Thursday, March 28, 2013

MALING DALAM PARIBASAN JAWA

Ternyata cukup banyak juga paribasan Jawa yang menggunakan kata “Maling”. Bisa jadi di Jawa jaman dulu banyak maling. Menurut Kamus Poerwadarminta, maling adalah durjana yang melakukan perbuatannya pada malam hari (Durjana: Orang jahat).
 
Dalam paribasan termasuk bebasan, maka urusan permalingan ini tidak harus mencuri barang pada malam hari, tetapi juga bisa mengandung makna kiasan.
 
Sementara dalam dunia pedhalangan kalau ada lakon dengan kata “Maling”, misalnya "Irawan maling"  maka biasanya yang dimaling adalah putri, dan putrinya "mau"
 
Di bawah adalah contoh-contoh paribasan yang ada kata “maling”nya.
 
 
MALING AGUNA:
 
“Guna” adalah kepandaian. Jadi pengertian maling aguna adalah durjana yang amat lihay dalam melakukan tindak kejahatannya. Tentusaja maling ayam tidak bisa disebut sebagai “maling aguna”. Dalam dunia pedhalangan, misalnya ada yang berhasil mencuri Jimat/Layang Kalimasada (ajimatnya Prabu Yudistira) maka pencuri ini disebut maling aguna.  Yang jelas “maling aguna” ini sulit ketahuan, kalau ketahuan sulit ditangkap dan kalau ditangkap umumnya lepas, dan kalau lepas bablas.
 
MALING AREP
 
Pengertian arep adalah “mau”. Dalam dasanama bahasa Jawa, arep disebut juga “gelem”. Ada pengertian lain, dalam hal ini. “Arep mangan” adalah orang yang belum makan dan akan makan. Sedangkan yang ini adalah arep yang “mau” dalam pengertian “gelem”. Pengertian “Maling arep” dalam hal ini adalah orang yang kalau pinjam sesuatu tidak dikembalikan, malah diaku miliknya. Atau orang yang menghilangkan barang pinjaman (padahal tidak hilang) dan tidak mau mengembalikan. Perilaku seperti ini bukannya sedikit dan tidak hanya kapling orang dewasa. Anak-anak pun ada yang berperilaku “maling arep” ini.
 
MALING KEBUNAN
 
“Bun” adalah embun. Arti harfiahnya menjadi maling kena embun. Arti kiasannya tidak sulit dipahami. Embun tentunya hanya ada di pagi hari dan pasti di luar rumah. Maka pengertian “maling kebunan” disini adalah maling yang melakukan pekerjaannya pada dini hari dan tidak masuk rumah, cukup di pelataran saja. Lalu apa yang dicuri kalau tidak masuk rumah? Dia tidak mencuri tetapi menipu. Jaman dulu orang Jawa pagi-pagi buta sudah di halaman rumah. Ada saja yang dikerjakan, antara lain membersihkan halaman dan merawat tanaman. Orang-orang seperti ini lah biasanya yang menjadi korban “maling kebunan”.
 
MALING SADU
 
“Sadu” adalah perilaku utama. Pengertiannya adalah orang jahat yang perilaku kesehariannya seperti orang baik. Gampangnya: Orang yang kelihatannya sopan tetapi nakal. Orang seperti ini biasanya membuat kita lengah. Oleh sebab itu kita harus selalu waspada, sesuai dengan pesan dalam peribahasa: Yitna yuwana lena kena. Peribahasa yang searah dengan “maling sadu” adalah “musang berbulu ayam”. Hati-hati, jangan sampai Yuwana mati lena.
 
MALING SANDI:
 
Pengertian “Sandi” adalah tersamar. Maling sandi adalah orang yang melakukan perbuatan jahat secara tersamar, atau tidak kentara. Ada banyak cara untuk menyamarkan kejahatan. Antara lain seperti yang telah disebut di atas: Maling sadhu dan maling kebunan.
 
MALING SAKUTHU
 
“Sakuthu” sama dengan “sekutu”. Dalam hal ini malingnya punya komplotan. Komplotan dalam “maling sakuthu” adalah tetangga yang dimalingi.
 
MALING TIMPUH
 
Timpuh adalah “duduk” dengan kaki bersimpuh.  Bagaimana orang duduk bisa jadi maling? Inilah salah satu kepandaian orang Jawa memberi istilah. Pengertiannya memang orang yang tidak usah bergerak tetapi bisa mencuri. Merupakan perbuatan yang amat tercela dan dilarang keras oleh agama. Penjual yang mengakali timbangan adalah “maling timpuh”. Demikian juga tukang emas yang mengurangi berat emas yang dia garap/perbaiki.
 
MALING TOTOS
 
“Totos” adalah boss yang ditakuti. “Maling totos” adalah bossnya maling. Sering disebut juga dengan “gegedhug” atau “benggol”
 
MALING NEBU SAUYUN
 
“Tebu sauyun” adalah serumpun tebu. Pengertian “Maling nebu sauyun” adalah orang atau keluarga yang tinggal serumah, kelakuannya tidak baik semua (copet, penipu, maling, perampok, dll).
 
MALING ATMA
 
“Atma” adalah jiwa. Jadi yang dimaksud dengan “maling atma” adalah pencuri yang melakukan tindakan pembunuhan.
 
MALING SAMUN
 
“Samun” adalah samar dalam pengertian “tidak jelas atau kabur”. Ada perbedaan dengan “sandi”. Kalau dalam “sandi” orang tersamar dalam tindakannya,  maka dalam “samun” yang samar adalah manusianya sendiri. Contoh sederhana dari “maling samun” adalah kalau saya menemukan barang berharga di jalan kemudian saya simpan dan tidak saya laporkan kepada yang berwajib, maka saya termasuk “maling samun”.
 
LIDING DONGENG
 
Kata “maling” tidak selalu berarti “durjana” walaupun pada umumnya demikian. Kira kenal kata MALING DHENDHENG, MALING RARAS dan MALING RETNA yang punya arti sama yaitu pencuri hati/asmara.
 
Demikian pula “maling” tidak harus disebut “maling”. Yang disebut GENTHO TLESOR adalah pengembara yang sambil jalan sambil mencuri. Kalau selamat, tujuan sampai dengan biaya dari mencuri (tlesor, tlengsor: pengembara). Dan ... siapa yang tidak kenal kalimat KUCING ENDHASE IRENG (Iwan MM).
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST