Monday, October 22, 2012

SISI LAIN DARI “AJA DUMEH”

Suatu saat saya diajak teman makan sate ayam angkringan. Angkring yang betul-betul dipikul, bukan angkring pajangan di restoran mewah. Ada tulisan yang sudah agak kusam di angkring itu: “Aja Dumeh”. Terjemahan bebasnya yang hampir semua orang tahu kurang lebih: Jangan sombong, atau jangan mentang-mentang. Beberapa contoh kalimat yang juga banyak didengar misalnya:
 
1.    Aja dumeh kuwasa, banjur degsiya (jangan mentang-mentang sedang kuasa lalu sewenang-wenang)

2.    Aja dumeh sugih banjur lali karo sing ringkih (jangan mentang-mentang kaya lalu mengabaikan yang miskin)

3.    Aja dumeh pinter banjur keblinger (jangan mentang-mentang pandai lalu menggunakan ilmunya di jalan yang sesat).

Sialnya saya tertarik untuk mengomentari tulisan di angkring pak tua itu. Lebih celaka lagi saya gunakan basa krama andapan yang akhirnya saya akui sebagai ungkapan kesombongan otomatis dari orang yang merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya sebagai manusia: “Seratan aja dumeh niki nyindir sinten to pak. Sing disindir rak boten teng mriki” (tulisan aja dumeh itu menyindir siapa to pak? Orang yang disindir kan tidak ada disini).
 
Pak penjual sate melihat ke saya sejenak. Saya jadi malu dibuatnya karena dia menjawab dengan basa Jawa krama inggil. Demikian seterusnya ia selalu bicara dengan basa Jawa mlipis: “Lha punapa aja dumeh punika namung kagem priyantun sugih, pinter kaliyan kuwaos to pak?” (Apakah aja dumeh hanya berlaku untuk orang kaya, pandai dan kuasa saja?)
 
Pengertian yang tertanam di otak saya memang seperti itu: Aja dumeh sugih, kuwasa, menang, kuat, bagus, ayu dan seterusnya. “Yang saya tahu memang begitu pak. Barangkali ada pandangan lain mohon saya diparingi wawasan”. Kalimat ini saya sampaikan juga dalam krama Inggil.
 
Pak penjual sate ketawa sambil mengipas-ngipas sate di pembakaran. “Kalau dibalik bagaimana pak. Aja dumeh aku mung dodol sate terus disapa nganggo krama andhapan”.
 
Wah ini sindiran halus tapi telak. Untung malam hari sehingga dia tidak melihat muka saya yang semestinya memerah. “Jarwanipun aja dumeh kadospundi to pak? (arti aja dumeh itu apa?)”
 
“Lha bapak ini orang Jawa atau bukan? Aja sama dengan jangan dan dumeh artinya lantaran atau karena sesuatu hal. Contohnya aja dumeh aku wong miskin terus diarani nyolongan.”
 
Masuk akal juga penjelasan pak penjual sate tadi kalau definisi “dumeh” yang ia kemukakan benar. Demikian pula tulisan “aja dumeh” di pikulan satenya. Ya sudah pas ditempatkan di situ. Kebetulan satenya sudah jadi maka pembahasan singkat tentang “aja dumeh” pun berhenti, berganti dengan pertarungan dengan sate yang ternyata enak sekali.
 
 
EPILOG
 
Saya pamitan dengan pak penjual sate dengan ucapan terimakasih bahwa hari ini saya mendapat guru yang patut dihormati. Saya tutup dengan kata-kata: Aja dumeh mung sate angkringan terus dikira ora enak”. Pak penjual sate tertawa dan balik mengucapkan terimakasih.
 
Malam itu juga saya buka Bausastra Jawanya Poerwadarminta. Saya cari arti kata “dumeh”. Ternyata benar pak tua itu: Dumeh: (1) mung amarga ....  (hanya karena ....); (2) jalaran saka .... (karena ....). Jadi kata “aja dumeh” artinya “jangan hanya karena ......”.
 
Kenapa pengertiannya menjadi “jangan mentang-mentang”. Memang kalau anak kalimat ini dipakai untuk orang Kaya, Pandai dan Kuasa maksudnya tidak berubah; tetapi tidak bisa diterapkan untuk orang kecil, sedangkan “aja dumeh”nya bapak yang jual sate tadi dapat dinikmati semua orang, termasuk rakyat kecil.
 
Jaman sekarang ini yang namanya “bahasa” saja kok ya bisa-bisanya ikut-ikut tidak memihak rakyat. Saya tutup tulisan ini dengan kalimat yang tidak berpihak karena berlaku untuk semua orang termasuk saya sendiri:  “Aja dumeh bisa muni, terus waton muni”. (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST