Saturday, August 25, 2012

TENTREMING ATIMU KANG GAWE KAWARASAN

Keteladanan Panembahan Senapati, antara lain tersurat dalam kalimat amemangun karyenak tyasing sesama, yang artinya adalah berkarya untuk menenteramkan hati sesama manusia.

Manusia senantiasa gelisah, meraba dan mencari ketenteraman jiwa. Anak kecil yang tidak terteram secara tidak sadar akan mengisap jempol, sebagai manifestasi tidak sadar dari ketenteraman masa bayi saat menyusu ibunya. Ada juga orang yang salah cari, dikira ketenteraman dapat diperoleh melalui alkohol dan narkoba. Padahal hasilnya hanya kecanduan dan penyakit kronis. Demikian pula orang sakit, ia mencari ketenteraman dengan berbagai manifestasi tingkah dan perilakunya. "Health seeking behavior" tiap orang tidak sama. Yang jelas ia akan mengupayakan apa saja untuk kesehatannya.


ORANG SAKIT BUTUH SEHAT

Tidak ada orang ingin sakit. Sayangnya kebanyakan dari kita tidak berupaya mencegah supaya tidak sakit, melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Yang terjadi adalah kalau sakit itu sudah terjadi, maka kita akan melakukan apa saja supaya kembali sehat. Kita berobat, berpantang makanan tertentu, rajin periksa laboratorium, termasuk pengobatan alternatif baik yang rasionil maupun yang tidak rasionil. Pokoknya kita akan berupaya walau harus merayap sampai ke Timbuktu di Afrika.

Perilaku orang sakit bisa menjadi aneh-aneh bergantung tingkat kesakitan dan ketahanan mentalnya menunggu kesembuhan yang tidak kunjung tiba. Maunya kan begitu ketemu dokter, langsung sembuh. Tamba teka lara lunga.


SAKIT ITU MENDERITA

Apapun penyakitnya, orang pasti merasa tidak enak. Bahkan ada yang mengatakan “tersiksa”. Sebagai contoh:
1.    Mata tidak mampu menikmati pemandangan indah. Semua yang orang lain merasa kesengsem, baginya kelihatan pudar dan kering.

2.    Telinga tidak mampu menikmati kicau burung maupun lagu-lagu indah. Walaupun iramanya mendayu-dayu, baginya tetap “grombyangan”

3.    Hidung tidak mampu merasakan bebauan harum. Kamar sudah diberi pewangi termasuk aromaterapi paling mahal, ia tetap merasa tidak nyaman.

4.    Lidah tidak mampu merasakan makanan enak. Percuma disediakan makanan enak sekaligus mahal karena daya pengecapnya seolah matirasa.

5.    Belum lagi ditambah penderitaan akibat sakitnya: panas, pusing, sakit kepala, sesak napas, sakit perut, gatal, ngilu tulang dan lain-lain
Pokoknya bagi orang sakit tak ada satupun kenyamanan hidup yang tersisa. Yang ada hanya siksa, Semua tidak ada yang benar. Kadang-kadang orang sakit menjadi cepat marah.


KELAKUAN ORANG SAKIT BERANEKA-RAGAM
Bagi orang sakit yang tebal imannya, dan berpendapat bahwa sakit adalah salah satu cobaan dari Allah, selanjutnya yakin bahwa cobaan Allah tidak pernah di luar kemampuan manusia untuk mengatasi, masalahnya selesai. Ia tabah, jiwanya akan tenteram, tidak terasa penyakitnya sembuh. Masalahnya tidak semua orang berperilaku demikian.
Contoh paling mudah adalah anak sakit. Ia pasti rewel. Orang dewasa pun juga bisa rewel dan uring-uringan, tidak sadar bahwa ia telah membuat dongkol orang lain khususnya yang merawat. Saya pernah ketemu seorang ibu yang mengatakan, lebih baik dia yang sakit, ketimbang suami atau anak, karena dia masih mampu mengurus rumah, suami dan anak. Tapi kalau suami dan anak yang sakit, maka semua tidak terurus. Apakah ibu ini mewakili keperkasaan kaum wanita dalam urusan sakit, kelihatannya memang demikian.
Intinya orang sakit itu kelihatan seperti  mau menang sendiri dan memang kurang lebih demikian adanya, orang sakit butuh dimenangkan supaya tenang dan tenteram.


MEMENANGKAN ORANG SAKIT.
Menang adalah kenikmatan. Coba saja tanya orang-orang yang menang. Bisa berupa kemenangan dalam pertandingan olahraga, menyelesaikan pendidikan atau mendapat promosi. Hari itu dunia menjadi miliknya dan semua perhatian tertumpah kepadanya. Memenangkan orang sakit adalah dengan memberi perhatian, kita lihat saja beberapa contoh:
1.    Anak kecil kalau sakit pasti rewel. Ia akan merasa  tenteram kalau dijaga dan dihibur ibunya.. Beruntunglah seorang anak, karena naluri ibu adalah me-nomorsatu-kan anaknya dalam segala hal. Seorang ibu bisa tidak tidur demi anak Lalu bagaimana dengan orang dewasa, siapa mau kasih perhatian 24 jam?

2.    Orang tua yang sedang sakit dan dikunjungi banyak tamu, ternyata hatinya senang sekali.   Ia merasa tidak hanya diberi perhatian tetapi juga menjadi pusat perhatian.  Aneh juga rasanya, orang sakit mestinya banyak istirahat, jangan banyak tamu, supaya cepat sembuh. Yang ini  justru dengan banyak tamu, hatinya senang, merasa diberi perhatian, lupa sakitnya dan menjadi segar. Ketika pengunjung sudah pulang, mulai lagi ia dengan keluh kesahnya.

3.    Sering  kita dengar dokter berkata kepada pasien yang intinya “tidak apa-apa, jangan khawatir”. Demikian pula perawat selalu ramah dan helpful dalam memberikan pelayanan.. Semua bertujuan menenteramkan jiwa. Tetapi ada juga teman berargumentasi: “Dokter bisa ramah kan mereka hanya berkunjung waktu visite, demikian pula perawat ada giliran jaganya. Lha kalau di rumah kan yang ada cuma kita-kita ini, 24 jam lagi. Harap maklum lah kalau lama-lama menjadi sebel juga”.

KESIMPULAN
Orang sakit butuh diberi perhatian lebih, butuh “dimenangkan” melalui perilaku dan ucapan yang menenteramkan. Salah satu operasionalisasi  “Amemangun karyenak tyasing sesama” adalah “nentremake atine kang lagi nandang lara”. Berlaku tidak hanya untuk dokter dan paramedis sebagai petugas pemberi pelayanan kesehatan, tetapi juga kepada keluarga yang di rumah dan seluruh masyarakat. Mengapa masyarakat? Karena masih ada “stigma” terhadap beberapa penyakit tertentu yang mengakibatkan si sakit dijauhi dan dkucilkan. Kapan mereka akan “bagas waras lan waras wiris kaya wingi uni” kalau dijauhi dan dikucilkan oleh sesama manusia. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST