21
 2. WONG NGABOTOHAN

Wulangreh, Wirangrong, bait ke 15-17

Seorang yang suka “ngabotohan” (berjudi), apakah dengan cara main kartu, adu ayam, judi buntut dan lain-lain, umumnya malas bekerja (sabarang pakaryan emoh), suka bertengkar atau “sulaya” (parapadu). Kalau modalnya habis (pawitan enting), dia mencari jalan yang gampang yaitu dengan mengambil milik orang lain (tan wurung nggegampang; ya marang darbeking sanak). Demikian disebutkan pada bait ke 15.
 
Selanjutnya  bait ke 16 menyebutkan: Bahkan warisan nenek moyang (wasiyating kaki) akan dia jual. Kalau menang ia amat angkuh, seperti bupati, gampang memberi tanpa perhitungan (weweh tan ngarah-arah).
 
Terakhir pada bait ke 17 disebutkan: Bila butuh maka dia akan mencuri (kabutuh pisan memaling). Kelakuannya ditengarai semakin jelek, karena (apan) tidak ada baiknya (penedipun). Oleh sebab itu kita semua supaya menjauhi kebiasaan berjudi.


3.  WONG DURJANA

Wulangreh, Wirangrong, bait ke 14

Pengertian umum durjana menurut Poerwadarminta, 1939 adalah "wong ala" (maling). Dalam bait ke 14 pupuh Wirangrong disebutkan: Demikian pula orang  durjana, tidak ada hal lain yang dia pikirkan siang maupun malam kecuali menghitung milik orang lain. Watak durjana ini termasuk watak tidak baik. Lengkapnya bait ke 14 dapat dilihat pada gambar di samping.


4. WONG ATI SUDAGAR AWON


Wulangreh, Wirangrong, bait ke 11-13


“Sudagar” (saudagar) adalah pedagang. Sudah barang tentu yang namanya pedagang ya mencari keuntungan. Ada saudagar yang baik, ada pula yang jelek. Orang yang mempunyai hati seperti "sudagar awon" digambarkan pada bait ke 11 sd 13 pada gambar di samping.

Penjelasannya sebagai berikut:

11. Karena suka kekayaan (mapan suka sugih) maka ia mempunyai watak siang malam menghitung keuntungan (ing rina lan wengi mung bathine den etang), tidak mau ada yang kurang (alumuh lamun kuranga).
 
12. Misalnya punya uang tujuh karung (iku umpamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor) hatinya tetap tidak puas (mapan nora marem ing tyasipun). Demikian pula kehilangan uang satu dhuwit menyesalnya empat tahun seperti kehilangan uang sepuluh ribu (saleksa).
 
13. Orang seperti ini, tidak peduli (tamboh) dengan semua masalah. Hanya kepada orang yang datang membawa sesuatu (anggegawa) atau menggadaikan sesuatu (gegadhen), serta-merta (tumranggal) wajahnya menjadi berseri-seri (ulate teka sumringah)


PENUTUP


Menutup penjelasan tentang “cacad agung” yang “sakawan iku kehipun”, Sri Pakubuwana IV pada bait ke 22 di samping menekankan bahwa Itu semua tidak baik. Jangan ada yang berani melakukan empat hal tersebut. Semuanya supaya mengingat, jangan ada yang berani melanggar; Siapa yang melanggar tidak akan selamat. (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST