Monday, April 2, 2012

SUBASITA JAWA (1): MENGANTUK DAN MENGUAP


Mengantuk dan menguap adalah penyakit harian yang pasti kita alami dimana saja dan kapan saja. Bila abad 21 kita sebut sebagai abad rapat dan seminar maka di tempat itu lah akan kita jumpai orang mengantuk, menguap bahkan tidur. Karena abad 21 juga abad informatika maka foto orang ngantuk apalagi kalau yang ngantuk itu orang penting cepat sekali beredar kemana-mana.

Manusia setampan atau secantik apapun kalau sedang menguap tampak jelek sekali. Cobalah sekali-sekali kalau sedang mengikuti pertemuan minta ke salah satu teman untuk memotret kalau kebetulan kita menguap. Wah, kita akan terkagum-kagum sendiri melihat wajah kita. Tetapi sepertinya penyakit mengantuk termasuk penyakit yang tidak bisa dicegah.

MENGANTUK

Menurut “subasita” Jawa mengantuk saat hadir dalam “pasamuwan” (pertemuan) dikatakan “saru”. Kalau kita kehilangan kemampuan komunikasi dalam pertemuan karena ngantuk sebaiknya pulang saja, tidur! Lebih celaka lagi kalau dalam pertemuan kita tak pernah lepas dari kantuk, tetapi tatkala hidangan keluar kantuk pun hilang. Kita makan, bahkan dalam porsi besar seolah mata dan mulut berdiri sendiri-sendiri. Selesai makan, kantuk hilang diganti tidur. Kenapa kita tidak kasihan kepada diri kita sendiri?

MENGUAP

Dalam bahasa Jawa menguap disebut “Angob”. Menguap terkait erat dengan kantuk. Tidak ada kuap tanpa kantuk demikian pula tidak ada kantuk tanpa kuap. Menguap juga merupakan perilaku tidak sadar orang yang bosan.

Oleh sebab itu kalau kita sedang menerima tamu baik di rumah maupun di kantor jangan sekali-sekali menguap. Hal ini sama saja mengusir secara halus. Tentu saja yang bisa merasakan hanya tamu yang “tanggap ing sasmita” dari bahasa tubuh tuan rumah. Bila kita sebagai tuan rumah merasa akan “angob” carilah trik supaya tidak ketahuan tamu kita. Apakah berdiri, pura-pura mengambil sesuatu di tempat lain atau cara lain yang pas.

Tamu juga jangan sampai menguap di depan tuan rumah. Orang Jawa mengatakan “degsura” atau kurang ajar.

CATATAN

Sumber tulisan ini adalah “Serat Subasita” karangan Ki Padmasusastra, Ngabehi Wirapustaka di Surakarta, tahun 1914, hampir 100 tahun yang lalu. Apakah jaman memang sudah berubah sehingga pada abad 21 ini banyak orang tidak malu “angob” dan “ngantuk” di muka umum? Termasuk melihat wajah jelek kita kalau sedang “angob?” Sumangga (IwMM)

Dilanjutkan ke: Subasita Jawa (2): Perilaku Jari dan Tangan

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST