Sunday, October 30, 2011

KEBO (6): KEBO MULIH MENYANG KANDHANGE

 

Kerbau dalam menapaki hidupnya, di padang penggembalaan, di sawah maupun di kubangan, sore hari akan pulang juga ke kandangnya. Demikian pula manusia yang berkelana, suatu saat akan kembali ke rumah. Bedanya dengan kerbau, manusia pulang tidak tentu. Bisa nanti sore, tiga hari lagi, seminggu atau lebih bergantung seberapa jauh dan seberapa lama DL (Dinas Luar)nya. Pulang DL menulis laporan sambil minum kopi atau apa saja sesuai kebiasaannya. Adalah kerbau yang selalu pulang tepat waktu. Kita anggap saja kerbau (dalam hal ini kerbau Jawa) bisa menulis. Sambil nggayemi (memamah biak) ia menulis kata demi kata di laptopnya:

Andaikan saya berada di Ranah Minang, nasib saya lebih bagus. Nama Minangkabau kira-kira artinya “menang kerbau”. Tutup kepala perempuan di sana ditata apik seperti tanduk kerbau. Bahkan “Rumah Bagonjong”, rumah adat disana dibentuk seperti tanduk kerbau.

Andaikan saya berada di Tanah Toraja, makin banyak tanduk kerbau disusun di depan rumah, adalah lambang kekayaan. Bila ada yang meninggal dunia, makin terhormat yang meninggal, makin banyak kerbau yang di potong.

Andaikan saya berada di Kalimantan Selatan, ada peternakan kerbau air (kerbau rawa), kandangnya dalam air juga, bahkan ada acara budaya “Pacu Kerbau Air”. Paling tidak ada kesempatan unjuk kompetensi sesama kerbau.

Andaikan saya berada di Cina, saya malah mendapat apresiasi sebagai satu dari duabelas binatang yang dipakai sebagai nama Shio. Walau Shio ini nasibnya “pekerja keras”.

Tetapi kenapa dalam khasanah peribahasa Indonesia maupun Melayu, perumpamaan tentang aku sama saja dengan peribahasa Jawa?

(1) Mandi kerbau: artinya mandi tidak bersih; (2) Bagai kerbau terkejut oleh gung: ini tidak enak juga, sepertinya aku makhluk kagetan; (3) Bagai kerbau dicocok hidung: Duh, kenapa aku lagi? (4) Wah yang ini bagus, aku dipadankan dengan manusia walau aku tetap perumpamaan yang lemah. Tapi paling tidak masih mau menyindir manusia: Jika kerbau dipegang talinya, manusia dipegang katanya dan kerbau sekawan dapat dikawali, manusia seorang tiada dapat dimaklumi. (5) Nah kalau ini barangkali paling OK diantara yang lain, Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak: Manusia harus pandai menyesuaikan diri dimana-mana, dan namaku dipakai sebagai perumpamaan.

OK barangkali sudah waktunya saya simpulkan: Apa yang tersirat dari pengakuan manusia tentang diriku adalah aku pekerja keras, penurut dan tidak banyak tuntutan. Akibatnya aku dianggap bodoh dan lemah. Bagaimanapun aku masih beruntung, tidak dianggap agresif dan anarkhis.

EPILOG:

Sang kerbau mulai memejamkan mata sambil tetap nggayemi. Tiba-tiba tersentak, kepalanya terangkat: “Oh ya, kenapa aku terus? Kok bukan sapi?” Laptop dihidupkan lagi, browsing. Koneksi lemot akhir-akhir ini, tapi pelan-pelan dapat juga jawabnya dari postingan di Kaskus: “Karena sebelum Australia mengekspor sapi, tidak ada sapi di negerimu” (IwMM).


Lanjutan dari Kebo (5) Kebo bule mati setra
Bersambung ke Kebo (7): Kebo ilang tombok kandang

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST