Wednesday, August 15, 2012

BUNGAH LAN SUSAH (3) MENANAM “KAREP” PANEN “BUNGAH” DAN “SUSAH”

Melanjutkan tulisan Bungah lan Susah (2): “Karep” selalu “mulur” dan “mungkret” rupanya “karep” sahabat kita yang kaya ini masih punya hasrat untuk “mulur”. bedanya sekarang ini yang mulur adalah “karep” untuk membantu orang. Bukan “karep” keduniawian untuk kepentingan pribadi. Baru hari ini ia menyadari. bahwa kebahagiaan yang seharusnya dia kejar adalah “self esteem” atau kepuasan batin. Menolong orang dan melihat yang ditolong senang adalah kepuasan batin. Ia tidak akan “mulur-mulur” lagi dalam mencari keduniawian.


KE RUMAH SADRANA

Si orang kaya tadi pagi sudah pamit kepada isterinya, bahwa hari ini mungkin ia pulang malam, atau pulang besok pagi. Ia hanya mengatakan mau mengikuti jejak-jejak “sejatining urip”. Isterinya yang bijak segera menyiapkan perlengkapan yang kira-kira diperlukan. Makanan, minuman dan pakaian ganti. Keluar dari rumah Jayeng, Teman kita yang kaya berkeras untuk mengantar Sadrana pulang naik dokarnya.

“Rumah saya jelek, den Baskara”, kata Sadrana. Ia tidak pernah berani menanyakan namanya. Tapi nama itu lah yang disebut Jayeng,  nama orang kaya  yang tinggal di desa lain dan kondang berbudi luhur.

“Tapi sampeyan suka tinggal disitu kan, Pak?”

Remen (senang), remen sanget den”. Jawaban ini tidak mengagetkan Baskara.

Rumah Sadrana kira-kira 1 km dari rumah Jayeng. Pelan-pelan dokar menyusuri jalan desa sesuai petunjuk Sadrana.


“KAREP” BERDAHAN “DRAJAT SEMAT DAN KRAMAT” BERBUAH “BUNGAH DAN SUSAH”

Di perjalanan, Baskara merenungkan kembali pengalaman hidup hari ini. Hidup manusia memang diisi dengan menanam pohon yang namanya “karep”. Batangnya ada tiga: “Drajat, semat dan kramat”. Sedangkan buahnya dua macam: “bungah dan susah”.

1.    Drajat: Semula diterima jadi buruh hatinya sudah senang sekali; lama-lama “mulur” ingin jadi Juragan. Ya, manusia memang harus meningkatkan hidupnya

2.    Semat: Mula-mula diberi upah sedikit sudah senang sekali. Lama-lama “mulur” ingin kenaikan upah. Atau cari tempat lain yang upah lebih besar. Tetapi bukankan manusia harus meningkatkan kesejahteraannya?

3.   Kramat: Mula-mula menguasai ternak sebagai “pangon” (penggembala) sudah senang. Lama-lama ingin punya ternak sendiri dan menguasai gembalanya. Siapa tahu suatu saat ingin jadi Kepala Desa? Tetapi apa tidak boleh? Yang penting jangan sewenang-wenang.
Baskara tersenyum sendiri. Mengejar tiga hal di atas, hasilnya hanya satu diantara dua: "bungah atau susah". Apa yang dia renungkan adalah gambaran Jayeng, bekas buruhnya yang kini telah mandiri hidup berkecukupan.”Mudah-mudahan Jayeng benar-benar sadar bahwa hidup itu tidak sendirian dan harus berbagi kepada sesama. Mulur itu perlu; tapi harus siap memakan buahnya, yang berupa bungah atau susah”.


LIDING DONGENG

Seuntai kalimat bijak masuk dalam otak Baskara: “Mulur ya mulur ning aja mulur-mulur”. Dengan rumus itu manusia bisa mengatur “creative tension”nya guna mengendalikan rasa “bungah dan susah”. Tiba-tiba ia ingin menggali lebih dalam pendapat Sadrana tentang “bungah dan susah ini”. Ia ingin tahu isteri Sadrana seperti apa. Tidak mungkin Sadrana menjadi orang yang benar-benar “Sabar Darana” kalau tidak ada pengaruh dan dukungan isterinya.

Sampun dumugi (sudah sampai), Den”. Kata Sadrana ketika dokar berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggir desa”.

“Aku mau menginap disini, Pak”, jawaban Baskara yang membuat Sadrana terhenyak. (IwMM)

 

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST