Sunday, October 14, 2012

SEMBADA WIRATAMA

Harjuna: Anteng, Meneng, Jatmika
 
Beberapa hari yang lalu saya ketemu seorang teman yang kebetulan membaca tulisan saya, Anteng, meneng, jatmika. Komentarnya bagus sekali. Maksud saya bukan tulisan saya yang bagus tetapi komentar dia yang bagus, paling tidak menurut pandangan saya. Demikian yang dia katakan:
 
“Mas, orang yang “anteng” berarti gerakannya tidak ribut seperti buta Cakil. Kemudian orang “meneng” pasti tidak banyak bicara, dia omong seperlunya seperti Yudistira. Lalu “jatmika” adalah tindak-tanduk yang “trapsila”, sesuai norma-norma kesusilaan. Gabungan ketiganya akan memancarkan kewibawaan dan kharisma yang menimbulkan daya tarik. Kalau ia pemimpin pasti dicintai rakyat. Kalau ia laki-laki barangkali bisa dikejar-kejar perempuan. Betul gitu ya, mas”.
 
“Seratus plus bonus sepuluh, nilaimu”, jawab saya.
 
“Iya, mas itu pendahuluannya. Anteng, meneng dan jatmika, kan merupakan sikap yang diharapkan untuk orang Jawa. Hanya sikap ya, mas. Lalu tindakannya mana?”
 
“Wah hebat kamu, dik. Memang harus ada lanjutannya. Orang yang yang sudah menguasai ilmu, orang yang bukan tong kosong, umumnya punya SIKAP anteng meneng dan jatmika, tetapi dalam sepak-terjangnya ia  SEMBADA dan WIRATAMA”.
 
 
SEMBADA
 
Kalau ada orang mengatakan: “Uwong kok ora sembada karo omongane” atau mungkin juga: “Gayane kaya iya-iya-a nanging ora sembada”. Kira-kira maksudnya yang pertama orangnya “kakehan gludhug kurang udan” alias omdo, omong doang, ketika ditagih berdalih, dan yang satunya lagi lebih-kurangnya orang pelit. penampilan aksi tetapi tidak mau kontribusi. Jadi secara sederhana yang dimaksud dengan “sembada” adalah perbuatan yang sesuai dengan penampilan dan omongannya. Orang yang “sembada” pasti tidak akan banyak omong tetapi tindakannya menyelesaikan masalah.
 
 
WIRATAMA
 
Wiratama atau Wirotama dengan mudah dapat dipahami dari sudut bahasanya. “Wira” menunjukkan kegagah-beranian dan “Tama” berarti “utama”, yang tertinggi, yang terbaik. Wiratama boleh diartikan yang paling gagah berani. Tentunya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Wiratama dan Sembada adalah dwitunggal. Tidak ada orang yang wiratama tanpa bekal sembada. Demikian pula tidak ada orang sembada yang tidak wiratama.
 
 
KESIMPULAN
 
Teman saya manggut-manggut. “Kalau gitu mas,  saya pegang Harjuna untuk ksatria yang anteng, meneng, jatmika, sembada dan wiratama. Kelihatannya saja klelar-kleler. Ketika ketemu Buta Cakil mula-mula sepertinya ia juga enggan melawan. Ketika kesabarannya habis, Cakil yang tidak anteng, tidak meneng dan tidak jatmika tetapi berlagak wiratama ternyata tidak sembada. Ia mati oleh kerisnya sendiri. (IwMM)
 
Harjuna: Sembada Wiratama

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST