Thursday, March 28, 2013

MALING DALAM PARIBASAN JAWA

Ternyata cukup banyak juga paribasan Jawa yang menggunakan kata “Maling”. Bisa jadi di Jawa jaman dulu banyak maling. Menurut Kamus Poerwadarminta, maling adalah durjana yang melakukan perbuatannya pada malam hari (Durjana: Orang jahat).
 
Dalam paribasan termasuk bebasan, maka urusan permalingan ini tidak harus mencuri barang pada malam hari, tetapi juga bisa mengandung makna kiasan.
 
Sementara dalam dunia pedhalangan kalau ada lakon dengan kata “Maling”, misalnya "Irawan maling"  maka biasanya yang dimaling adalah putri, dan putrinya "mau"
 
Di bawah adalah contoh-contoh paribasan yang ada kata “maling”nya.
 
 
MALING AGUNA:
 
“Guna” adalah kepandaian. Jadi pengertian maling aguna adalah durjana yang amat lihay dalam melakukan tindak kejahatannya. Tentusaja maling ayam tidak bisa disebut sebagai “maling aguna”. Dalam dunia pedhalangan, misalnya ada yang berhasil mencuri Jimat/Layang Kalimasada (ajimatnya Prabu Yudistira) maka pencuri ini disebut maling aguna.  Yang jelas “maling aguna” ini sulit ketahuan, kalau ketahuan sulit ditangkap dan kalau ditangkap umumnya lepas, dan kalau lepas bablas.
 
MALING AREP
 
Pengertian arep adalah “mau”. Dalam dasanama bahasa Jawa, arep disebut juga “gelem”. Ada pengertian lain, dalam hal ini. “Arep mangan” adalah orang yang belum makan dan akan makan. Sedangkan yang ini adalah arep yang “mau” dalam pengertian “gelem”. Pengertian “Maling arep” dalam hal ini adalah orang yang kalau pinjam sesuatu tidak dikembalikan, malah diaku miliknya. Atau orang yang menghilangkan barang pinjaman (padahal tidak hilang) dan tidak mau mengembalikan. Perilaku seperti ini bukannya sedikit dan tidak hanya kapling orang dewasa. Anak-anak pun ada yang berperilaku “maling arep” ini.
 
MALING KEBUNAN
 
“Bun” adalah embun. Arti harfiahnya menjadi maling kena embun. Arti kiasannya tidak sulit dipahami. Embun tentunya hanya ada di pagi hari dan pasti di luar rumah. Maka pengertian “maling kebunan” disini adalah maling yang melakukan pekerjaannya pada dini hari dan tidak masuk rumah, cukup di pelataran saja. Lalu apa yang dicuri kalau tidak masuk rumah? Dia tidak mencuri tetapi menipu. Jaman dulu orang Jawa pagi-pagi buta sudah di halaman rumah. Ada saja yang dikerjakan, antara lain membersihkan halaman dan merawat tanaman. Orang-orang seperti ini lah biasanya yang menjadi korban “maling kebunan”.
 
MALING SADU
 
“Sadu” adalah perilaku utama. Pengertiannya adalah orang jahat yang perilaku kesehariannya seperti orang baik. Gampangnya: Orang yang kelihatannya sopan tetapi nakal. Orang seperti ini biasanya membuat kita lengah. Oleh sebab itu kita harus selalu waspada, sesuai dengan pesan dalam peribahasa: Yitna yuwana lena kena. Peribahasa yang searah dengan “maling sadu” adalah “musang berbulu ayam”. Hati-hati, jangan sampai Yuwana mati lena.
 
MALING SANDI:
 
Pengertian “Sandi” adalah tersamar. Maling sandi adalah orang yang melakukan perbuatan jahat secara tersamar, atau tidak kentara. Ada banyak cara untuk menyamarkan kejahatan. Antara lain seperti yang telah disebut di atas: Maling sadhu dan maling kebunan.
 
MALING SAKUTHU
 
“Sakuthu” sama dengan “sekutu”. Dalam hal ini malingnya punya komplotan. Komplotan dalam “maling sakuthu” adalah tetangga yang dimalingi.
 
MALING TIMPUH
 
Timpuh adalah “duduk” dengan kaki bersimpuh.  Bagaimana orang duduk bisa jadi maling? Inilah salah satu kepandaian orang Jawa memberi istilah. Pengertiannya memang orang yang tidak usah bergerak tetapi bisa mencuri. Merupakan perbuatan yang amat tercela dan dilarang keras oleh agama. Penjual yang mengakali timbangan adalah “maling timpuh”. Demikian juga tukang emas yang mengurangi berat emas yang dia garap/perbaiki.
 
MALING TOTOS
 
“Totos” adalah boss yang ditakuti. “Maling totos” adalah bossnya maling. Sering disebut juga dengan “gegedhug” atau “benggol”
 
MALING NEBU SAUYUN
 
“Tebu sauyun” adalah serumpun tebu. Pengertian “Maling nebu sauyun” adalah orang atau keluarga yang tinggal serumah, kelakuannya tidak baik semua (copet, penipu, maling, perampok, dll).
 
MALING ATMA
 
“Atma” adalah jiwa. Jadi yang dimaksud dengan “maling atma” adalah pencuri yang melakukan tindakan pembunuhan.
 
MALING SAMUN
 
“Samun” adalah samar dalam pengertian “tidak jelas atau kabur”. Ada perbedaan dengan “sandi”. Kalau dalam “sandi” orang tersamar dalam tindakannya,  maka dalam “samun” yang samar adalah manusianya sendiri. Contoh sederhana dari “maling samun” adalah kalau saya menemukan barang berharga di jalan kemudian saya simpan dan tidak saya laporkan kepada yang berwajib, maka saya termasuk “maling samun”.
 
LIDING DONGENG
 
Kata “maling” tidak selalu berarti “durjana” walaupun pada umumnya demikian. Kira kenal kata MALING DHENDHENG, MALING RARAS dan MALING RETNA yang punya arti sama yaitu pencuri hati/asmara.
 
Demikian pula “maling” tidak harus disebut “maling”. Yang disebut GENTHO TLESOR adalah pengembara yang sambil jalan sambil mencuri. Kalau selamat, tujuan sampai dengan biaya dari mencuri (tlesor, tlengsor: pengembara). Dan ... siapa yang tidak kenal kalimat KUCING ENDHASE IRENG (Iwan MM).
 

Tuesday, March 26, 2013

TINDAK HATI-HATI DALAM PARIBASAN JAWA (2): OPERASIONALISASINYA


Contoh tindak hati-hati dalam kehidupan Jawa dapat dibaca pada tulisan-tulisan terdahulu. Semua berkesan menimbulkan “kelambatan”. Tetapi kalau dari aspek waktu semua sudah direncanakan dengan bai, kelambatan itu pasti tidak akan terjadi.

1.    Dalam melaksanakan segala sesuatu harus melalui pertimbangan matang seperti ajaran dalam Serat Wulangreh, dengan Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa.

2.    Tujuan akhir adalah “Titis” yang artinya tepat pada sasaran. Langkah-langkahnya adalah Tata, Titi,Tatas dan Titis.

3.    Apabila menyangkut keuangan, maka harus pandai menyimpan, pandai menggunakan dan berhati-hati. Gemi dan Nastiti adalah rumusnya

 
 
Paribasan yang bernada Alon-alon waton klakon, adalah manifestasi tidak hati-hati, seperti telah ditulis pada Tindak hati-hati dalam paribasan Jawa (1): Mau rindhik atau rikat?. Mengenai pesan-pesan tindak hati-hati dalam paribasan Jawa, dapat dibaca pada beberapa contoh di bawah:
 
 
PARIBASAN DAN OPERASIONALISASI TINDAK HATI-HATI
 
EMBAT-EMBAT CLARAT (Embat-embat: ditimbang-timbang; Clarat: Cleret gombel, bunglon). Warna kulit bunglon pelan-pelan akan berubah seperti warna dasar tempat ia bertengger. Dapat diibaratkan sebagai sikap hati-hati dan waspada kalau dikaitkan dengan kata depannya yaitu “embat-embat”. Dapat kita katakan “embat-embat clarat” sebagai sikap kewaspadaan umum sebelum bertindak. Meminjam istilah yang sering saya dengar tahun 1980an, waspada  terhadap ATHG (Ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan)
 
ANA BAPANG SUMIMPANG (Bapang: Papan dengan tiang yang dipasang di pinggir jalan untuk tanda petunjuk nama desa, nama jalan dan sebagainya).
 
Dalam paribasan ini “bapang" dianggap sebagai papan melintang yang menghalangi perjalanan kita. Lebih baik kita "sumimpang" saja daripada berkeras menerjang bapang.
 
Pengertiannya: Hal-hal yang menimbulkan masalah lebih baik kita singkiri dan cari jalan lain. Pertimbangannya: “Mengapa harus diterjang kalau kita bisa menyimpang”.
 
ANA CATUR MUNGKUR (Catur: pembicaraan; Mungkur: membelakangi, dalam hal ini diartikan sebagai menyingkir).
 
Pengertiannya: Kita tidak perlu ikut-ikut urusan orang lain. Sebagai contoh, jangan gatal kemudian ikut nimbrung kalau ada orang bicara tidak baik tentang orang lain (ngrasani). Risikonya kita bertambah musuh, salah-salah kena perkara. Akibatnya waktu dan energi terbuang hanya untuk mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak perlu ada.
 
ANGON IRIBAN (Angon: Momong, mengasuh; Irib: arti harfiahnya adalah “mirip”). Pengertiannya adalah memahami hati atau memahami “mood” seseorang sebelum kita bicara. Kalau “mood” pas tidak baik, lebih baik kita bicara lain waktu saja.
 
ANGON KOSOK (Kosok: membersihkan). Pengertiannya hampir sama dengan “angon iriban” di atas. Sebelum berurusan dengan orang lain, kita harus pahami lebih dahulu perilakunya. Kita “kosoki” (teliti menyeluruh) semuanya, sehingga dalam bertindak kita bisa lebih empan papan.
 
Kosok juga berarti “rebab” (alat musik Jawa yang digesek). Bila kita “niyaga” (penabuh gamelan), harus dengarkan nada “rebab”. Misalnya jangan sampai kita gunakan nada yang beda saat rebab berbunyi “pathet manyura”. Dalam hal ini kita menjadi orang yang ORA ANGON KOSOK.
 
ANGON MANGSA (Mangsa: Waktu). Dalam bertindak apapun, termasuk menemui seseorang, kita harus mencari waktu yang pas.
 
Angon iriban, angon kosol dan angon mangsa termasuk kegiatan memanajemen manusia, yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan ungkapan "mrangkani kudhi". Momong orang sulit.
 
DIKENA IWAKE AJA NGANTI BUTHEK BANYUNE (Tertangkap ikannya tetapi jangan sampai keruh airnya). Tujuan tercapai tetapi tidak membuat heboh. Contoh sederhana misalnya menangkap penjahat dan menaggulangi wabah penyakit. Penyahat tertangkap, wabah tertangani tetapi jangan membuat rakyat (diibaratkan dengan “banyu”) panik.
 
 
LIDING DONGENG:
 
Semua yang “rindhik” dan tidak “rikat” di atas pada dasarnya karena manusia harus “ngati-ati” dalam segala hal. Ngati-ati berarti harus selalu waspada. Oleh sebab itu kita juga diingatkan bahwa orang yang waspada akan selamat, dan orang yang tidak waspada bisa celaka: YITNA YUWANA LENA KENA.
 
PUPUR SADURUNGE BENJUT adalah gambaran bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Mencegah merupakan tindakan rutin dan orang bosan dengan segala sesuatu yang berbau rutinitas. Banyak sekali contohnya: mencegah maling dengan siskamling rutin, mencegah kecelakaan dengan pemeriksan mesin mobil secara berkala, mencegah demam berdarah dengan pembersihan sarang nyamuk seminggu sekali.
 
Manusia biasanya lalai, dan merasa lebih heroik apalagi bisa bisa punya bahan ceritera seru tentang: Mengejar maling, tabrakan dan opname. Manusia ternyata lebih memilih PUPUR SAWISE BENJUT.
 
YUWANA MATI LENA adalah peribahasa yang mengingatkan kita bahwa  orang baik-baik bisa mendapat celaka karena tidak hati-hati atau tidak waspada. Bukankah kita semua orang YUWANA? Eman-eman (sayang) kalau sampai MATI LENA. (IwanMM)
 

Sunday, March 24, 2013

TINDAK HATI-HATI DALAM PARIBASAN JAWA (1): MAU RINDHIK ATAU RIKAT?


Teman saya, Toni, pernah bertanya: “Pak, orang Jawa itu efektif atau efisien?” Pertanyaannya mengingatkan saya ke peristiwa lebih 30 tahun yang lalu, ke teluk Kao di Maluku Utara. Ada permukiman transmigrasi dari Jawa, di sana. Seorang pegawai Puskesmas menyampaikan kepada saya: “Orang Jawa itu kalau membersihkan rumput dia cabuti satu persatu. Kan kerja jadi lama.”
 
Ini komentar bagus sekali, pikir saya.  “Betul, tapi rumput tercabut sampai ke akar-akarnya. Lama baru tumbuh kembali. Lain dengan kamu, satu jam kerja selesai karena langsung dibabat dengan parang. Tapi tiga hari sudah rumput panjang lagi”.
 
Kesimpulannya memang sifat dasar orang Jawa itu efektif tetapi dari segi waktu menjadi kurang efisien. Saya sampaikan pada Toni bahwa sekarang karena pergaulan sudah luas, sifat-sifat dasar tersebut sudah tidak kelihatan. Tetapi intinya ketidak-efisienan dari segi waktu tersebut sebenarnya karena sifat hati-hati.
 
Di bawah adalah beberapa contoh sifat kehati-hatian tersebut dalam paribasan Jawa yang nyaris semuanya menggunakan “purwakanthi” sebagai pemanis sekaligus memudahkan untuk diingat:
 
 
MENGAPA LEBIH BAIK “RINDHIK” (PELAN)
 
ALON-ALON WATON KLAKON dalam bahasa Indonesia juga kita kenal kalimat serupa: BIAR LAMBAT ASAL SELAMAT demikian pula dalam bahasa Inggris kita kenal: BETTER LATE THAN NEVER. Kelihatannya paribasan ini bersifat “universal”  Alon, lambat dan late disini maksudnya bukan terlambat, tetapi mengerjakannya tidak perlu grusa-grusu kesusu. Demikian pula kata “waton klakon” bukan berarti “asal sampai”. Tetapi “sampai” sesuai waktu yang direncanakan. Dalam peribahasa yang lain dikatakan bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan TATA, TITI, TATAS dan TITIS. Jadi: Maksudnya “alon-alon” adalah mengerjakan dengan “tata dan titi” sedangkan “klakon-nya” secara “tatas dan titis” yang artinya selesai tepat waktu.
 
GLIYAK-GLIYAK TUMINDAK. Maknanya sama. Gliyak-gliyak adalah jalan santai, dan tumindak adalah bertindak. Mengapa berani gliyak-gliyak? Karena sudah diperhitungkan “time frame” nya dengan perencanaan yang “tata dan titi”.
 
GREMET-GREMET SLAMET. Maknanya sama dengan alon-alon dan gliyak-gliyak, hanya lebih disangatkan dengan menggunakan kata “gremet”. Nggremet adalah merambat. Lha kapan sampainya? Perlu dijelaskan disini bahwa pilihan kata “nggremET” adalah untuk padanan purwakanthi bagi kata “slamET”. Tidak ada hubungannya dengan slamet tapi telat misalnya bila lalulintas padat merambat.
 
 
 
MENGAPA TIDAK PILIH “RIKAT” (CEPAT)
 
KEBAT KLIWAT (Kebat: cepat; Kliwat: lelewatan). Cepat bukannya jelek. Yang dimaksud dengan “kebat” disini adalah ketergesa-gesaan. Sebagai contoh kalau pada awal kita leha-leha kemudian setelah waktunya mepet kita baru bergerak, yang pasti jadi tergesa-gesa dan pasti ada yang kelewatan. Untuk orang yang mau bepergian, ada barang yang ketinggalan. Untuk yang mengerjakan proyek, kalau dikebat karena tutup tahun sudah dekat, pasti hasilnya banyak kekurangan.
 
GANCANG PINCANG (Gancang: tergesa-gesa; Pincang: timpang). Orang berjalan kalau tergesa-gesa, banyak peluang untuk menjadi pincang. Mulai dari kaki lecet, terantuk batu sampai ketabrak becak. Mengerjakan sesuatu dengan “gegancangan” hasilnya bisa “mislek” kata orang Jawa yang mencoba berbahasa Belanda.
 
KESUSU KESARU (Kesusu: tergesa-gesa; kesaru: tiba-tiba kedatangan yang lain, bisa orang, bisa pekerjaan, bisa masalah). Bisa dibayangkan bahwa orang tergesa-gesa mengerjakan sesuatu yang nyaris terlambat kemudian kedatangan pekerjaan lain atau masalah baru. Pasti yang dikerjakan dengan kesusu tidak selesai atau mutunya tidak baik, dan yang “nyaru” tiba-tiba datang tidak tertangani.
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Bukan sekedar permainan kata. Mau pilih mana? Kebat tetapi ada yang kelewatan, Gegancangan tetapi pincang dan kesusu tetapi kesaru? Atau alternatif satunya: Gliyak-gliyak, alon-alon, bahkan nggremet tetapi tumindak, klakon dan slamet yang berarti terlaksana, tepat waktu dan tepat sasaran?
 
Kata kuncinya adalah kita harus “sabar”. Tidak tergesa-gesa, tidak grusa-grusu, tidak nabrak-nabrak. Perhitungkan semua dengan “tata dan titi” termasuk kemungkinan kelambatan sehingga hasil akhirnya “tatas dan titis”. SAREH PIKOLEH berarti mengerjakan apa saja harus sabar, jangan tergesa-gesa, karena SABAR SUBUR.
 
Rindhik yang tidak ditolerir dalam budaya Jawa adalah NGULER KAMBANG. Yang satu ini betul-betul alon yang tidak klakon, dan di luar ranah sifat sabar atau sareh. “Nguler kambang adalah sifat pemalas yang dapat dibaca pada posting Nguler kambang dan kebat kliwat.
 
Bagaimana bertindak hati-hati menurut paribasan Jawa dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: TINDAK HATI-HATI DALAM PARIBASAN JAWA (2): OPERASIONALISASINYA

Friday, March 22, 2013

ORANG-ORANG SEHATI DALAM PARIBASAN JAWA


Bila kita membaca kisah klasik “The Three Musketeers” karya Alexandre Dumas, kita akan berkenalan dengan tiga musketeers: Athos, Pothos dan Aramis yang dudu sanak dudu kadang tetapi betul-betul kompak saling bahu membahu dalam membela raja Perancis.
 
Ubaya (sumpah) mereka adalah “All for one, one for all”. Dalam dunia pedhalangan kita akan menemukan dua putera Pandawa yang senantiasa bahu-membahu, yaitu Gatotkaca dan Abimanyu.
 
Orang-orang sehati ini, ada dalam berbagai jenis dan tingkatan: Misalnya antara laki-laki dan perempuan, di kalangan orang baik maupun orang jahat, kekompakan yang biasa-biasa saja sampai kebersamaan yang patriotik.
 
Beberapa contoh paribasan Jawa mengenai orang-orang yang "sehati" ini antara lain sebagai berikut:
 
 
A. KUMPULAN ORANG JAHAT
 
1. KETHEK SARANGGON (kethek: kera; ranggon: rumah panggung di hutan). Menggambarkan kumpulan orang-orang jahat yang tinggal serumah. Misalnya pencuri, pencopet, perampok dll. Pengertian sederhananya kurang lebih: Markas orang jahat. Di tempat itu mereka berkumpul merencanakan tindak kejahatan yang akan diperbuat.
 
2. GECUL NGUMPUL BANDHOL NGROMPOL (gecul dan bandhol bisa diartikan orang ugal-ugalan, sedangkan bandhol juga mempunyai arti pentolan penjahat; ngumpul dan ngrompol artinya sama, yaitu “kumpul jadi satu”). Peribahasa dengan purwakanthi UL dan OL ini maksudnya adalah: Orang-orang jahat yang sudah seia-sekata untuk melakukan perbuatan tidak baik.
 
 
 
B. DUA ORANG JAHAT YANG SEKONGKOLAN
 
1. DUDUTAN LAN ANCULAN (Anculan: hantu sawah untuk menakut-nakuti burung. Dudutan: tali penarik yang dihubungkan dengan anculan, sehingga penjaga sawah bisa menarik-narik tali tersebut (ndudut) dari gubuk penjaga. Hantu sawah pun bergerak-gerak dan burung-burung terbang ketakutan. Dua orang jahat yang sekongkolan (biasanya untuk menipu) disebut seperti “dudutan dan anculan”.
 
2. SI GEDHEG LAN SI ANTHUK (Gedheg: menggeleng; Anthuk: mengangguk). Sama persis dengan dudutan lan anculan. Dua orang yang sekongkolan untuk menipu. Yang satu menggeleng, satunya mengangguk. Dapat dibaca pada posting Gedheg lan anthuk, dudutan lan anculan
 
3. PIDAK SIKIL JAWIL MUNGKUR maksudnya sama persis dengan dua yang di atas. Ketika saya mau bermain peran, maka sembari ngomong saya injak (pidak) kaki kroni saya, supaya ia tahu bahwa saya sudah mulai. Selain dengan cara injak kaki, bisa juga dengan cara mencolek (jawil) secara tidak kentara (Mungkur: arti harfiahnya membelakangi).
 
 
C. DUA ORANG YANG COCOK SATU SAMA LAIN
 
Contoh di bawah tidak ada kaitannya dengan sekongkolan untuk kejahatan, tetapi benar-benar dua sahabat yang sudah cocok satu sama lain.
 
1. TUMBU OLEH TUTUP (Tumbu: wadah biasanya dibuat dari anjaman bambu, bentuknya segi empat dan ada tutupnya). Tumbu yang tidak berpenutup kemudian mendapatkan tutup menggambarkan dua orang yang sifatnya cocok satu sama lain. Dua orang baru berkenalan kemudian langsung akrab bisa dikomentari dengan: “Wah kaya tumbu oleh tutup”.
 
2. SATU MUNGGWING RIMBAGAN (Satu: sesuatu yang akan dicetak; Munggwing: mungguh ing, berada di; Rimbagan: cetakan. Maksudnya persis dengan “tumbu oleh tutup”.
 
3. KAYA MIMI LAN MINTUNA
 
Mimi dan mintuna, sejenis ketam di pantai yang antara jantan dan betinanya amat rukun. Si jantan (mimi) selalu mengikuti kemana si betina (mintuna) pergi. Menggambarkan sepasang suami isteri yang amat rukun, kemana-mana selalu bersama. Dapat dibaca di posting Mimi lan mintuna. Bebasan ini merupakan contoh pepindhan.
 
 
D. TINGKAT KEERATAN HUBUNGAN
 
1. RENGGANG GULA KUMEPYUR PULUT
 
Ini adalah contoh sanepa dalam paribasan. Gula yang menyatu saja masih dikatakan renggang. Demikian pula pulut (getah) yang lengket masih dikatakan kumepyur (berbutir). Menggambarkan keeratan hubungan “antar manusia” bukan/ tidak terkait dengan “seksual” antara dua orang. Bisa antara sesama jenis bisa pula dengan lawan jenis
 
2. JANGET KINATELON
 
Menggambarkan tingkat kerukunan yang amat sentausa. Menurut Padmasukatja dulu ada perkumpulan yang diberi nama “Janget Kinatelon”, didirikan oleh: RM Suwardi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara), Dr Tjipta Mangunkusuma dan Douwes Dekker (Setyabudi). Janget adalah tali yang terbuat dari kulit dan kinatelon artinya rangkap tiga. Betapa kuatnya: Sudah kuat masih rangkap tiga.
 
 
E. VISI DAN MISI YANG SAMA
 
1. GLATHIK SAKURUNGAN (Sakurungan: satu sangkar) menggambarkan orang-orang yang bersatu dalam kesamaan cita-cita (visi).
 
2. JENANG SALAYAH (Salayah: satu cobek) artinya sama dengan “glathik sakurungan”
 
3. GENDHON RUKON (Gendhon adalah “uret” atau larva serangga semacam kumbang yang ada di bawah pohon salak, aren, dll). Bila sudah mempunya visi bersama (shared vision) maka orang akan melangkah secara bersama pula untuk melaksanakan misi bersama (shared mission). Orang yang  “gendhon rukon” adalah orang yang melakukan semuanya secara bersama. Dapat digunakan juga untuk menggambarkan suami-isteri yang kompak dalam menjalankan tugas rumah-tangga.
 
 
F. SEMANGAT KEBERSAMAAN
 
1. ENDHOG SAPATARANGAN, PECAH SIJI PECAH KABEH (Patarangan: tempat ayam bertelur). Maksudnya adalah dalam satu kelompok, satu orang menderita (digambarkan dengan “pecah siji”) maka yang lain pun akan ikut menderita (pecah kabeh)
 
2. SABAYA PATI SABAYA MUKTI, mati maupun mukti senantiasa bersama. Menggambarkan kerukunan sampai mati walaupun “dudu sanak dudu kadang”
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Betapa luhurnya “kebersamaan”. Merujuk kembali pada posting Serat Wulangreh: Tuladha dari kluwak, Sri Pakubuwana IV mengingatkan supaya kita tidak seperti buah kluwak. Waktu muda menyatu (antara kulit buah dan daging buah), setelah tua justru memisah. Akhirnya hanya jadi bumbu pindang. Banyak diantara kita yang seperti itu. Teman sepermainan waktu kecil, bisa berseberangan setelah dewasa. Kita ingatkan kembali pada sebuah paribasan: RUKUN AGAWE SANTOSA, CRAH AGAWE BUBRAH (IwanMM)

Wednesday, March 20, 2013

HUBUNGAN KEKELUARGAAN DAN PERSAHABATAN DALAM PARIBASAN JAWA (2)


Namanya manusia, bisa saja terjadi silang pendapat, bahkan antara saudara kandung seayah seibu pun hal ini bisa terjadi. Bisa rukun dengan sendirinya bisa pula memerlukan seorang mediator untuk melerai. Sepanjang semangat kekeluargaan kita junjung tinggi maka semua akan baik-baik saja.
 
 
 
KERETAKAN HUBUNGAN KEKELUARGAAN
 
CACA UPA arti harfiahnya adalah butir nasi (upa) yang retak atau renggang (caca). Butir nasi (upa) yang dari sononya sudah menyatu bisa juga menjadi “caca” (retak). Pengertiannya adalah: Meretakkan hubungan persaudaraan (termasuk persahabatan). Banyak hal yang membuat hubungan antar manusia retak, mulai dari yang sepele sampai yang complicated.
 
Persaudaraan yang tidak bisa rukun digambarkan dalam bebasan yang juga ada dalam bahasa Indonesia: KAYA ASU KARO KUCING (seperti anjing dengan kucing) dan KAYA BANYU KARO LENGA (seperti air dengan minyak)
 
Adalah satu kondisi dimana begitu alerginya seseorang pada orang yang lain, dibaratkan dalam bebasan: DADIYA GODHONG EMOH NYUWEK, DADIYA BANYU EMOH NYAWUK, DADIYA DALAN EMOH NGAMBAH, DADIYA SUKET EMOH NYENGGUT. Andaikan daun tidak mau menyobek, air tidak mau menciduk, jalan tidak mau melewati dan rumput tidak mau mencabut, betul-betul sudah tidak mau “sapa-aruh” lagi. Apakah betul-betul tidak akan “wawuh” lagi? Selama ini tidak ada kata-kata DADIYA SEGA EMOH MANGAN dan DADIYA BANYU EMOH NGOMBE. Berarti kurang dan lebihnya, keretakan hubungan bukanlah sesuatu yang sifatnya menetap.
 
 
PERTENGKARAN DALAM KELUARGA
 
Pertengkaran dalam keluarga umumnya tidak akan lama, pasti segera rukun kembali. Ceritera dalam peribahasa jaman dulu mengatakan: KAYA BANYU PINERANG atau dengan kalimat yang lebih jelas lagi: BANYU PINERANG ORA BAKAL PEDHOT. Arti harfiahnya adalah: Air dipotong (pinerang: memotong pakai pisau atau parang) tidak akan putus. Memotong air adalah perbuatan mustahil. Mungkin air akan tersibak sebentar kalau kita gunakan kekuatan besar. Tetapi tidak lama kemudian akan menyatu kembali.
 
Saudara yang bertengkar dengan semangat “banyu pinerang ora bakal pedhot” tentunya harus difasilitasi agar rukun kembali. Oleh sebab itu kita kenal bebasan NYAMBUNG WATANG PUTUNG (watang: kayu panjang semacam galah, atau tombak tanpa ujung tajam). Dalam ungkapan Jawa tidak dikenal peribahasa semacam PATAH ARANG (hubungan yang sudah tidak bisa dipulihkan kembali)
 
Perselisihan boleh saja memuncak, tetapi pada akhirnya akan kembali pada ungkapan dalam peribahasa: TEGA LARANE ORA TEGA PATINE. Bagaimanapun juga masih saudara. Kita bisa tega sampai batas-batas tertentu (dalam peribahasa ini: tega sakitnya). Tetapi pada akhirnya kita akan membela juga.
 
 
JANGAN TERLENA DENGAN KEDEKATAN
 
Hubungan keluarga dan persahabatan janganlah menjadikan kita terlena. Setidaknya ada tiga peribahasa/bebasan yang perlu kita perhatikan guna dijadikan “pepeling”.
 
 “Cangklakan” (ketiak) merupakan bagian tubuh kita yang amat dekat ke jantung. SATRU MUNGGWING CANGKLAKAN arti harfiahnya adalah: Musuh berada di ketiak (satru: musuh; munggwing: mungguh ing, berada di; cangklakan: ketiak). Pengertiannya: Orang dekat, termasuk keluarga bisa juga menjadi musuh. Kita sering lupa mengenai hal ini, bahwa orang yang paling kita percaya bisa saja menjadi musuh yang paling berbahaya. Dapat dibaca di posting Satru munggwing cangklakan.
 
Kunang-kunang yang dalam bahasa Jawa disebut “Konang” adalah serangga malam yang punya lampu kelap-kelip, mengibaratkan orang punya gebyar. KADANG KONANG adalah bebasan Jawa yang punya arti: Yang diakui sebagai saudara (kadang) hanyalah orang-orang yang punya kedudukan, kaya, punya kelebihan, priyayi dll yang hebat-hebat. Selain yang itu tidak direken. Demikian pula nasib “konang” kalau sudah kehilangan cahayanya. Tidak diakui lagi sebagai kadang. Sifat tidak baik ini dapat dibaca pada posting: Kadang Konang.
 
Yang terakhir ini populer untuk jaman sekarang sebagai salah satu unsur KKN yaitu bebasan: NGIKET-IKETI DHENGKUL, NGOPYAHI DHENGKUL atau NASABI DHENGKUL. Tulisan lebih panjang mengenai dengkul dapat dibaca di posting: Ungkapan bahasa Jawa dengan “dhengkul”. Arti harfiahnya adalah: Memberi tutup kepala pada dengkul. Dengkul adalah bagian tubuh kita, ikat kepala/tutup kepala melambangkan kedudukan. Pengertiannya adalah memberi jabatan pada anggota keluarga kita sendiri.
 
Hati-hati dengan perilaku "ngiket-keti dhengkul" karena ada satu lagi bebasan dengan “dhengkul” di luar konteks judul tulisan ini, yaitu: DHENGKUL IKET-IKETAN. Pengertian iket sama dengan yang di atas, tetapi untuk “dhengkul” berbeda. Disini dhengkul adalah barang tumpul (masa ada orang yang dengkulnya tajam). Karena pakai ikat kepala, berarti dengkul dianggap kepala yang otaknya tumpul. Tentunya akan mencoreng nama keluarga kalau kita “ngiket-iketi dengkul” dengan pertimbangan “bacin-bacin iwak, ala-ala sanak” ternyata hasilnya “dhengkul iket-iketan”.
 
 
LIDING DONGENG
 
Terhadap saudara atau teman yang memang tidak baik, diibaratkan dalam bebasan CUPLAK ANDHENG-ANDHENG ORA PRENAH PANGGONANE. Cuplak adalah sejenis penyakit kulit yang menimbulkan binti-bintil, andheng-andheng adalah tahi lalat (yang dalam keadaan tertentu bisa berubah jadi kanker) Kalau tempatnya tidak tepat (ora prenah panggonane) biarpun saudara atau teman lebih baik disingkirkan saja.
 
Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan seharusnya tidak seperti peribahasa EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN, atau disebut juga AMBAU KAPINE yang artinya adalah pilih kasih, memperlakukan orang secara berbeda. Kita semua bersaudara. Semangat kita seharusnya sesuai dengan peribahasa DUDU SANAK DUDU KADANG, YEN MATI MELU KELANGAN, yang artinya: Walaupun orang lain, kalau menderita harus kita bela. (IwanMM)
 

Monday, March 18, 2013

HUBUNGAN KEKELUARGAAN DAN PERSAHABATAN DALAM PARIBASAN JAWA (1)


Manusia sebagai makhluk sosial tidak hidup menyendiri. Dalam pergerakan hidupnya sepanjang ia tidak tidur, maka ia akan selalu berhubungan dengan orang lain. Baik yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau pertalian darah, maupun yang tidak ada kaitan kekeluargaan samasekali.
 
Pada umumnya hubungan kekerabatan orang timur amat erat. Ada sisi baiknya ada sisi buruknya. Secara umum pada akhirnya orang cenderung membela keluarga atau orang yang mempunyai hubungan dekat.
 
Kita kenal bebasan MAMBU-MAMBU YEN SEGA. Arti harfiahnya adalah: walaupun bau, tapi nasi. Walaupun jelek (kelakuannya) tetapi masih saudara. Demikian pula ada bebasan yang menggunakan purwakanthi (AK): BACIN-BACIN IWAK, ALA-ALA SANAK yang pengertiannya adalah: walaupun jelek, masih sanak (keluarga). Kalau ada apa-apanya, pasti tidak tega.
 
Ada beberapa peribahasa maupun bebasan Jawa terkait dengan hubungan kekeluargaan dan persahabatan, antara lain sebagai berikut:
 
 
TIDAK ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN SAMASEKALI
 
Dalam paribasan maupun bebasan Jawa, orang lain yang tidak ada kaitan hubungan keluarga, baik melalui pertalian darah maupun pernikahan, kita katakan dengan ungkapan ORA MAMBU ENTHONG IRUS dan satu lagi ORA MAMBU SEGA JANGAN.
 
Enthong (sendok nasi), Irus (sendok untuk memasak sayur), Sega (nasi) dan Jangan (sayur) adalah sesuatu yang akrab dengan keseharian hidup manusia di rumah, sesuatu yang ada di dalam dapur kita. Mambu adalah bau. Jadi kalau orang diibaratkan dengan “ora mambu enthong, irus, sega dan jangan” berarti orang itu jauh, atau bukan keluarga.
 
 
TIDAK ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN TETAPI DEKAT
 
Orang yang tidak ada hubungan keluarga, tetapi kalau sudah menjadi amat dekat sehingga tidak ada bedanya dengan saudara, dalam paribasan Jawa bisa sebut dengan SADULUR JAMBE SURUH (Jambe: Pinang; Suruh: Sirih). Sirih dan pinang samasekali bukan saudara satu spesies, tetapi menyatu dalam kelengkapan orang makan sirih. Dapat dibaca di Bekerja dalam tim: Tuladha dari "kinang"
 
Kita kenal istilah “saudara seperguruan” yang dalam paribasan Jawa disebut SADULUR TUNGGAL BANYU. Untuk teman sekerja yang sudah erat hubungannya kita sebut dengan SADULUR TUNGGAL AJANG. Dalam “basa rinengga” kita kenal kata SADULUR SINARAWEDI. (Sara: kokoh; wèdi: sungguh-sungguh; kata sarawèdi sendiri berarti intan yang digosok). Sedulur sinarawèdi diartikan sebagai hubungan teman yang amat dekat seperti dengan saudara sungguhan).
 
 
ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN TETAPI TIDAK DEKAT
 
Paribasan SATINDAK SAPECAK adalah gambaran jauh dekatnya ikatan persaudaraan. Saudara jauh diibaratkan dengan kata “satindak” (selangkah) sedangkan saudara dekat dengan kata “sapecak” (jarak dari ujung tumit sampai ujung jari kaki).
 
Saudara yang agak jauh tetapi masih ada pertalian darah, sering kita katakan sebagai ISIH MAMBU KULIT atau ISIH MAMBU KULIT DAGING. Kita perhatikan bahwa “kulit” dan “daging” adalah organ tubuh kita yang ada darahnya. Kalau dikatakan masih berbau kulit maupun daging, berarti masih ada hubungan darah.
 
Apabila ada saudara jauh yang kemudian didekatkan lagi dengan ikatan pernikahan disebut dengan NGUMPULAKE atau NUNTUMAKE BALUNG PISAH sehingga tidak terjadi apa yang disebut dengan KEPATEN OBOR yang artinya: kehilangan lacak alur hubungan keluarga.
 
Lain lagi dengan saudara yang terkait dengan hubungan pernikahan. Secara umum kita kenal dengan sebutan KADANG KATUT. Orang-orang ini jadi saudara karena katut (terikut) dengan pernikahan. Dalam bebasan Jawa kita bisa mengatakan sebagai MUNTHU KATUTAN SAMBEL (munthu: uleg-uleg,  alat untuk menghaluskan sambal. Biasanya terbuat dari batu).
 
 
ORANG TUA DAN ANAK
 
Dalam hubungan orang tua dengan anak, orang tua yang baik pasti mendahulukan kepentingan anak daripada kepentingannya sendiri. Kita kenal peribahasa yang juga menggunakan purwakanthi (AK): ABOT ANAK KARO TELAK. Telak adalah bagian rongga mulut kita yang paling belakang. Lebih berat anak daripada telak pengertiannya adalah: lebih mementingkan kebutuhan anak daripada pribadi.
 
Jaman dulu, 1970an, ketika jadi dokter Puskesmas, saya sering memarahi bapak yang merokok atau ibu yang bersolek berat padahal anaknya kurang gizi. Ini namanya ABOT TELAK KARO ANAK. Kebutuhan pribadi dikedepankan sementara kepentingan anak terabaikan.
 
Ekses dari “Abot anak karo telak” adalah orang tua memanjakan anak secara berlebih-lebihan. Akibatnya justru orang tua akan mengalami kerepotan (kepradah) karena kelakuan tidak baik (molah) anaknya: ANAK MOLAH BAPA KEPRADAH. Dapat dibaca pada posting Lesmana Mandrakumara: Anak Polah Bapa Kepradah. Sebaliknya anak juga tidak boleh tinggal diam kalau orang tua mengalami masalah. Ada peribahasa BAPA KESULAH ANAK KEPOLAH (Sulah: Tombak; kesulah: Kena Tombak; Polah: gerak).
 
Perlu dicatat bahwa orang tua harus introspeksi kalau kemudian ia  harus “kepradah” akibat dari “polah” perilaku anak yang tidak baik. Ada peribahasa KACANG MANGSA TINGGALA LANJARAN dan satu lagi ORA ANA BANYU MILI MANDHUWUR. Pengertian keduanya adalah: Watak anak umumnya sama dengan orang tuanya atau watak orang tua menurun ke anak. Dapat dibaca pada posting: Kacang ora ninggal lanjaran dan ora ana banyu mili mendhuwur. Dengan demikian sebesar-besar kemarahan kita kepada anak, jangan cepat-cepat menyumpahi anak dan mengatakan ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI yang artinya:  Biarlah kehilangan anak satu tidak apa-apa.
 
MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO (pikul yang tinggi kubur yang dalam) adalah bakti anak kepada orang tua. Angkatlah kebaikan orang tua setinggi-tingginya dan kuburlah sedalam-dalamnya kalau ada kekurangannya.
 
 
LIDING DONGENG: KISAH SAPU LIDI DAN KERUKUNAN KELUARGA
 
SAPU ILANG SUHE (Sapu kehilangan pengikatnya) adalah bebasan yang menggambarkan hubungan keluarga yang tidak erat karena tidak ada pengikatnya lagi. Ketika kakek dan nenek sudah meninggal dunia, maka hubungan dengan sepupu bisa menjadi jauh. Apalagi kalau kemudian masing-masing terpisah jauh karena pekerjaan dan tempat tinggal.
 
Adalah sebuah wisdom story yang dapat dibaca pada posting Guyub Rukun, tentang seorang bapak yang prihatin karena anak-anaknya tidak rukun. Sang bapak lalu mengambil sapu lidi, dilepas pengikatnya, kemudian dengan mudah lidi yang sudah lepas dipotong satu-persatu. Ketika lidi disatukan kembali dalam pengikatnya, tidak ada yang mampu mematahkannya. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” bukankah ini yang kita inginkan? Jangan seperti “Sapu ilang suhe”. (Iwan MM)
 
 

Most Recent Post

POPULAR POST