Friday, September 14, 2012

GUGON TUHON DAN “SIRIKAN” (PANTANGAN) WANITA HAMIL

Definisi  “gugon tuhon” adalah mengikuti pendapat atau nasihat dengan patuh, sesuai arti kata Gugu: menurut/mengikuti pendapat/nasihat dan Tuhu: Setia/taat. Setidaknya ada tiga kelompok  gugon tuhon yaitu yang bersifat “wewaler” atau pantangan, yang mengandung pitutur tetapi reasoningnya tidak dijelaskan, dan yang pesan maupun alasannya tidak jelas. Rumus gugon tuhon adalah: “Jangan ....... nanti ........” . (dapat dibaca pada posting berjudul “Gugon Tuhon”)

Hamil adalah peristiwa penting bagi bangsa kita termasuk orang Jawa. Oleh sebab itu ada selamatan-selamatan termasuk “mitoni” atau selamatan tujuh bulan kehamilan. Disamping selamatan, wanita hamil juga juga mempunyai pantangan macam-macam. Ada banyak “Jangan ..... nanti ..... “ bagi wanita hamil bahkan juga bagi suaminya. Pantangan tersebut menjadi semacam “gugon tuhon” yang turun temurun, diikuti tanpa menanyakan “Why”. Sebagian ada yang bisa dianalisis alasan dan manfaatnya, sebagian tidak masuk akal.

Dulu, wanita hamil khususnya hamil pertama dan masih punya orang tua, begitu lapor hamil akan mendapat kuliah mengenai “sirikan-sirikan” yang harus dia jalani. Karena wanita hamil pada umumnya masih muda usia, dan yang menasihati sudah tua, maka sebagai tanda bekti kepada orang tua, tidak ada kata lain kecuali “ngestokaken dhawuh”: Siap, kerjakan. Padahal pantangannya banyak sekali.


CONTOH “SIRIKAN” WANITA HAMIL

Di bawah adalah beberapa pantangan yang bisa saya inventarisir. Ada yang masuk akal, ada yang tidak bisa dinalar. Mangga di analisis sendiri, mengapa ada pesan demikian kepada wanita hamil (termasuk suaminya)

  1. Menertawakan (geli melihat) orang yang memiliki kelainan atau agak lain dari yang lain (misalnya juling, pincang, gigi tonggos, dll) nanti menurun pada anaknya
  2. Tidak boleh memaki/mengumpati orang
  3. Makan dan mandi malam hari, nanti anaknya mudah sawanen
  4. Tidak boleh memasukkan kayu bakar ke perapian dengan ujungnya dahulu (nyungsang). Nanti anaknya lahir sungsang. (catatan: jaman dulu orang masih masak pakai kayu bakar)
  5. Makan jantung pisang (nanti anaknya makin lama makin kecil). Makan ikan lele (nanti kepala bayi besar dan susah keluar). Makan pisang dempet (nanti anak lahir kembar dan dempet). Demikian pula makan udang dan kepiting juga dilarang. Untuk buah-buahan maka mangga kweni dan durian adalah pantangan.
  6. Menutup/menyumbat lubang/liang
  7. Membunuh binatang dan menginjak kotoran binatang (misalnya kotoran sapi/kerbau dan ayam)
  8. Kalau di jalan melihat contong atau pincuk (tempat menaruh makanan dari daun dan masih ada lidinya supaya lidi tersebut di lepas.
Tentunya masih banyak lagi pantangan-pantangan bagi orang hamil, utamanya tentang perilaku sehari-hari dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi. Demikian pula pantangan tiap daerah ada yang sama ada yang beda.


BISA MENYUSAHKAN

Kita bisa direpotkan dengan pilihan antara “ya dan tidak” untuk mengikuti pantangan tersebut. Contohnya:

  1. Kalau melihat contong atau pincuk dibuang dan masih ada lidinya supaya dilepas. Jaman dulu contong dan pincuk masih menjadi pembungkus utama makanan. Kalau kita sedang jalan kemudian melihat barang itu, apa ya berhenti sejenak untuk melepas lidinya? Apalagi kalau kita tergesa-gesa, misalnya berangkat kerja. Demikian pula orang yang tidak ngerti kalau lihat ada laki-laki menghentikan langkah sekedar untuk melepas lidi dari pincuk yang tergeletak di jalan, apa tidak tertawa dan mengira kita orang tidak waras?

  1. Jaman dulu tugas utama wanita ada di dapur. Pada jaman dulu umumnya kita piara ayam dan dibiarkan berkeliaran kemana-mana. Dapur termasuk tempat strategis untuk didatangi ayam berikut kotorannya. Kan jadi semakin susah karena risiko menginjak kotoran ayam amat besar.

  1. Tiap hari kita berurusan dengan lubang. Orang yang melaksanakan dengan konsekwen akan bingung dengan definisi lubang apa yang tidak boleh ditutup, karena risikonya (sesuai gugon tuhon) anak lahir jadi sulit sebab pintu jalan lahir akan tertutup.  Botol kecap apa tidak boleh ditutup? Tetapi mengapa waktu menanak nasi dandangnya boleh ditutup? Habis menguras bak mandi mau mengisi ulang dengan air bisa-bisa jadi urung karena harus menyumbat lubang pelepasan airnya dulu.

Di atas adalah contoh ekstrim yang membuat wanita hamil (berikut suaminya) harus menimbang-nimbang. Mau diikuti kok repot, tetapi kalau tidak diikuti jangan-jangan ........

MAKSUD SEBENARNYA BAIK

Tidak ada orang tua bermaksud jelek. Semua pantangan di atas pada dasarnya demi ibu dan jabang bayi yang akan dilahirkan. Ibu sehat dan Bayi lahir sehat tanpa cacat.

  1. Ada peribahasa Kacang ora ninggal lanjaran dan ora ana banyu mili mendhuwur. Artinya kuranglebih anak akan mengikuti sifat orang tuanya. Oleh sebab itu orang tua berpesan supaya saat wanita hamil, maka suami isteri harus berperilaku baik lahir dan batin. Misalnya sesuai contoh diatas: Tidak menertawakan kesengsaraan orang, tidak memaki orang dan tidak membunuh binatang. Dikhawatirkan perilaku tidak baik kedua orang tua selama anak dalam kandungan, akan menurun pada anaknya.

  1. Ada nasihat yang berupa perlambang. Misalnya kalau kita menutup lubang maka jalan lahir akan tertutup. Makan jantung pisang, anak akan semakin mengecil seperti perjalanan jantung pisang. Makan pisang dempet, akan melahirkan anak kembar siam. Masalah gizi amat penting bagi wanita hamil. Jangan sampai wanita hamil kurang gizi. Diikuti juga tidak terlalu masalah. Pisang yang tidak dempet masih banyak, demikian pula ikan yang bukan lele lebih banyak lagi. Durian dan mangga kweni kalau tidak tahan bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Wanita hamil sebaiknya jangan sakit perut. Buah-buahan lain juga masih banyak.

  1. Tidak boleh menginjak kotoran binatang jelas maksudnya baik. Banyak bibit penyakit pada kotoran binatang domestik di rumah kita. Sapi, kerbau, anjing, kucing, ayam. Bibit penyakit tersebut bisa mengganggu kesehatan ibu yang sedang hamil tersebut, bahkan bisa pula mengganggu kesehatan janin yang dikandung. Risikonya bisa abortus bisa lahir cacat. Misalnya Toksoplasmosis.

PENUTUP: WONG JAWA PANGGONANE SEMU

Gugon tuhon tidak sekedar “waton ora ilok”. Memang ada yang samasekali tidak masuk akal. Untuk yang seperti ini, marilah kita tinggalkan. Tetapi banyak gugun tuhon yang kalau di analisis ada benarnya. Sesuai dengan ungkapan “Wong Jawa panggonane semu” maka marilah kita sibak “semu” yang tersembunyi. Yang baik kita ambil sebagai warisan leluhur yang perlu diuri-uri, yang tidak baik kita tinggalkan karena sudah tidak sesuai jaman, demi kesehatan ibu dan janin dalam kandungannya (IwMM).

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST