Wednesday, April 11, 2012

SUBASITA JAWA (7): MENJAGA PANCA INDRA


 
Pancaindera adalah Penglihatan (mata), pendengaran (telinga), Pengecap (lidah), Penciuman (hidung) dan perasaan (perabaan). Yang ditulis oleh Ki Padmasusastra dalam Serat Subasita, 1914 adalah empat hal yang tersebut pertama, sedang yang terakhir “perasa” yang umum kita kenal sebagai rasa “raba” diganti rasa “hati”.

PENGLIHATAN

Kalau berbicara dengan wanita supaya membersihkan diri dari pikiran kotor, anggap saja bicara dengan sesama pria. Mata adalah jendela jiwa. Jadi hati-hati bicara dengan wanita. Melirik adalah pantangan besar karena melirik dianggap sebagai cerminan hasrat tidak baik yang tersembunyi dan dipancarkan melalui perilaku tidak sopan dari mata.

PENDENGARAN

Bila ada orang berbicara rahasia, jangan tergelitik untuk ikut mendengarkan. Jangan dengarkan atau kalau kita masih terangsang untuk mendengar, lebih baik menyingkir. Sesuai dengan peribahasa ana catur mungkur

PENGECAP

Kalau mendapat suguhan makanan atau kue jangan terlalu lahap tetapi juga jangan kelihatan enggan. Terlalu lahap sepertinya menunjukkan kita ini orang rakus. Apalagi sudah ikut makan masih bawa pulang. Tindakan nucuk ngiberake ini memalukan. Makan terlalu sedikit juga tidak sopan. Masih lebih baik bila tidak ambil samasekali. Tapi jangan sampai kita mencela bahwa makanannya tidak enak.

PENCIUMAN

Penciuman disini terkait dengan bau badan. Menarik bahwa pada tahun 1914 Ki Padmasusastra sudah menjelaskan bahwa menggunakan wewangian termasuk tatakrama. Bahkan sudah menjelaskan tentang bedanya parfum pria dan parfum wanita. Disebutkan bahwa pria menggunakan pendel enz dan wanita menggunakan melati enz. Maksudnya supaya orang tahu sebelum melihat: Yang datang pria atau wanita. Barangkali pengaruh Belanda.

PERASAAN HATI

Memelihara perasaan orang yang kita datangi adalah amat penting. Perasaan hati adalah yang paling penting dalam memelihara hubungan silaturahmi kita dengan sesama manusia. Satu catatan yang perlu diperhatikan kalau kita bertamu, bagaimanapun gayengnya jangan sampai tuan rumah bosan lebih dahulu. Lebih baik kita pamit sebelum tuan rumah merasa cukup. Hal ini tidak merugikan kedua belah pihak, justru mengawetkan tali persaudaraan.

CATATAN

Dalam berhubungan dengan sesama manusia, kita memang harus menggunakan pancaindera secara optimal sesuai norma kemasyarakatan yang berlaku. Ki Padmasusastra tidak memasukkan indera perabaan dan mengganti dengan perasaan hati karena perabaan memang hanya kita gunakan satu kali maksimum dua kali yaitu saat bersalaman ketemu dan bersalaman berpisah (IwMM).

Sambungan dari: Subasita Jawa (6): Bicara

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST