Sunday, September 16, 2012

MRANGKANI KUDHI DAN MANAJEMEN STAKEHOLDERS

“Kudhi” adalah senjata semacam golok khas Banyumas. Ciri khususnya adalah bagian perut yang membulat. Kegunaannya serbaguna. Silakan coba, mulai dari membelah, menghaluskan, mencungkil, memukul, semua bisa. Menurut Poerwadarminta, 1939, Kudhi dikatakan sebagai semacam sabit yang bagian tengahnya membulat. Dalam dunia pewayangan, maka “kudhi” adalah senjata yang dibawa oleh Bagong. Dalam bayang-bayang silhouette dengan sedikit imajinasi, maka tampak samping bayang-bayang wanita hamil adalah seperti “kudhi”
 
Tanpa gambar, bagi yang tidak kenal “kudhi: tetap akan sulit membayangkannya. Melalui tulisan ini saya  mohon ijin memasang gambar kudhi dari tulisan FILOSOFI KUDHI:  Senjata Khas Banyumas dari Wong Ndeso Blog.  isinya bagus. Membaca itu, kita akan paham filosofi “Kudhi” bagi rakyat Banyumas.
 
“Mrangkani” adalah memberi rangka atau sarung. Melihat bentuk “kudhi” yang seperti gambar sebelah tentunya tidak segampang itu membuatkan sarung untuk “kudhi”. Terkait dengan “mrangkani kudhi” sebagai peribahasa, maka “kudhi” diibaratkan sebagai manusia yang harus kita “manage” sehingga ia mendukung kegiatan kita. Dalam bahasa manajemen sehari-hari proses “manajemen stakeholders”, demikian pula “negosiasi” boleh disamakan dengan “mrangkani kudhi”.

Melihat bentuk "kudhi" seperti pada gambar sebelah, tentunya untuk "mrangkani kudhi" tidak semudah "mrangkani keris".


MRANGKANI KUDHI
 
“Wrangka” adalah sarung (khususnya senjata) “Mrangkani” adalah memberi sarung. Dalam bahasa kiasan “mrangkani” ditujukan untuk “momong” orang lain. Padmasukaca, Sarine Basa Jawa, 1967, menjelaskan arti “mrangkani kudhi” adalah bisa “momong orang yang sulit”. Sedangkan Padmasusastra, dalam Serat Madubasa, 1912 menyebutkan bahwa orang yang bisa “mrangkani kudhi” adalah orang pandai yang mampu “momong” dalam hal bicara dengan orang lain. Tidak harus momong pimpinan. “Mrangkani kudhi” juga disebut dalam nasihat kancil kepada Srenggi dalam Serat Kancil Kridhamartana, karya R Panji Natarata.
 
Ki Padmasusastra, dalam Serat Madubasa, 1912 memberi tips sebagai “entry” untuk “mrangkani kudhi, beberapa contohnya antara lain:

  1. Dengan Pengrajin: Harus bisa bicara tentang benda-benda kerajinan yang bagus dan yang jelek, yang pantas dipuji dan pantas dikritik
  2. Dengan Petani: Harus bisa bicara mengenai tanah yang subur dan tidak subur, tanaman yang cocok untuk tanah dan musim tertentu, perubahan cuaca, dll.
  3. Dengan pedagang: Harus tahu komoditas yang menguntungkan dan maju mundurnya perdagangan
  4. Dengan penegak hukum: harus bisa membahas tentang susahnya menyidik suatu perkara
  5. Dengan wanita: Harus mengerti tatasusila.
Intinya adalah komunikasi, dengan mencoba gali melalui sudut pandang mereka, bukan dari pandangan pribadi kita. Jadi untuk bisa "mrangkani kudi" maka orang harus bisa "tepa selira", mampu menempatkan diri kita dalam posisi mereka.

 
MANAJEMEN STAKEHOLDERS
 
Secara umum “stakeholders” adalah individu atau kelompok yang berkepentingan dengan hasil kerja kita. Hal ini bukan barang mudah karena yang harus kita kelola adalah manusia, bukan sebuah sistem yang dalam kendali kita. Stakeholders bisa mendukung kalau melihat hasil kerja kita akan menguntungkan mereka.  bisa sebaliknya, malah menentang kalau yang kita lakukan mengancam eksistensi mereka. Bisa juga acuh alias tidak peduli kalau merasa tidak ada hubungan dengan mereka. Padahal ternyata ada. Dia bisa menentang atau mendukung.
 
Tujuan kita adalah membuat yang tidak peduli dan menentang, pada akhirnya mendukung apa yang kita lakukan. Dengan demikian lancarlah jalan kita mulai proses sampai selesai. Tidak ada masalah sekarang maupun di kemudian hari. Caranya adalah komunikasi. Tetapi sebelum komunikasi. Kita identifikasi dulu siapa saja para stakeholders itu, karakternya bagaimana, kebutuhan dan harapan mereka seperti apa,  lalu kita rencanakan strateginya bagaimana, setelah itu barulah kita melakukan komunikasi dua arah. Dituntut kemampuan advokasi dan komunikasi yang baik.
 
 
KESIMPULAN
 
“Mrangkani kudhi” adalah peribahasa Jawa yang sudah cukup lama uesianya. R Panji Natarata konon hidup pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana yang ke V, VI dan VII. Tulisan Ki Padmasusastra pada tahun 1912 intinya adalah bagaimana bicara dengan orang lain supaya mendukung kita. Saya mengenal teori stakeholders kira-kira tahun 1990 awal. Pengertiannya hampir sama, bagaimana mengelola orang. Tujuannya kira-kira juga sama: “win win solution”. Intinya, "mrangkani kudhi" adalah memberi sarung pisau. Dalam hal ini kita siap bernegosiasi dengan orang sulit maupun berdiplomasi dengan orang keras.
 
Ada satu lagi peribahasa dengan “kudhi” yaitu “kudhi pacul singa landhepa”. Dua-duanya benda tajam, kok diadu. Ya tinggal mana yang lebih cerdas yang akan menang. Tapi ini menjadi “win lose solution”. Ada satu pihak yang dipecundangi. Mengapa harus ada yang kalah, kalau kita ingin menghasilkan sesuatu yang berdampak jangka panjang, yaitu  "menang tanpa ngasorake"
 
Terakhir, mengapa nenek moyang kita memilih “kudhi” dan bukan senjata lain sebagai tuladha untuk “diwrangkani”. Kira-kira terkait dengan kegunaannya yang “multipurpose” dan bentuknya yang lain daripada yang lain. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST