Tuesday, January 8, 2013

SERAT RAMA DAN ASTA BRATA (11): BATHARA BARUNA

Dalam tulisan Serat Wulangreh: Den ajembar, dem amot lawan den mengku, dapat dibaca bahwa manusia perlu meneladani sifat samodera yang mampu dan mampu menampung semuanya baik sampah maupun bukan sekaligus menyimpan harta karun yang tak ternilai besarnya. Demikian pula dikatakan oleh Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, pupuh Pocung bait ke 12 sebagai berikut:
 
12. dèn ajêmbar dèn amot lawan dèn mêngku | dèn pindha sagara | tyase ngêmot ala bêcik | mapan ana pêpancène sowang-sowang ||
 
Pengertiannya kurang lebih sebagai berikut: JEMBAR adalah luas. Di dunia ini yang paling luas adalah samodera. AMOT sama dengan MOMOT yaitu memuat tapi tidak sekedar memuat, harus memuat dengan aman. Dewasa ini yang banyak terjadi adalah “ora amot nanging tetep dimomot”. Kalau yang dimaksud kendaraan, maka yang terjadi adalah rawan celaka. Tulisan ini adalah lanjutan dari Serat Rama dan Asta Brata (10): Bathara Kuwera
 
 
BATHARA BARUNA: SAISINING RAT KAWENGKU
 
Penguasa “samodera” adalah Bathara Baruna yang dalam Serat Rama anggitan Yasadipura I tertera pada pupuh Pangkur bait ke 33 dan 34.
 
Dikatakan pada bait ke 33 bahwa Bathara Baruna menguasai semua ilmu (guna-guna kagunan kabeh ginelung), mampu mengikat semua yang ada di jagad ini (angapusa isining rat). Bathara Baruna mau dan mampu menampung semuanya, bukannya tanpa dilandasi kewaspadaan. Kewaspadaan Bathara Baruna amat tinggi (putus wiweka kaeksi). Merujuk ke Serat Wedhatama: Den awas, den emut, den memet yen arsa momot, maka kemampuan MOMOT Bathara Baruna dilandasi AWAS, EMUT dan MEMET.
 
Selanjutnya ditegaskan lagi pada bait ke 34 bahwa Bathara Baruna mampu memuat apa saja di dalam jagad ini (saisining rat kawengku) tanpa ragu-ragu (tempuhing sarana datan kegah-keguh). Semua ditampung, yang baik maupun yang buruk (kesthi kang ala arja).

Lengkapnya bait ke 33 dan 34 sebagai berikut:
 
LIDING DONGENG
Dalam Asta Brata kita kenal Laku Hambeging Samodra atau Laku Hambeging Baruna. Seorang pemimpin harus memahami dan meneladani sifat sifat samodra khususnya dalam hal daya tampung yang tinggi terhadap apa saja yang dikirim dari daratan. Kiriman dari daratan tidak selamanya enak dan mengenakkan.
Pemimpin harus mampu menampung semuanya baik “good news” maupun “bad news”. Aspirasi masyarakat bisa bermacam-macam, gejolak di masyarakat juga bisa beraneka-ragam baik jenis maupun kadarnya. Seorang pemimpin harus mampu mengatasi, harus mampu mengambil keputusan dengan bijak.
Kata kuncinya adalah SAISINING RAT KAWENGKU, KESTHI KANG ALA ARJA menurut bait ke 34 pupuh Pangkur dalam Serat Rama, dengan dilandasi JEMBAR, AMOT dan MOMOT, tanpa meninggalkan AWAS, EMUT dan MEMET sesuai pesan dalam Serat Wulangreh dan Serat Wedhatama di atas (IwMM).

Dilanjutkan ke Serat Rama dan Asta Brata (12): Bathara Brama

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST