Sunday, February 5, 2012

RINDIK KIRIK (ASU) DIGITIK



 

Rindik: Pelan; Kirik: Anak anjing; Gitik: Sejenis alat pemukul, bisa dari bilah bambu atau rotan). Lebih sering disebut “Rindik asu digitik”.

Purwakanthi “Rindik Kirik digitik” lebih komplit daripada “Rindik asu digitik”. Dilihat dari sisi bahasa, ini urusan “lari”, dengan pengertian: Larinya jauh lebih cepat daripada “kirik” atau “asu” yang dipukul dengan “gitik”. Sedangkan dari sisi peribahasa, ini bukan masalah lari. Beda dengan ungkapan “playune sipat kuping” ini memang benar-benar lari lintang pukang, misalnya pencuri yang ketahuan warga, tetapi bukan demikian halnya dengan "rindik kirik digitik"

“Rindik kirik/asu digitik” adalah perihal melaksanakan sesuatu. Kita akan serta merta melaksanakan begitu mendapat perintah. Begitu cepatnya sehingga lebih cepat daripada anjing yang dipukul pantatnya pakai gitik. Kalau begitu kan bagus. Nanti dulu, karena ungkapan ini digunakan untuk seseorang yang melakukan sesuatu yang dia sukai. Misalnya saja ada ibu menyuruh anaknya beli sate di warung pak Kromo. Maka “rindik kirik/asu digitik” si anak segera meninggalkan permainannya dan bergegas ke warung pak Kromo. Kalau disuruh belajar, ya kembali klelat-klelet nguler kambang, wong masih asyik bermain kok disuruh belajar.

Sifat seperti ini kita bawa sampai dewasa. Mau dibilang jelek ya tidak jelek-jelek banget. Rasanya manusiawi juga, kalau menyenangkan ya cepat, sebaliknya kalau tidak menyenangkan ya kalau bisa nanti saja lah. Seorang staf, walau tidak semua seperti ini, kalau disuruh menyiapkan sambutan, membuat analisis, membuat surat dan lain-lain pekerjaan rutin biasanya ogah-ogahan. Kalau tidak terus-terusan ditanyakan bisa tidak jadi-jadi. Biasa kita menjawab “inggih Pak” tetapi tidak kunjung “kepanggih”. Di daerah lain ada yang menjawab “Sebentar, Pak”, tapi tidak kelar-kelar juga. Ternyata di daerah itu ada istilah “Sebentar siang, sebentar sore dan sebentar malam”. Ada lagi yang mengatakan “Sementara dikerjakan, Pak”. Sama saja artinya dengan belum selesai. Memang H-1 pasti siap, masalahnya kalau ada koreksi bisa nabrak-nabrak, apalagi kalau hal yang harus disiapkan adalah sediaan untuk atasannya atasan.

Lain halnya kalau pekerjaan itu menyenangkan, misalnya disuruh mengikuti pertemuan di Surabaya. “Rindik kirik/asu digitik” kita segera urus tiket. Pertemuan kan enak, tinggal duduk, makanan pasti beda dengan makanan rumah, demikian pula tidur di hotel. Pulang masih dapat sangu uang harian lagi. Walaupun uang harian sekarang ini jauh lebih sedikit dari dulu, tapi pertemuan selalu menyenangkan.

Sebenarnya ini bukan masalah etos kerja. Siapapun orangnya pasti punya motif. Pemimpin harus mampu memotivasi bawahannya. Harus ada motivator yang membuat kita suka bekerja. Motivator tiap orang berbeda dan pimpinan harus tahu hal ini. Supaya tahu motif bawahan, supaya bisa memotivasi bawahan dengan memberikan motivator yang pas, seorang pemimpin harus bisa Manjing Ajur Ajer dengan bawahan.

Dulu saya diajari untuk menyediakan waktu minimal 50 persen untuk staf. Ketika saatnya saya punya banyak staf, maka menyediakan 10 persen saja tidak mampu. Ternyata waktu tersedot ke tempat lain.

Adalah “motivator” yang menyebabkan anak segera “rindik asu digitik” lari beli sate karena ia akan makan sate hari ini. Mengapa ketika disuruh belajar kok “nguler kambang” karena belajar sesuatu yang rutin dan orang tua lupa memberi motivasi, misalnya diberi “reward” kalau rapornya bagus. Jangan hanya dimarahi kalau rapornya jelek. Demikian pula staf. Berikan senyum tulus , sampaikan terimakasih sekaligus pujian atas hasil kerjanya, dan .... reward .... sesuai aturan yang berlaku, tentusaja.  Bolehlah sekali-sekali kita belajar dari “kirik” yang “digitik” (IwMM)

1 comment:

me libertadores said...

Kalau di daerah saya (Surabaya) digitik itu artinya disetubuhi.

Most Recent Post

POPULAR POST