Monday, December 24, 2012

SERAT RAMA DAN ASTA BRATA (4): WAJIBING RAJA AGAWE TULADAN BECIK

Melanjutkan  Serat Rama dan Asta Brata (3): Memimpin Harus “Krama Tuhu” dan “Aja Atinggal sarat” Dikisahkan pada bait ke 13 dan 14 pupuh Pangkur, bahwa seluruh aparat dan “wong cilik” dengan anak istrinya tidak ada yang ketinggalan, semua bangkit untuk menjadi baik (milu tangi nedya ayu). Dua baris terakhir bait ke 14 menutup dengan kata-kata:  marmane wajibing raja agawe tuladan bêcik (oleh sebab itu kewajiban raja adalah memberikan keteladanan). Lengkapnya bait ke 13 dan 14 sebagai berikut:

 
Jadi “keteladanan” adalah kata kuncinya, karena pemimpin adalah panutan.
 
 
PEMIMPIN: YEKTI TINIRU SAJAGAD MUNGGUH ING REH ALA BECIK
 
Pemimpin adalah panutan. Kelakuannya, yang baik maupun yang buruk (ing reh ala becik), akan ditiru seluruh rakyatnya (yekti tiniru sajagad). Yang baik akan ditiru baik, yang buruk akan ditiru buruk (ala ya tiniru ala yèn abêcik pêsthi tiniru bêcik). Demikian disebutkan pada bait ke 15 dan 16 pupuh Pangkur sebagai berikut:

 
 Semua mengikuti kelakuan pimpinannya, bahkan akan lebih seru, seperti dikatakan dalam peribahasa Indonesia: Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Bila kita merujuk kepada ucapak Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” maka posisi kalimat pertama: “ing ngarsa sung tuladha” ini penting sekali.
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Menjadi panutan itu sulit. Baris ke 5 bait ke 16 di atas mengisaratkan untuk meneladani 8 dewa (lawan sira elinga bathara wolu), yaitu Bathara Endra, Bathara Surya, Bathara Bayu, Bathara Kuwera, Bathara Baruna, Bathara Yama, Bathara Candra dan Bathara Brama.yang dapat dibaca  pada bait ke 17 dan 18 sebagai berikut:

 
 
Delapan sifat dewa tersebut yang kemudian kita kenal  dengan sebutan  Asta Brata (istilah ini tidak disebut dalam Serat Rama) harus dimiliki semuanya kalau ingin menjadi pemimpin yang sesungguhnya (sayêkti ing narapati).
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST