Tuesday, August 7, 2012

SABDA PANDITA RATU (1): KISAH DASARATA DAN SANTANU

“Sabda Pandita Ratu” adalah ucapan pimpinan yang seharusnya memang demikian dan merupakan harapan rakyat kepada mereka. Dalam hal ini “Ratu” tidak hanya mewakili pimpinan tertinggi pada khususnya tetapi juga “umaroh” pada umumnya. Sedangkan “Pandita” adalah “Ulama”. Bila dikaitkan dengan posisi raja pada jaman dulu, bahwa raja adalah senapati ing ngalaga (panglima perang), khalifatulah (raja) sekaligus sayidin panatagama (pimpinan agama), maka tanggungjawab raja adalah berat. Tiga hal jadi satu. Jadi untuk berucap harus benar-benar berhati-hati, mengingat ia harus Bawa laksana”, atau kesamaan ucapan dan tindakan.

“Sabda” adalah ucapan. Jadi apa yang diharapkan dari ucapan seorang ratu? Disebutkan “Sabda pandita ratu tan kena wola-wali” atau juga “Sabda brahmana raja sepisan dadi tan kena wola-wali”. Artinya ucapan seorang pimpinan (pemerintahan maupun agama) harus “sepisan dadi, tan kena wola-wali”. Sekali diucapkan ya itu yang harus dilakukan, tidak boleh berubah-ubah. Kalau “molak-malik” apalagi yang diucapkan adalah sebuah janji, tidak hanya membingungkan dan menyakiti rakyat tetapi juga merusak citra.

Sebenarnya “Sabda pandita ratu” tidak melulu pesan untuk pimpinan, tetapi juga pesan untuk kita semua: Kalau berbicara hendaknya dipikir lebih dahulu. Pakai deduga,prayoga, watara dan reringa. Jangan waton nylekop, tahu-tahu ucapannya salah, dengan dua konsekwensi, mau meralat atau tidak meralat. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Pada umumnya yang dilakukan adalah “tidak” meralat karena pesan dibelakangnya adalah “sepisan dadi” dan/atau “tan kena wola-wali”. Manusia hidup harus "sabda laksana" menetapi apa yang telah diucapkan.

Risiko “Sabda pandita ratu” amat besar. Dua contoh di bawah ini saya ambil dari kisah Ramayana dan Mahabharata, sebagai berikut


RAJA DASARATA DARI AYODYA


Prabu Dasarata mempunyai isteri tiga: Dewi Kausalya yang berputra Ramawijaya, Dewi Kaikayi berputra Barata dan Dewi Sumitra berputra dua, yaitu Laksmana dan Satrugna. Saat sang prabu merasa sudah waktunya lengser keprabon, maka ia memutuskan untuk menobatkan Ramawijaya sebagai suksesornya di kerajaan Ayodya. Semua pembesar kerajaan dan rakyat mendukung dengan gegap gempita putusan raja sepuh tersebut.

Sayang masalahnya tidak berhenti disini. Mantara, abdi kinasih Dewi Kaikayi sekaligus pengasuh pangeran Barata, mengingatkan sang puteri akan janji raja waktu meminang Dewi Kaikayi: Bahwa putra Kaikayi lah yang akan dinobatkan sebagai pengganti raja. Walaupun Dewi Kaikayi pada awalnya merelakan, lama-lama terbakar juga dan menuntut janji sang raja. Tidak hanya menuntut Barata jadi raja, tetapi juga meminta supaya Rama (sekaligus Dewi Shinta, istrinya) dibuang ke hutan. Rama demi netepi jejering satriya, ikhlas menyerahkan hak atas tahta kepada Barata, termasuk siap dibuang di hutan. Barata sendiri sebenarnya tidak menghendaki dirinya jadi raja.

Tidak ada pilihan lain bagi prabu Dasarata. “Sabda pandita ratu” harus dipegang. Sang raja pun curhat tentang hal ini, kepada Dewi Kausalya, ibunda Rama. Selesai berceritera, raja wafat. Barata bersedia menjadi raja atas nama Rama, dengan menempatkan terompah Rama di singgasana.

RAJA SANTANU DARI HASTINAPURA


Prabu Santanu adalah raja Hastinapura yang secara legal merupakan leluhur Pandawa. Alkisah saat sang raja berburu di tepi sungai Gangga, bertemu dengan seorang wanita cantik, Dewi Gangga yang sebenarnya bidadari yang dikutuk dewa dan diturunkan ke bumi. Dewi Gangga bersedia jadi isteri Santanu dengan syarat apapun yang ia lakukan, tidak boleh ditanya apalagi dilarang. Santanu pun langsung OK.
Masalahnya Dewi Gangga  sudah terlanjur janji untuk membantu 8 Wasu yang juga kena kutuk dan diturunkan jadi manusia. Kedelapan wasu akan lahir sebagai anak Dewi Gangga setelah punya suami, dan minta dibunuh dengan ditenggelamkan di Sungai Gangga, sehingga bisa kembali ke kahyangan.
Ketika Dewi Gangga setiap melahirkan selalu membawa bayinya dan membuangnya ke Sungai Gangga, Santanu tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat janji.  Bagaimanapun kesabaran manusia ada batasnya. Pada kehamilan yang ke delapan Prabu Santanu memperingatkan Dewi Gangga untuk menghentikan perbuatannya. Sang Dewi bersedia menghentikan, ia menjelaskan masalahnya, kemudian masuk ke kedalaman Sungai Gangga dan tidak kembali lagi ke Hastinapura. Kelak ia mengirimkan putranya yang bernama Dewabrata. Pemuda tampan dan sakti, calon penerus tahta Hastina.
Kita pindah ke Sungai Yamuna. Adalah seorang nelayan yang mempunyai anak wanita amat cantik dan baunya harum semerbak, sehingga dikenal sebagai Dewi Gandawati (Ganda: bau) selanjutnya lebih tenar dengan nama Dewi Satyawati. Berita ini terdengar oleh Prabu Santanu yang sudah lama menduda. Sang raja pun akhirnya melamar untuk memperisteri, tetapi terhambat pada permintaan orang tua Gandawati bahwa tahta Hastina harus diberikan kepada keturunan Gandawati. Santanu pun kembali ke Hastina dan jatuh sakit.
Dewabrata sebagai anak yang tanggap, mencari tahu penyebab ayahandanya sakit. Setelah tahu, ia pun mencari Dewi Gandawati dan melamarkan untuk ayahnya. Sekaligus ia memenuhi semua permintaan dan bersumpah tidak menikah supaya tidak menimbulkan pertikaian antar keturunan. Para dewa menaruh hormat pada sumpah Dewabrata, selanjutnya ia dikenal dengan nama Bisma.

LIDING DONGENG
Menetapi “Sabda Pandita Ratu” memang amat berat. Prabu Dasarata harus mengorbankan Rama dan meninggal dalam kesedihan. Demikian pula Dewabrata yang menyerahkan hak atas tahta demi kebahagiaan ayahnya yang tidak mau melanggar “Sabda Pandita Ratu.” Kata kuncinya untuk bahasa sekarang sederhana saja “memegang komitmen”. Gampang diucapkan, susah dilaksanakan (IwMM).

Dilanjutkan ke Sabda Pandita Ratu (2): Kisah Wisrawa dan Dewabtara

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST