Thursday, September 12, 2013

HUBUNGAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM PARIBASAN JAWA

Melanjutkan dua tulisan terdahulu: Perilaku laki-laki dalam paribasan Jawa dan Nasib dan perilaku wanita dalam paribasan Jawa, maka pada tulisan ke tiga ini kita coba membahas bagaimana hubungan antara keduanya, yang dapat dipirsani pada beberapa contoh di bawah.
 
 
A. KENAL, PISAH DAN KUMPUL A LA KERBAU
 
1. TEPUNG KEBO
 
Digunakan untuk dua orang (laki-laki dan perempuan yang baru berkenalan tetapi belum tahu namanya. Mengapa yang digunakan kok “kerbau” dan bukan “sapi” sulit menjelaskannya. Teman saya Mas Parmo yang saat itu sedang tidak serius, mengatakan: Barangkali kerbau amat bodoh dan lamban, sehingga saat berkenalan lupa tanya nama. Mungkin perlu belajar dari lagu Juwita Malam: Tulislah nama, alamat serta, esok lusa boleh kita jumpa pula”
 
2. PISAH KEBO
 
Gambaran Suami Isteri yang sudah berpisah tetapi belum cerai. Menjelaskannya sama sulitnya: Mengapa kerbau bukan yang lain? Barangkali ini juga gambaran rakyat jaman dulu yang masih banyak dilanda kebutaan termasuk buta hukum, termasuk hukum agama: bahwa perceraian harus sisahkan secara hukum.
 
3. KUMPUL KEBO
 
Sepertinya istilah yang satu ini barang baru karena tidak pernah disebut-sebut dalam tulisan seabad yang lalu. Istilah kumpul kebo menggambarkan laki-laki dan perempuan tinggal serumah, melakukan hubungan suami isteri di luar nikah. Berarti melanggar norma dan hukum agama.
 
 
B. TERLALU DEKAT: BISA BAHAYA
 
1. KUCING SANDHING DHENDHENG
 
Laki-laki diibaratkan kucing dan wanita digambarkan sebagai dendeng. Kucing pasti suka dendeng dan akan berupaya memakannya. Maksud peribahasa ini kalau pria dan wanita terlalu berdekatan berpeluang untuk terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (ditinjau dari norma kesusilaan dan agama).
 
2. DUK SANDHING GENI
 
Duk: Ijuk; Geni: Api. Ijuk kalau dekat api risiko terbakar tentunya besar. Maksud peribahasa ini sama dengan “kucing sandhing dhendheng” di atas.
 
 
C. TIDAK JADI ATAU MENUNDA NIKAH
 
Mau nikah terpaksa tidak jadi (atau ditunda) karena saudara tua yang akan menikah ada yang belum menikah. Mau melangkahi, tidak berani. Dalam paribasan Jawa disebut CENGKIR KETINDHIHAN KIRING (Cengkir: buah kelapa yang masih amat muda; Kiring: buah kelapa yang sudah amat tua dan kering).
 
Sebenarnya dalam adat Jawa langkah melangkahi dalam pernikahan adalah hal biasa. Yang penting sebagai saudara muda kita minta ijin, dan secara adat sebelum acara “siraman” dimulai, dilakukan acara “langkahan” terlebih dahulu.
 
 
D. BEBERAPA ISTILAH TENTANG MANTU
 
Di luar rangkaian acara pernikahan dalam adat Jawa yang cukup panjang dan penuh perlambang, istilah orang mantu pun juga banyak, seperti contoh di bawah:
 
1. BALUNG TINUMPUK
 
Sering kita dibikin bingung kalau ada undangan resepsi pernikahan, pengantinnya dua pasang. Kadonya satu-satu atau jadi satu? Dalam ungkapan Jawa, menikahkan dua anak barengan dalam satu hari disebut “balung tinumpuk”. (balung: tulang; tinumpuk: ditumpuk).
 
2. MANTU MBATA RUBUH
 
Tumpukan bata kalau roboh pasti banyak dan suaranya heboh. Mantu mbata rubuh digunakan untuk menggambarkan orang mantu sekaligus lebih dari satu orang dinikahkan barengan. Balung tinumpuk termasuk mantu mbata rubuh, kalau tiga dimantu barengan, inilah yang mbata rubuh beneran.
 
3. MANTU MBANYU MILI
 
Mantu yang diibaratkan air mengalir. Menggambarkan orang yang tiap tahun mantu. Tentunya ini kisah jaman dulu dimana umumnya orang punya banyak anak. Setelah anak-anak dewasa maka manunya pun lumintu.
 
4. TUMPLAK PONJEN
 
Mantu yang terakhir. Tumplak: menumpahkan; Ponjen: kantong wadah jamu. Menggambarkan bahwa upacara mantu itu butuh biaya banyak. Diibaratkan semua uang yang di kantong ditumpahkan habis untuk membiayainya.
 
5. NGLUMAHAKE NGUREBAKE
 
Pengertian harfiahnya: menelentangkan dan menelungkupkan. Maksudnya dua pasutri yang saling berbesanan dua kali: Yang satu anak perempuan, satunya lagi anak laki-laki.
 
 
LIDING DONGENG
 
Hubungan laki-laki dan perempuan yang cukup dekat dan bukan saudara, bisa saja diawali dengan tepung kebo, dan supaya tidak menjadi kucing sandhing dhendheng seharusnyalah diselesaikan dengan pernikahan yang sah sesuai dengan hukum agama. (Iwan MM)

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST