Sunday, October 7, 2012

“SLUMAN SLUMUN SLAMET” DAN “DHEMIT ORA NDULIT SETAN ORA DOYAN”

Dua kalimat bahasa Jawa ini menggunakan purwakanthi indah. Yang pertama “SL” dan yang kedua “IT” dan “AN”. Khas Jawa banget. Artinya adalah orang yang selalu selamat kapan pun dan dimana pun. Inilah keanekaragaman nasib manusia. Ada yang selalu apes dan ada yang selalu selamat. Kalau dalam album Walt Disney kita kenal dua tokoh: Donal Bebek yang selalu sial dan Untung Bebek yang selalu beruntung.
 
Saya ketemu teman lama yang sejak mahasiswa sampai sekarang lebih dari 30 tahun kemudian, hidupnya senang terus. Ia kaya tetapi tidak kaya raya. Yang jelas ia religius. Puasa Senin Kamis tidak pernah absen, demikian pula Sholat Dhuha selalu ia lakukan di tengah kesibukannya.
 
“Dongamu (doamu) apa ta dhik?” Demikian tanya saya kepadanya.
 
Ia tersenyum lebar. Saya pikir ia akan menyebut salah satu nama Allah dalam Asmaul Husna. Ia hapal Asmaul Husna. “Sluman slumun slamet, mas. Apa maneh”.
 
“Lha malah guyon. Aku ini tanya sungguhan. Masa seperti tikus yang slundap-slundup slentham-slenthem tapi slamet”.

“Jangan ngawur mas. Sluman slumun slamet itu bukan slinthat-slinthut, justru nilai filosofi dan religiusnya tinggi”.
Singkat kata, saya yang dikalangan teman-teman sesama amatir dijadikan rujukan urusan filosofi hidup orang Jawa, kali ini menjadi pendengar yang baik. Demikian kurang lebihnya penjelasan teman saya:
 
SLUMAN
Dalam hal ini peran telinga dan lidah Jawa besar. "Sluman" adalah ucapan lidah yang agak kesulitan dan rada malas mengucapkan kata “Sulaiman”. Maksudnya memang Nabi Sulaiman yang cukup akrab bagi anak-anak Jawa. Dalam dongeng kancil nama Kanjeng nabu Suleman (Sulaiman) selalu muncul. Kancil selalu menggunakan nama Nabi Sulaiman sebagai beking setiap ia mengalami kesulitan dengan binatang-binatang pemangsa jenisnya. Jangan lupa pula, sambung teman saya: Jaman kecil dulu kita sudah mendapat dongeng tentang kehebatan Kanjeng Nabi Suleman ini: Beliah adalah raja, amat kaya, menguasai semua jin dan mengerti bahasa binatang. Makanya kata pertama adalah “Sluman”. Kiranya kita bisa mendapat sedikit karunia yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman Alaihi Salam.


SLUMUN
Jangan kaget kalau “Slumun” adalah mengambil kata awal dari Salamun ala mursalin yang hampir selalu kita ucapkan sebelum mengakhiri doa. Kurang-lebihnya kita mendoakan Selamat untuk semua Nabi. Ya harap dipahami dan dimaafkan, mereka kan tidak paham bahasa Arab, suka ngothak-athik kata supaya pas purwakanthinya. Tapi yang jelas sebelum mengucapkan "Salamun ala mursalin" kita pasti berdoa.
 
SLAMET
Ini yang paling penting. Orang Jawa memahami kata “slamet” kurang-lebihnya sebagai keadaan sehat maupun lepas dari bahaya. Padahal yang dimaksud slamet disini adalah salah satu nama terAgung Allah dalam Asmaul Husna, yaitu “As Salaam” artinya Yang Maha Memberi Keselamatan. Kalau kita sering mewiridkan “Yaa Salaam” maka Allah akan menghindarkan kita dari berbagai musibah dan penyakit.
 
EPILOG
“Itulah mas, pemahaman Sluman Slumun Slamet. Embah saya dulu ceritera demikian. Tetapi semua itu harus dilandasi ibadah dan jangan lupa shodaqoh yang ikhlas. Ada ahlinya mas, kalau mau mendalami hal ini”.
“Bener sekali dik tauziahmu. Berangkat dari visi ingin seperti Nabi Sulaiman, kita tidak melupakan semua utusan Allah dan terakhir mohon keselamatan dari Allah as Salaam”. Ibadahmu komplit termasuk shodaqohmu yang memang banyak dinikmati wong ora duwe pasti akan menjadi pagar kokoh yang menjaga dirimu dari musibah. Barangkali itulah sebabnya sehingga panjenengan itu paribasan DHEMIT ORA NDULIT, SETAN ORA DOYAN.
Teman saya tertawa keras sekali: “Hahaha, mbayar pira mas diparingi pangalembana sing kaya mengkono. Kalau yang itu tidak mbebayani, mas. Yang lebih berbahaya adalah Dhemit sing doyan dhuwit lan setan sing doyan ketan”. (IwMM)

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST