Tuesday, October 16, 2012

GOROH GROWAH

Gerhana Bulan: "Rembulannya Growah"

Sebuah peribahasa dengan purwakanthi: "Goroh Growah".  
 
“Goroh” adalah bohong atau dusta, sedangkan “growah” agak sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Maksudnya adalah sesuatu yang tadinya utuh kemudian gempal. Contoh sederhananya  orang Jawa mengatakan bulan yang sedang mengalami gerhana adalah “mbulane growah”.
 
Adapun arti peribahasa “Goroh – Growah” yaitu “Orang yang berbohong pada saatnya pasti akan mengalami kerugian besar”. Jadi tidak perlu lah kita berbohong. Kerugian akibat berbohong bisa macam-macam.

Beberapa contoh misalnya:
 
1.    Ketahuan kalau “goroh” pasti akan menanggung malu, kecuali memang orangnya “rai gedheg” alias tidak punya malu.
2.    Harus selalu simpan energi, siap taktik untuk menutupi “goroh”nya. Satu kali orang berbohong maka ia harus selalu mengingat kebohongan apa yang ia lakukan. Suatu saat ia harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan pertamanya. Demikian seterusnya sampai akhirnya ketahuan karena ia sudah kehabisan akal, bisa juga lupa karena sudah terlalu banyak bohongnya.
3.    Kalau menyangkut harta-benda kemudian dilaporkan kepada pihak yang berwajib, ia akan lebih celaka lagi. Mengembalikan hasil tipuannya dan bisa plus hukuman badan
4.    Dijauhi teman bahkan keluarga pun menyingkir. Kalau sudah tidak punya teman maka celakalah manusia, karena manusia hidup harus punya kawan.
 
HANYA CERITERA:
 
Kumpul-kumpul dengan teman lama biasanya ceritera nostalgia jaman mahasiswa. Salah satu topiknya adalah menipu dosen. Ada yang berhasil, ada yang kena batunya. Ini kisah teman saya, bertiga sebut saja namanya si Badu, Bari dan Banu.
 
Suatu ketika kami bertiga terlambat masuk kuliah, pas dosennya terkenal sebagai orang yang amat disiplin waktu. Syukur kami boleh masuk, tetapi disuruh menghadap di ruangnya setelah kuliah usai.
 

“Kami membantu kusir andong yang rodanya patah”, Badu yang mewakili memberikan alasan.
 
“Kasihan, pak kusirnya sudah tua dan kebingungan”, Bari menyambung dengan wajah muram
 
“Penumpangnya tiga orang ibu-ibu, yang dua histeris”, Banu menimpali.
 
Pak dosen manggut-manggut. “Kalian benar-benar pahlawan muda. Saya bangga”. Beliau membuka laci mejanya, menngambil notes dan menyobek tiga lembar kertas. “Andong itu rodanya empat ya?” Beliau bertanya
 
“Betul pak, empat”. Badu, Bari dan Banu menjawab serempak tanpa curiga bahwa pak dosen mau mengerjai mereka.
 
Pak dosen tersenyum sambil membagikan kertas. “Kamu menghadap sana, kamu sana, dan kamu kesana”, perintahnya. “Tuliskan roda sebelah mana yang patah”.
 
Mereka bertiga pucat pasi. Tadi di luar mereka sudah bersekongkol ibarat si gedheg lan si anthuk, tapi yang urusan roda sebelah mana ini di luar perhitungan mereka. Bari memberanikan diri maju, terbata-bata ia menyampaikan: “Kami berbohong pak, tadi keasyikan ngobrol di warung”.
 
Kali ini nada bicara pak dosen menjadi lembut. “Sudah kalian tulis roda mana yang patah?”
 
Bari yang menjawab: “Tidak pak. Kalau kami tulis, berarti kami berbohong lagi”.
 
Dengan nada kebapakan pak dosen menyilakan mereka bertiga duduk di kursi tamu, lalu melanjutkan: “Kalau tadi kalian tulis roda mana yang patah, kemudian ketahuan kalau masing-masing menulis berbeda, kemudian kalian minta maaf, maka penilaian saya akan berbeda. Kalian sudah melakukan kebohongan berantai. Hari ini saya amat bahagia ketemu dengan tiga ksatria muda”.
 
Beliau diam sejenak, lalu lanjutnya: “Nek ora nganggo goroh ngono piye to? Sapa Goroh bakal growah lho” (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST