Wednesday, November 7, 2012

GUGON TUHON, TIDAK SEKEDAR “ORA ILOK” (3): PERILAKU TIDUR

 
Sebagai kelanjutan tulisan: Gugon tuhon, tidak sekedar “ora ilok” (2): Perlakuan kepada tempat tidur, maka perilaku tidur kita pun juga banyak aturannya. kembali karena “Wong Jawa panggonane semu”, maka dalam memberi pitutur, sesepuh dulu umumnya tidak  lugas mengatakan: “Jangan .... karena ....” atau “jangan .... nanti ....” dengan alasan jelas.  Ancaman “ora ilok” tetap menjadi senjata andalan.
 
Mengupas latar belakang “ora ilok” guna memperoleh pemahaman makna perlu kita lakukan agar pitutur para sepuh ini dapat tetap diuri-uri sebagai sesuatu yang pantas dilestarikan. Di bawah adalah beberapa contoh perilaku tidur yang “ora ilok”
 
 
1. YEN ANGOP KUDU DITUTUPI CANGKEME, MUNDHAK DILEBONI SETAN
 
“Angop” atau menguap sebagai pertanda ngantuk, merupakan perilaku awal sebelum kita tidur. Hati-hatilah orang menguap tanpa menutup mulut karena setan akan masuk. Apakah setan betul-betul nerobos ke mulut yang menganga atau tidak, bila kita menguap tanpa menutup mulut memang kelihatan jelek sekali. Cobalah sekali-sekali minta difoto saat kita menguap. Mulut terbuka lebar seperti goa. Apalagi waktu menguap, kita mengisap udara dengan kuat. Seandainya ada binatang ringan sejenis lalat di dekat mulut kita, pasti akan terisap ... bleng! Masuk mulut. Hal ini betul pernah kejadian. Ada teman sebut saja namanya “Dhadhap” pernah dijuluki “Dhadhap Bleng” karena habis menguap dia meludahkan lalat.
 
 
2. NGANTUK SAENGGON-ENGGON IKU RAK DIIYUN SETAN
 
Kalau sudah ngantuk pergilah tidur pada tempat yang seharusnya. Harus dibiasakan mulai anak-anak. Kata “diiyun” artinya digelayuti”. Tidur sebarang tempat akan digelayuti setan. Perilaku seperti ini  memang tidak sopan dan kelihatan tidak pantas kalau dilihat orang. Apalagi kemudian kelakuan ini kita kerjakan di tempat kerja. Apa ya pantas kalau kita tertidur di kursi kantor walaupun di ruang kerja kita sendiri. Demikian pula tidur saat rapat. Oleh sebab itu harus dibiasakan sejak kecil.
 
 
3. AJA SOK TURU ING WAYAH ASAR UTAWA SURUP MUNDHAK OWAH ADATE
 
Pengertian “owah adate” disini bukan “gila” tetapi berubahnya pola hidup”. Bisa dibayangkan pada jam sholat Ashar kita tertidur. Belum tentu saat adzan Maghrib sudah bangun. Bisa bablas sampai malam. Dua sholat hilang, waktu makan mundur, dan malam menjadi susah tidur. Badan bukannya jadi nyaman tapi malah tidak karuan.
 
 
4. AJA SOK TURU MALANG MEGUNG, MUNDHAK ORA ILOK
 
Tidur dengan posisi malang-melintang disamping memenuhi tempat juga dipandang tidak pantas, merupakan cerminan perilaku  tidak tertib. Apalagi kalau satu tempat tidur digunakan oleh lebih dari satu orang/anak, pasti kita mengganggu kenyamanan tidur mereka.
 
 
5. AJA SOK TURU MENGKUREP MUNDHAK PANGLING SING MOMONG
 
Posisi tidur yang normal adalah telentang dengan alas kepala tidak terlalu tinggi. Tidur telungkup (mengkurep) kurang baik untuk kesehatan karena perut yang seharusnya bisa kembang kempis tanpa tekanan menjadi terhimpit diantara badan dan tempat tidur. Disamping itu orang yang tidur telungkup posisi kepala pasti miring dan mulut sering terbuka. Liur pun berleleran ke bantal. Bantal jadi kotor dan yang melihat akan  merasa jijik (nggilani). Dikatakan kalau kita tidur telungkup, yang momong (menjaga: dalam hal ini Malaikat) akan pangling (tidak mengenali kita).
 
 
6. AJA TURU KRUKUP, MUDHAK PANGLING SING MOMONG
 
Ada orang yang suka tidur dengan menyelimuti diri mulai dari kepala sampai ujung kaki (krukup). Menakutkan (setidaknya bagi yang penakut) karena seperti melihat orang mati. Tetapi yang lebih penting orang tidur “krukupan” ini mudah kekurangan oksigen. Oksigen yang seharusnya leluasa masuk paru terhambat oleh selimut yang dia pakai “krukupan” sementara CO2 justru terakumulasi karena tertahan oleh selimut. Walau selimut berpori-pori tetapi pergantian udara akan sesempurna dibandingkan dengan yang tidur tidak "krukupan".
 
 
7. AJA TURU KEMULAN KLASA MUDHAK DIPARANI SETAN
 
Barangkali ada juga orang yang tidur beralaskan tikar, karena kedinginan maka tikar dipakai untuk selimut. Hal ini tidak pantas karena kelihatan seperti mayat yang tidak terurus.
 
 
8. NEK TURU AJA UCUL SABUKAN, MUNDHAK MEKAR EPEHE
 
Secara harfiah pengertiannya kalau orang tidur tidak pakai ikat pinggang, maka pinggang akan melebar. Bagi orang Jawa pinggang ideal adalah pinggang yang kecil. Dalam arti kiasan, orang tidur harus berpakaian, disamping menjaga tatasusila, kalau saat kita tidur ada sesuatu kejadian, maka kita bisa segera bangkit melakukan tindakan.
 
 
9. AJA SOK TANGI KEDHISIKAN PITIK, MUNDHAK SEBEL ING SAMUBARANG
 
Ayam bangun kira-kira jam 5 pagi. Jadi kita harus bangun sebelumnya.  Bangun kesiangan akan kehilangan Sholat Subuh dan udara pagi yang sehat. Semua menjadi tidak pas, cenderung malas dan semangat kerja tidak prima.


KESIMPULAN

Perilaku tidur terkait dengan ibadah, kesehatan, etika dan semangat kerja. Kita harus tidur di tempat yang seharusnya, pada waktu yang seharusnya, tidak melupakan kewajiban kepada diri sendiri maupun orang lain, memperhatikan pemeliharaan kesehatan dan .... bangun tidur jangan keduluan ayam (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST