Wednesday, January 18, 2012

SERAT WEDHATAMA: BERILMU TIDAK HARUS “TUA”


Jaman dulu gambaran seorang profesor adalah laki-laki tua, botak, berkacamata plus pelupa saking tuanya. Sekarang ini sudah banyak profesor muda. Usianya belum mencapai limapuluh tahun, dan tidak botak. Saat itu nunut berbahagialah orang botak, Sepanjang dia tutup mulut, bisa dianggap sebagai orang pandai. Apalagi kalau pakai kacamata tebal.

Demikian pula gambaran orang berilmu harus kelas atas dan kaya sebenarnya dari dulu mestinya sudah dihilangkan. Memang untuk bisa sekolah tinggi harus punya biaya. “Jer basuki mawa beya”. Tetapi saya banyak melihat orang tua yang ingin anaknya “jadi orang” akan mengorbankan segala-galanya supaya anak bisa sekolah. Demikian pula anak yang ulet, temen dan punya kemauan akan membantu semampunya untuk meringankan beban orang tua.

Sri Mangkunegara IV, menyebutkan dalam Serat wedhatama, Pupuh Pangkur, bait ke 11:

 
Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Coba nak, tanyakan; Kepada para sarjana yang menguasai ilmu; Kepada jejak hidup yang menjadi suri tauladan; Mampu menahan hawa napsu; Ketahuilah bahwa senyatanya ilmu; Tidak harus dikuasai orang tua; Bisa juga dikuasai orang muda atau orang miskin, nak.

“Kawawa nahen hawa" (mampu menahan hawa napsu) merupakan kata kunci penguasaan ilmu. Anak muda yang “taberi”, mengorbankan kesenangan hidup usia mudanya dan lebih memprioritaskan belajar sekaligus mencari sendiri biaya untuk belajar, termasuk anak yang “kawawa nahen hawa”. Buahnya dipetik kemudian.

Tigapuluh tahun lalu saya membantu mengajar di Sekolah Perawat Kesehatan, setingkat SMA. Murid-murid yang pandai selalu saya tanya: “kenapa kamu tidak masuk SMA saja, lalu mendaftar di Fakultas Kedokteran?” Pada umumnya semua menjawab: “Supaya bisa langsung kerja” (dalam pengertian orang tuanya tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi).

Tigapuluh tahun kemudian ketika saya ketemu, banyak diantara mereka yang sudah meraih gelar S-2 bahkan S-3 dalam maupun luar negeri pada usia yang belum tua.  Mereka pandai, dan banyak yang berhasil mendapat beasiswa. Mereka termasuk anak-anak yang "kawawa nahen hawa" Mereka semua anak orang kecil yang tidak kaya.

Intinya, penguasaan ilmu itu  “Tan mesthi ing janma wredha” bisa pada kaum “mudha tuwin sudra” sepanjang “kawawa nahan hawa” (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST