Thursday, December 1, 2011

BENER NANGING ORA PENER

Kali ini Darman yang membuka topik: “Kemarin kita bicara “Ngono ya ngono ning aja ngono. Kira-kira apa sama dengan ungkapan Bener nanging ora pener?” (Bener: betul; benar; Pener: Tepat; sesuai pada tempatnya. Jadi terjemahannya kurang lebih: Benar tetapi tidak pada tempatnya). 
 
“Man, jangan bikin aku yang kemarin sudah jelas, jadi bingung lagi”, Toni yang memberi komentar duluan.
 
“Rasanya yang terakhir ini lebih tua, Man. Artinya ada sesuatu yang bener tapi tidak pener baru kita komentari dengan ngono ya ngono ning aja ngono”. Mas Bagyo yang waktu pembicaraan tentang ngono ya ngono banyak ngowohnya (melongo) kali ini mempunyai pendapat.
 
“Apa contoh mbah Harjo marah sama polisi muda itu bisa dijadikan referensi?” Tanya Darman.
 
“Seratus, Man”, ujar mbah Harjo. “Tapi jangan aku saja yang dijadikan contoh. Kalian harus punya contoh lain”, sambungnya.

Mas Bagyo tersenyum, katanya: “Dalam perilaku Jawa, mencela perbuatan seseorang adalah sesuatu yang tidak baik. Tapi bagaimana saya tidak mencela, wong yang dia lakukan itu betul-betul salah. Jadi bener kan kalau saya maki-maki dia. Masa saya tutup mata, telinga dan mulut. Tapi itu tidak pener. Mencela adalah larangan budaya kita. Menunjukkan kesalahannya masih boleh. Jadi tindakan saya tadi bener tetapi tidak pener.”

“Wah hujan angka seratus hari ini”, sahut mbah Harjo. “Celaan menimbulkan sakit hati dan akan menumbuhkan permusuhan. Membetulkan kesalahan pun harus santun supaya tidak salah terima. Kalau kalian jadi pimpinan, memberi hukuman bawahan adalah salah satu tugas kalian. Hukuman disiplin ada aturannya. Menegur lisan sudah merupakan hukuman. Tapi jangan overacting, disuruh push up, dijemur di terik matahari, dan lain-lain”.

"Jadi, Perilakunya adalah Bener nanging ora pener dan pituturnya Ngono ya ngono ning aja ngono. betul ya mbah?" Toni mencoba membuat ringkasan.

"Hebat kamu, Ton", puji mbah Harjo

“Ada lagi, mbah”, sambung mas Bagyo. “Saya pernah tugas di pedalaman Afrika. Saat itu sudah lewat jam makan tetapi kami belum makan. Lalu seorang teman Afrika saya bilang kalau dia mau cari makanan untuk kita berdua. Bener kan tindakan dia untuk mencari makanan? Dia pergi, tak sampai satu jam membawa pisang ambon dua besar-besar. Dia suruh saya habiskan sekarang juga. Selesai makan kulitnya dia ambil dan diamankan jauh-jauh. Ternyata pisang itu curian. Jadi jejaknya hilang karena pisang sudah masuk perut dan kulit pisang sudah dibuang jauh-jauh. Ini masuk bener nanging ora pener juga kan?”

“Kalau itu ya ora bener tur ora pener” jawab Darman lugas, disusul gemuruh ketawa yang lain (IwM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST