Sunday, January 29, 2012

MENYAMPAIKAN PITUTUR DENGAN WANGSALAN 3: WANGSALAN DENGAN TEMBANG

Posting ke tiga atau terakhir “Pitutur dengan wangsalan” ini memuat “wangsalan” yang saya anggap sulit karena tersembunyi dalam tembang. Dalam budaya Jawa kita kenal tiga jenis tembang: Tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhe. Macapat termasuk tembang cilik dan tengahan. Adapun contoh pitutur di bawah termasuk dalam tembang gedhe.

Tembang gedhe sendiri ada empat jenis sesuai jumlah baitnya, yaitu: Salisir, Siliran, Raketan dan Dhendha. Masing-masing (1-10, 11-20, 21-30 dan di atas 30) bait. Contoh di bawah termasuk dalam tembang Salisir karena terdiri atas 7 bait. Sering dipakai dalam gerongan atau sindhenan, sehingga kita sebur dengan “Gerongan Salisir”. Isinya pitutur untuk pria dan wanita yang disampaikan dalam bentuk “wangsalan. Dapat kita baca pada buku “Sendhon Langen Swara”. Empat bait pertama dari tembang tersebut adalah sebagai berikut:

Bait pertama: Pitutur untuk wanita

Parabe sang Smarabangun (PRIYAMBADA); Sepat domba kali Oya (Sepat domba: ikan sepat besar yaitu GERAMEH atau gurami); Aja dolan lan wong PRIYA; Gung REMEH nora prasaja

Maknanya: Wanita supaya berhati-hati bila pergi dengan laki-laki (yang bukan suaminya). Bisa menimbulkan dugaan macam-macam, akhirnya menjadi orang remeh, tidak berharga, dalam pergaulan di masyarakat

Bait ke dua: Pitutur untuk pria

Garwa Sang Sindura Prabu (WAITATAMBANG); Wicara mawa karana (TARKA); Aja dolan lan WANITA; Tan nyata asring KATARKA

Maknanya: Demikian pula untuk laki-laki, jangan suka pergi dengan wanita yang bukan istrinya. Walaupun tidak melakukan apa-apa tetapi sering menimbulkan kecurigaan, diterka yang bukan-bukan

Bait ke tiga: Pitutur untuk wanita

Sembung langu munggwing gunung (daun SENGGUGU); Kunir wisma kembang rekta (PUSPANYIDRA); Aja NGGUGU ujarira; Wong lanang sok asring CIDRA

Maknanya: Hati-hatilah para wanita, jangan percaya omongan laki-laki karena laki-laki sering ingkar janji

Bait ke empat: Pitutur untuk laki-laki

Gentha geng kang munggweng panggung (JAM); Jawata pindha Harjuna (KAMAJAYA); JAMan mengko kawruhana; Wong wadon keh NGAMAndaka

Maknanya: Kepada para laki-laki, supaya hati-hati bergaul dengan wanita, karena banyak wanita yang lamis (ngamandaka: lamis)

Wangsalan pitutur dalam tembang memang sulit bagi kita yang awam dalam tembang. Mari kita tangkap jiwa dan makna yang tersirat melalui tembang ini. Pria dan wanita, berhati-hatilah dalam pergaulan. (IwMM).

Tulisan terkait:
Menyampaikan Pitutur Dengan Wangsalan (1): Pengertian
Menyampaikan Pitutur Dengan Wangsalan (2): Wangsalan Sederhana

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST