Monday, September 9, 2013

NASIB DAN PERILAKU WANITA DALAM PARIBASAN JAWA

Tidak hanya laki-laki seperti pada tulisan sebelum ini: Perilaku Laki-laki Dalam Paribasan Jawa, maka cukup banyak juga paribasan Jawa tentang wanita. Di bawah adalah beberapa contoh, khususnya perilaku dan nasib yang kurang baik. Perlu diingat dan dimaklumi bahwa paribasan ini usianya sudah cukup lama. Isu “pemberdayaan perempuan” pada masa itu belum ada.
 
 
A.  BERGANTUNG LAKI-LAKI
 
1. WONG WADON IKU SWARGA NUNUT NRAKA KATUT
 
Wanita itu senang atau susah nasibnya bergantung suaminya. Suami jadi pejabat ikut mukti, suami jadi penjahat dan ditangkap aparat ikut menderita. Jaman sekarang nasib wanita yang seperti ini sudah banyak berkurang karena sudah amat banyak wanita berpendidikan tinggi dan mempunyai penghasilan sendiri yang tinggi pula.
 
2. WONG WADON COWEK GOPEL
 
Derajat wanita diibaratkan Cowek (Cobek) yang Gopel (Retak dan sebagian pecah), tidak ada harganya samasekali. Cowek yang gopel mau dipakai masih bisa, mau dibuang dan ganti yang lain tidak masalah. Terserah laki-laki. Tentunya di era “kesetaraan gender” sekarang ini hal tersebut sudah amat berkurang.
 
3. GONDHELAN KOLOR KATHOK
 
Pada masa itu yang kathoknya (celana) pakai kolor hanya laki-laki; Luarnya akan ditutup dengan bebed (kain panjang untuk laki-laki). Wanita diibaratkan hanya bisa gondhelan kolor kathok, dengan pengertian wanita hanya bisa menurut pada suaminya.
 
Dulu mayoritas wanita nasibnya seperti ini. Walau demikian, laki-laki yang kalah sama isterinya juga ada. Dapat dibaca pada tulisan sebelum ini (Perilaku Laki-laki Dalam Paribasan Jawa).
 
4. GLUNDHUNG SEMPRONG
 
Wanita yang sejak awal hidup berkeluarga tidak membawa apa-apa. Jadi pokoknya glundhung semprong ikut saja sama suami. Wanita seperti ini posisi tawarnya (bargaining position) rendah. Sebaliknya laki-laki yang sejak awal berkeluarga tidak membawa apa-apa, pokoknya ikut isteri (yang barangkali kaya) disebut sebagai GLUNDHUNG SULING. Mengapa yang satu sejmprong sedang satunya suling, sumangga.
 
 
B. ORANG TUA PUN KURANG MENGHARGAI
 
Dulu bahkan orang tua pun ada yang menganggap anak perempuannya tidak terlalu berharga.
 
1. NITIPAKE DAGING SAEREP
 
Menitipkan daging sepotong. Diucapkan orangtua yang menyerahkan anak perempuannya kepada calon besan atau calon menantu.
 
2. NUMPANG SAJI
 
Ini perilaku orang tua yang nakal. Sudah menerima uang tukon (semacam mas kawin) dari laki-laki yang melamar anak perempuannya, tetapi anak perempuan tersebut dinikahkan dengan laki-laki lain yang juga sudah memberi uang. Jadi si bapak menerima uang dua kali.
 
 
C. TUGASNYA BERANAK
 
1. LENGKAK-LENGKOK ORA WURUNG NGUMBAH POPOK
 
Wanita yang berbelit-belit masih enggan punya suami, lama-lama terpaksa juga menikah dan akhirnya punya anak yang digambarkan dengan: ngumbah (mencuci) popok bayi.
 
2. JUMAMBAK MANAK JUMEBENG METENG
 
Gambaran wanita yang tiap tahun (sering) beranak. Pada saat rambut anaknya sudah bisa dijambak (ditarik dengan tangan), ia melahirkan (manak). Sebelum itu pada saat rambut anaknya (bayinya) baru dapat dijebeng (sebelum bisa dijambak, hanya bisa dipegang tapi belum bisa ditarik), si ibu hamil (meteng).


D. WARISAN

Warisan  untuk wanita bagiannya tidak sebanyak laki-laki. Kita kenal paribasan SAPIKUL SAGENDHONGAN. Laki-laki dapat satu pikul yang berarti dua bagian dan wanita dapat satu gendongan yang berarti satu bagian (memikul: dua wadhah; menggendong: satu wadah).


E. YANG TIDAK LAKU

Gadis kenes tetapi tidak laku karena tidak ada laki laki yang mau melamar. Dalam paribasan Jawa disebut dengan: GAMBRET SINGGANG MRAKATAK ORA ANA SING NGENENI.

Keterangan
Singgang: Tumbuhan padi yang muncul setelah sawah dipanen; Gambret: Singgang generasi kedua (gambretnya gambret). Ya siapa yang mau memanen (ngeneni) tumbuhan yang seperti ini. Mutunya pasti tidak baik.


E. PESOLEK YANG TIDAK EMPAN PAPAN

Wanita yang mengenakan perhiasan serba gemebyar dan menempuh jalan yang berbahaya (ada begal/rampok) digambarkan sebagai KUTUK NGGENDHONG KEMIRI. Ikan kutuk (ikan gabus) yang membawa buah kemiri.

F. WANITA NAKAL

Wanita yang mau memberikan kehormatannya kepada sebarang laki-laki (wanita nakal) disebut dengan KENDHO TAPIHE (Kendho: kendhor; Tapih: kain panjang yang dipakai wanita. Adapun wanita nakal (WTS) yang sudah sadar dan menghentikan perilakunya disebut LENDHI MAHAS. Lendhi: pelacuran; Mahas: pergi.

Guyonan dari seorang teman, ia mengatakan: Sekarang tidak ada lagi wanita nakal. Lho koq bisa gitu? Iya karena sekarang jarang kita temukan wanita pakai tapih.


LIDING DONGENG

Contoh paribasan di atas banyak mengemas kisah jaman dulu. Jaman sudah berubah. Satu contoh lagi pada masa sekarang apakah masih ada laki-laki Jawa yang menyebut isterinya sebagai “kanca wingking?” (wingking = belakang; badhe dateng wingking = mau ke kamar kecil).

Sebenarnya kata “kanca wingking” bukannya tidak menghormati wanita. Bagian “wingking” (belakang) sebenarnya adalah bagian yang rahasia. Dalam keluarga, siapa lagi tempat kita berbagi untuk hal-hal yang rahasia kalau bukan isteri kita sendir? (Iwan MM)
 
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST