Monday, July 2, 2012

NEGARA YANG EKA ADI DASA PURWA PANJANG PUNJUNG LOH JINAWI GEMAH RIPAH TATA TENTREM KERTA RAHARJA


Melanjutkan posting kemarin berjudul Serat Sabda Tama: Pulih duk jaman rumuhun maka Ki Dhalang dalam suluknya melukiskan kondisi suatu negara adalah seperti judul di atas: NEGARI INGKANG EKA ADI DASA PURWA PANJANG PUNJUNG LOH JINAWI GEMAH RIPAH TATA TENTREM KERTA RAHARJA.

Bagi orang yang tidak begitu paham bahasa Jawa, mungkin tidak ngerti maksudnya, walaupun Ki Dhalang selalu menjelaskan pada tiap akhir kata. Sebaliknya Bagi yang biasa nonton wayang atau mendengarkan siaran wayang kulit di radio, akan lalu begitu saja di telinganya, mendengar tanpa memperhatikan maknanya. Mungkin dianggap sebagai rutinitas belaka. Yang mereka tunggu adalah dialog para tokoh yang sudah berjajar di depan layar.


KAEKA ADI DASA PURWA

Ki Dhalang akan membuka dengan kata-kata: Ingkang minurweng carita, anenggih negari pundi ta ingkang minangka bebukaning kandha ....... Ingkang :Kaeka adi dasa purwa” Selanjutnya dijelaskan oleh Ki Dhalang: “Eka marang sawiji. Adi linuwih. Dasa sepuluh. Purwa kawitan” (Eka: satu; Adi: bagus, citranya bagus; Purwa: Awal). Terjemahan bebasnya adalah “negara yang terpandang, citranya bagus, negara lain segan, masuk dalam 10 besar negara di dunia. Sudah barang tentu sepuluh besar yang bagus-bagus, misal derajat kesehatannya, pertumbuhan ekonominya, kemakmuran rakyatnya, keamanannya dll. Hal ini dijelaskan dalam kalimat berikutnya: “Dasar negari panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja”

PANJANG PUNJUNG

Ki Dhalang akan menjelaskan: “Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane”. Kata “Dawa pocapane” berarti panjang ceriteranya. Mempunyai sejarah panjang yang harum sehingga menjadi pembicaraan dimana-mana. Tidak hanya di dalam negeri tentunya, tetapi juga di negara lain. Adapun “Luhur kawibawane” berarti negara tersebut berwibawa, semua segan. Rakyatnya  bersatu dan negara-negara lain mengakui. Maka jadilah negara yang “panjang punjung” Berdaulat, disegani dan namanya harum semerbak kemana-mana.

PASIR WUKIR

Selanjutnya Ki Dhalang akan mengatakan: “Pasir samodra, wukir gunung” Pasir sebenarnya berarti tanah, tetapi dalam bahasa pedhalangan “pasir” adalah samodera. Berarti negara ini demikian besar. Ada lautan dan ada gunung-gunung. Itu semua adalah aset, kekayaan yang kalau dikelola dengan baik akan memakmurkan rakyat. Oleh sebab itu Ki Dhalang akan meneruskan tentang situasinya: “Dene tata rakiting praja ngungkuraken pegunungan, ngeringaken benawi, ngananaken pasabinan, amengku bandaran ageng” Artinya kurang lebih: Letak kotaraja membelakangi gunung, lautan di sebelah kiri, pesawahan di sebelah kanan dan memiliki pelabuhan besar. Sebuah gambaran kemakmuran dan kedamaian

LOH JINAWI

Ki Dhalang tidak berhenti sampai di sini. Kemakmuran digambarkan dengan kata-kata: “Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sami tinumbas”. Artinya: Loh adalah subur semua yang ditanam dan Jinawi adalah murah semua yang dibeli”. Kalau semua yang ditanam tumbuh baik dan semua yang dibeli harganya terjangkau, pasti rakyat senang dan hidupnya tenteram. Orang tidak akan takut-takut untuk mendatangi negeri yang seperti ini. Oleh sebab itu kalimat selanjutnya adalah:

GEMAH RIPAH

“Gemah lumaku dagang layar rinten dalu tan ana pedhote labet tan ana sangsayaning marga” Artinya kurang lebih: “Gemah berarti perjalanan dagang lewat laut (layar) tidak ada putusnya dan tidak ada gangguan di jalan (aman). Jadi gemah menggambarnya ramainya perniagaan. Bahkan siang malam tak ada hentinya, berarti aman. Sehingga kegiatan perekonomian yang maju. Oleh sebab itu kata “gemah” dilanjutkan dengan:

“Ripah jalma manca ingkang samya bebadra ketinggal jejel hapipit aben cukit tepung taritis”. Adapun pengertiannya: Ripah adalah orang-orang manca yang mencari kehidupan kelihatan penuh sesak berjejal berdempetan, makan sampai beradu sumpit menjadi satu. Jadi “ripah” mengacu pada keramaian banyaknya orang. Bisa kita bayangkan: “Gemah Ripah”. Orang pada datang, negara jadi ramai sekali. Tentunya tidak hanya karena “Pasir wukir” nya “loh” harga-harganya “jinawi”. Ada sesuatu yang lain lagi sehingga menyebabkan orang pada berdatangan.

TATA TENTREM

Inilah penyebab kedatangan dan keramaian: “Tata” menunjukkan sesuatu yang tertata dan ditaati. Disini ditekankan pada ketaatan atas hukum dan norma-norma kemasyarakatan. Ada ikatan yang diatur pemerintah dan ditaati semua orang. Kalau ada pelanggaran, tentunya kecil sekali dan diselesaikan secara hukum yang berkeadilan. Bila terkait dengan norma masyarakat tentunya ditangani melalui musyawarah. Oleh sebab itu kejiwaan masyarakat menjadi “Tentrem”, atau tenteram, tenang, aman dan damai, bisa merasa” “ayem sebab ada yang “mengayomi” Inilah yang menyebabkan orang tidak ragu untuk datang. Adapun hal-hal yang mengindikasikan bahwa masyarakatnya “tata tentrem” dilanjutkan Ki Dhalang sebagai berikut:

KERTA RAHARJA

“Kerta kawula ing padusunan mungkul anggennya ulah tetanen mardi undhaking wulu pametu” yang artinya kurang lebih: Rakyat di desa tekun dalam bertani untuk meningkatkan penghasilan. Kerta terkait dengan aktifitas kerja masyarakat. Disini yang dijadikan contoh adalah petani.

Adapun mengenai “Raharja” Ki Dhalang menjelaskan lebih panjang-lebar: “Ingon-ingon rajakaya kebo sapi menda tanpa cinancangan, pitik iwen tan ana kinandhangan, yen rahina sami anggelar ing pangonan, gumanti ratri wangsul ana kandhangnya dhewe-dhewe. Parandene datan ana ingkang cicir sajuga, raharja tebih ing parangmuka”. Artinya kurang lebih: binatang ternak piaraan seperti kerbau, sapi, kambing tidak diikat. Ayam dan unggas lainnya tidak dikandangkan. Kalau pagi semua cari makan, berganti malam pulang ke kandangnya sendiri-sendiri. Walau demikian tidak ada yang kececer satupun. Raharja, jauh dari peperangan. Raharja berarti tidak ada kejahatan. Karena rakyat taat hukum dan kehidupan sudah adil makmur.

PENUTUP

Dari uraian di atas terlihat bahwa Ki Dhalang  merangkai urut-urutan kata dalam kalimat tidak ngawur. Mengapa negara bisa “Kaeka adi dasa purwa” karena “panjang punjung” dan seterusnya. Sebuah visi yang harus ditindaklanjuti dengan banting tulangnya misi bersama. Barangkali inilah gambaran yang sudah mendekati “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” suatu negara yang penuh kebajikan dan Tuhan melindungi, sehingga kehidupan masyarakatnya aman, tenteram, damai, sejahtera dan adil (IwMM)


Most Recent Post

POPULAR POST