Friday, June 1, 2012

WONG NGANGGUR SA-EJAM SABEN DINA IKU MUBADIRAKE SAPRAPATLIKURING UMURE


Judul di atas saya terjemahkan dari karangan R Kartawibawa, Tulungagung dalam buku Gagasan Prakara Tindaking Ngaoerip, cetakan Balai Pustaka, 1921 “Wong nganggur saejam saben dina iku mubadirake saprapatlikuring umure”. (Orang menganggur satu jam memubazirkan seperduapuluh-empat umurnya). Rasanya masih relevan untuk dibaca orang pada tahun 2012 sekarang ini. Saya terjemahkan saja tulisannya sebagai berikut:

Umur dihitung hari per hari. Kalau kita masih hidup pada hari ini, apa pasti bahwa besok belum mati? Tidak ada orang yang tahu kapan hari kematian masing-masing, demikian pula panjang-pendek umurnya. Tetapi orang mati umur 100 tahun sudah amat jarang. Orang mati umur 70 tahun sudah dikatakan mati tua.

Orang hidup lama di dunia pasti tiap hari kemasukan makanan tetapi tidak selalu bermanfaat untuk hidupnya, sering malah merusak. Satu hari ada 24 jam. Satu jam berarti seperduapuluhempat hari. Menganggur satu jam berarti menganggur seperduapuluhempat jam umurnya dalam sehari. Cobalah kita hitung berapa lama waktu kita sebagai manusia yang tidak dipakai bekerja.

Jam sepuluh (malam) kita sudah tidur. Jam enam pagi baru bangun. Berarti tidur 8 jam atau sepertiga hari. Kalau dihitung umur sampai 70 atau 60 tahun saja berarti umur yang kita pakai tidur sebanyak 20 tahun. Itu kalau tanpa tidur siang. Oleh sebab itu diasumsikan tidur selama 25 tahun dalam hidup kita dianggap cukup. Padahal kalau kita sedang melek belum tentu bekerja. Misalnya saja kita bekerja 8 jam dalam sehari, berarti sepertiga umur atau dua puluh tahun. Umur untuk menganggur empatpuluh tahun atau lebih. Selama empatpuluh tahun itu mestinya kita tidak wajib makan. Coba lakukan kalau sudah selesai, lalu makan sekenyang-kenyangnya duapuluh tahun. Semisal kita yang punya bumi ini apa bumi ikhlas dimakan manusia yang menganggur kurang lebih duapertiga umurnya? Atau apabila kita naik kereta api, apa mau bila kereta berhenti dua jam dan jalan satu jam? Kalau tidak salah kereta berhenti lima menit saja kita sudah berteriak-teriakkehilangan waktu.

KESIMPULAN

Karangan ini dibuat tahun 1921. Untuk ukuran jaman sekarang mungkin tidur manusia sudah tidak sebanyak itu, demikian pula jam kerja kita mungkin tidak sesedikit itu. Tetapi Kartawibawa disini mengisyaratkan perlunya manajemen waktu khususnya untuk diri sendiri. Karena dalam melihat orang lain menggunakan waktu, kita amat tajam mengkritisinya. Marilah kita rujuk kembali ke QS Surah al Ashri ayat yang pertama “Demi waktu sesungguhnya manusia dalam kerugian” (IwMM)

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST