Friday, February 3, 2012

SERAT WEDHATAMA: DUR ANGKARA


Minggu lalu saya menginap di Kusuma Sahid Prince Hotel, Solo. Selesai check out sambil menunggu jemputan ke Bandara Adisumarmo, saya duduk di pendopo yang menjadi lobi hotel. Tertangkaplah dalam telinga saya baris terakhir dari sekar Pocung karya Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama: “ ........ Setya budya pangekese dur angkara”. (berkomitmen untuk menaklukkan nafsu angkara). Sekar Pocung yang pernah saya tulis dalam  Serat Wedhatama: Laku ing sasmita amrih lantip lengkapnya sebagai berikut:



Mungkin tadi tidak saya perhatikan karena konsentrasi saya di tempat lain. Saya selalu membayangkan “Angkara” seperti gambaran penjajah yang menghisap habis-habisan hasil dari kawasan yang dia kuasai dan menelantarkan rakyatnya. Dalam Bausastra Jawa, Poerwadarminta pengertian angkara adalah: “kumudu ndheweki” (ingin memiliki sendiri), murka; Murka: selain sama dengan angkara juga diartikan “ora nrima ing pandum” Sedangkan Dur: Jelek. Pada umumnya kata yang berawalan “dur” artinya jelek, kecuali duren, tentusaja.

Angkara dan murka dalam pengertian ingin memiliki sendiri dan ingin memiliki hak orang lain. Awalan kata “Dur” menunjukkan bahwa Angkara itu jelek. Oleh sebab itu kita harus benar-benar “setya budya” dalam “ngekes” nafsu “dur angkara ini”

Tumbuhnya sifat “angkara” tidak perlu menunggu kita menjadi cukup tua untuk mampu merebut wilayah negara lain, mencuri uang rakyat dan hal-hal yang berat-berat lainnya. Anak SD pun sudah bisa memiliki sifat “angkara” ini. Misalnya merebut mainan adiknya, punya kue dimakan sendiri tapi kue teman diminta. Semakin dewasa maka sifat angkara ini kalau tidak dikendalikan bisa makin meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Yang di atas tadi adalah bait pertama dari pupuh Pocung, Serat Wedhatama. Bait kedua dalam alunan tembang yang berkumandang di lobi Sahid, karena saya sudah duduk santai, dapat saya ikuti dengan lengkap, sebagai berikut:


Pengertiannya kurang lebih sebagai berikut: Sifat angkara yang besar; Di dalam diri besar dan bergulung; Jangkauannya; Meliputi hingga tiga jagad (tri loka); jika dibiarkan saja akan melahirkan masalah.

Kaitan antara bait pertama dan ke dua adalah: Bila dalam bait pertama kita diingatkan supaya berkomitmen melawan sifat angkara, maka bait kedua menjelaskan bahwa sifat angkara tersebut bila dibiarkan saja akan makin besar dan bisa menimbulkan masalah.

Sebuah kuliah lima menit dari Solo, “Setya budya pangekese dur angkara; Angkara gung yen den umbar ambabar dadi rubeda" (IwMM)

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST