Thursday, August 30, 2012

PITUTUR YANG TERSIRAT DARI KISAH PANDAWA BELAJAR MEMANAH

Semasa remaja, Pandawa dan Kurawa bersama-sama berguru pada Pendeta Dorna. Salah satu mata ajarnya adalah “memanah”. Dulu saya baca tentang ini di komik RA Kosasih, yang sekarang dicetak ulang dan bisa kita dapatkan di toko buku dengan harga yang ternyata mahal juga.


BAGAIMANA GURU MENDIDIK MURID

Pendeta Dorna sebagai mahaguru yang kawentar kepiawaiannya tentu sudah menyusun GBPP dajn SAP nya dengan baik. Ketika pelajaran teori sudah lengkap disampaikan, tibalah saatnya pelajaran praktek. Ia membuat gambar/boneka seekor burung kemudian diletakkan tinggi di dahan pohon. Setelah semua siap membidik dengan gendewa dan anak panah masing-masing, maka sebelum mulai melepas anak panah murid-muridnya ditanyai dulu satu persatu: “Raden sasuwene sira nyipat jemparing iku apa kang katon?”

Jawabannya ternyata beraneka-ragam: Duryudana mengatakan melihat burung besar dan Dursasana bahkan sudah membayangkan makan burung panggang. Yudistira mengatakan melihat burung, saudara-saudaranya, dan gurunya. Demikianlah semua mengatakan melihat burung, dahan, ranting, ini lagi, masih tambah  ini lagi. Kepada mereka sang mahadwija hanya mengatakan: “Wis ngger aja mbok terusake, mesti lupute”

Hanya Harjuna yang diijinkan melepas anak panah dan berhasil menembus kepala burung-burungan itu. Ketika ditanya, Harjuna mengatakan bahwa ia hanya melihat kepala burung. Dipancing dengan pertanyaan warna bulunya apa, Harjuna menjawab tidak melihat warna, hanya kepala burung. Sehingga hanya kepada Harjuna, Resi Durna mengatakan: “Ya wis ngger ndang lepasna jemparingmu”. Hanya Harjuna pula yang lulus. Ia kemudian menjadi jago panah tak terkalahkan.


PIKIRAN YANG “NYAWIJI”

Kita bisa melewatkan begitu saja kisah di atas tanpa analisis. Atau mengatakan: “Ah bidik-membidik bukan urusan saya”. Atau sekedar beri komentar pendek, “memanah ternyata tidak gampang”.

Satu hal yang kita petik adalah: Memanah ternyata tidak hanya butuh kekuatan fisik supaya kuda-kuda kuat dan tangan tidak begetar. Ada yang tersirat dalam pendadaran ini bahwa kita harus bisa konsentrasi. Pikiran harus “nyawiji” kepada satu titik yang menjadi sasaran kita. Kalau yang dilihat adalah burung plus sekitarnya pasti tidak akan kena. Apalagi kalau yang dilihat burung kemudian membayangkan sedapnya burung panggang, mana akan kena.

Apakah hanya itu? Sayang kalau berhenti sampai disitu. Memanah hanyalah sebuah contoh untuk pesan utama yang lebih dalam: Kalau kita sudah punya karep untuk melakukan sesuatu, maka pikiran harus nyawiji (terpusat), dengan kata lain ulat harus madhep dengan hati yang mantep. Nyawiji, madhep dan mantepnya harus kepada satu hal. Tidak boleh terpecah-belah. Bukankah mengejar sesuatu harus satu persatu? Mampukah kita mengejar sekaligus 3 ekor ayam yang lepas dari kandang? Mampukah kita belajar karate, boxing dan pencak silat barengan dan menjadi kampiun untuk ketiganya? Kalau ada, maka yang bisa seperti itu tidak banyak. Umumnya hanya mendapat salah satu, itupun  dengan susah payah, atau malah tidak mendapatkan semuanya.


LIDING DONGENG

Dikatakan bahwa ‘wong Jawa panggonane semu” (semu: tersamar). Orang Jawa bisa mengakronimkan “Panah” menjadi “empaning manah”. Maksudnya menempatkan pikiran, menata hati, sehingga tumbuh kesadaran dalam jiwa kita bahwa bila kita ingin memperoleh sesuatu kita tidak akan mengejar yang lain sebelum yang satu itu diraih.
Dalam gaya Jawa Timuran yang humoris dan lebih mudah dipahami, orang-orang yang tidak mampu berkonsentrasi pada sasaran utama ini “disemoni” (disindir) dengan parikan: TUKU RAMBAK IMBUH KRUPUK; LOR ORA NYANDHAK KIDUL ORA GADUK. (IwMM)

Tuesday, August 28, 2012

WATAK DRENGKI (2): PATIH SANGKUNI

Melanjutkan “Sifat drengki (1): Serat Wulangreh” pada tulisan ini akan disampaikan tentang tokoh wayang yang kondang dengan sifat “drengki-srei”nya, yaitu Patih Sangkuni atau dikenal juga dengan nama “Harya Suman”. Dialah perencana sekaligus provokator yang menyebabkan Pandawa terlunta-lunta.


SIAPAKAH PATIH SANGKUNI?


Sangkuni , S(h)akuni, adalah versi India. Bisa menjadi Sengkuni atau Harya Suman dalam pedhalangan Jawa. Nama mudanya adalah Raden Trigantalpati. Dipanggil Suwalaputra, karena ia anak raja Suwala dari Gandara.  Dia punya adik wanita bernama Dewi Gendari (versi India: Sangkuni kakak Dewi Gandari).
Perkenalannya dengan keluarga Hastinapura terjadi  ketika ia dan Dewi Gendari berpapasan dengan Pandudewanata yang OTW pulang dari mengikuti sayembara tanding memperebutkan Dewi Kunti. Perlu dicatat bahwa Pandudewanata saat itu sudah membawa dua orang puteri. Yang pertama adalah Dewi Kunti, dan satu lagi Dewi Madrim (setelah berhasil mengalahkan Narasoma atau Salya). Sengkuni pun bertarung melawan Pandudewanata dengan kemenangan untuk Pandu, maka kini Pandu pulang membawa tiga putri (tambah satu lagi yaitu Dewi Gendari) plus Sengkuni yang ikut “ngawula” ke Hastinapura. Selanjutnya Dewi Kunti dan Madrim diperistri raja Pandudewanata dan Dewi Gendari diperistri Drestarata, kakak Pandu yang buta.
Mulailah Harya Suman menapaki kariernya di Hastinapura sampai menjadi Patih yang melayani Duryudana dan adik-adiknya.


TUMBUHNYA BIBIT KEDENGKIAN

Bisa jadi Sangkuni memang dilahirkan untuk menciptakan keonaran. Saya baca di Wikipedia, dikatakan Sangkuni adalah titisan dewa Dwapara yang tugasnya menciptakan kekacauan di dunia. Dalam pedhalangan Jawa, Dwapara ini sepertinya tidak pernah disebut-sebut. Kalau dilihat perjalanan hidupnya, maka bibit-bibit kedengkian ini kurang lebih sebagai berikut:
1.    HARAPAN TIDAK SESUAI KENYATAAN: Sangkuni ikut ngawula ke Hastinapura bukan tanpa tujuan. Hastinapura adalah kerajaan besar. Perhitungannya Gendari akan diperisteri raja Pandudewanata. Sebagai adik dari isteri raja, ia bisa berupaya untuk mendapat peran. Kenyataannya Gendari diberikan Drestarata, kakak pandu yang saat itu bukan raja dan mempunyai cacat mata, yaitu buta.

2.    DENDAM: Gendari tidak menolak diperisteri Drestarata. Bahkan ia ikut solider dengan menutup matanya sehingga tidak melihat dunia luar. Tetapi bagaimanapun ia pasti kecewa kepada Pandudewanata. Ia berdoa supaya punya anak seratus, yang merupakan manifestasi rasa irinya. Sangkuni selalu memanfaatkan situasi ini.
 
3.    PELUANG DAN TANTANGAN: Peluang timbul ketika raja Pandudewanata wafat dan Pandawa belum dewasa. Tahta diberikan Drestarata tetapi hak atas tahta tetap pada Pandawa. Inilah tantangan bagi Sengkuni, mau exist atau exit.
 
ULAH SANGKUNI
Raja Drestarata sebenarnya bukan orang jahat. Ia bertahta atas nama Pandudewanata dan samasekali tidak punya kehendak untuk memberikan tahta kepada keturunannya sendiri, Duryudana dan adik-adiknya.  Sangkuni melihat hal ini. Baginya tidak ada cara lain selain mengenyahkan Pandawa dari Hastinapura. Pandawa pasti tidak akan mengangkat orang seperti dia menjadi patih. “Exit atau Exist”. Kalau pilih “exist” ya harus ada “extra effort”. Maka mulailah ulah kedengkian Sangkuni, antara lain:
1.    Ketika Pandawa dan Kurawa piknik di hutan Wanarawata, Sangkuni berhasil merencanakan kebakaran di gedung tempat menginap Pandawa. Beruntung Pandawa dan ibunya, Dewi Kunti berhasil selamat. Kisah ini terjadi pada bagian awal Mahabharata. Dalam pedhalangan Jawa dikenal dengan lakon “Bale Sigala-gala.
 
2.    Merebut kerajaan Indraprastha dari tangan Pandawa dengan permainan dadu. Dalam pedhalangan Jawa dikenal dengan lakon “Pandhawa dadu”. Sengkuni lah yang menjadi pelempar dadu dan Pandawa kalah habis-habisan. Kerajaan diserahkan, termasuk Drupadi juga harus diserahkan. Disinilah terjadi episode Drupadi dipermalukan Dursasana. Entah karena apa, hasil permainan dibatalkan Dewi Gendari. Pandawa selamat tetapi tidak lama.
 
3.    Bukanlah Sangkuni kalau tidak bisa membujuk Drestarata untuk mengadakan pertandingan ulang. Hasilnya Pandawa kalah lagi. Pandawa dapat hukuman buang di hutan selama 12 tahun kemudian harus menyamar setahun. Kalau ketahuan maka hukuman diulang lagi. Selama masa pembuangan, banyak dilakukan upaya sembunyi-sembunyi untuk membunuh Pandawa, tetapi tidak pernah berhasil.
 
4.    Selesai masa pembuangan selama 12 tahun ternyata dengan berbagai dalih kerajaan Indraprastha tidak dikembalikan kepada Pandawa. Terjadilah perang besar Bharatayuda.
KEJAHATAN TIDAK KEKAL
Sangkuni mati secara mengerikan dengan tubuh tercabik-cabik di tangan Bima menjelang akhir perang Bharatayuda. “Sapa nandur ngunduh, sapa nggawe, nganggo” demikianlah kata dalam peribahasa Jawa. Sama artinya dengan “siiapa menabur angin akan menuai badai”. Dalam pagelaran wayang kulit seri Bharatayuda, setelah episode terakhir ada tradisi melarung wayang Sengkuni ke laut. Mungkin untuk membuang sial. Orang Jawa yang suka othak-athik sampai gathuk, mengatakan nama Sangkuni adalah akronim dari mati “sangka unine” . Celaka karena omongannya sendiri. (IwMM)

Monday, August 27, 2012

WATAK DRENGKI (1): SERAT WULANGREH

“Drengki” (dengki) merupakan salah satu sifat buruk manusia. Pengertian “drengki” adalah “orang yang tidak senang melihat orang lain senang”. Kalau hanya berhenti di rasa tidak senang saja, masih OK lah. Masalahnya masih pakai “plus”. Jelasnya: Tidak senang plus upaya membuat susah atau mencelakakan. Ini yang tidak terpuji.

MENGAPA DRENGKI?


Bila kita renungkan, hal ini terjadi karena kita “kedunungan rasa melik” ingin mengambil kebahagian orang lain, bisa karena kita “anduweni rasa meri lan pambegan, tidak mau kalah dan ingin menang, bisa pula karena mau balas dendam. Tetapi ada satu lagi yang aneh. Ada orang “drengki” yang memang sudah menjadi “gawan bayi”. Biarpun  tidak punya rasa “melik, meri atau pambegan”, dan tak ada masalah samasekali, asal melihat ada orang lain senang, maka ia menjadi sebaliknya, lalu berupaya untuk mengerjai. Bila berhasil, badan rasanya “seger sumyah” sampai ke “balung sumsum”. Kasihannya orang yang punya watak “drengki”, kalau sudah menjadi kebiasaan, yang bersangkutan seolah menjadi tidak sadar lagi kalau perbuatannya tidak baik.

ORANG DRENGKI: PANDAI ATAU BODOH?

Beruntunglah orang bodoh karena otaknya tidak cukup cerdas untuk menyempurnakan kedengkiannya. Orang “drengki” harus cerdas sekaligus licik sehingga ia mampu merencanakan dan meluncurkan kedengkiannya dengan mulus. Andaikan ketahuan, ia juga cukup lihay bersilat lidah. Bergantung situasinya, ia bisa cuci tangan, pura-pura tidak tahu atau bersilat lidah memutar-balikkan kenyataan.

SERAT WULANGREH


Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, pupuh Pangkur, bait ke 9 (gambar di samping) menyebutkan bahwa pada masa sekarang ini banyak orang punya sifat “drengki”.

Dapat kita lihat deretan sifat buruk yang berkaitan: Diawali dengan “drengki” yang pengertiannya dapat dilihat pada awal tulisan ini, disusul “droi” (drohi: tidak setia), “dora” (dusta), “iren meren (iri: penjelasannya dapat dibaca pada tulisan bungah lan susah (5): dirusak oleh “meri” dan “pambegan” “panasten” (panas hati karena iri), “kumingsun” (sifat “sok”), “openan” (suka ikut campur urusan orang lain), “nora prasaja” (tidak prasaja, tidak bersifat apa adanya), “jail” (suka mengerjai orang), “methakil” (banyak akal busuk), “besiwit” (urik, nakal, tidak jujur dalam permainan). Sifat-sifat ini semuanya dimiliki orang yang “drengki”


Selanjutnya pada bait ke 11 disebutkan bahwa Orang drengki (dan banyak sifat lain yang disebut), termasuk orang "dur bala murka". "Dur" mengandung pengertian "tidak baik, jahat" dan "bala" disini artinya "kekuatan".  Maksud kepemilikan sifat seperti itu ada pada orang-orang murka yang mengikuti nafsu luamah dan amarah. (luamah lawan amarah iku ingkang den tut wuri). Ia tidak pernah puas walau sudah kesampaian maksudnya (nadyan wisa katekan karepane nora marem saya banjur).

 
PENUTUP

Cukup banyak kisah-kisah “drengki”. Barangkali ada yang masih ingat ceritera serial ketoprak tentang Patih Bestak, yang kedengkiannya bahkan bisa mempengaruhi rajanya, Prabu Nusyirwan dari kerajaan Madayin. Demikian pula dalam dunia pedhalangan. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh “Patih Sangkuni” yang dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: Watak Drengki (2): Patih Sangkuni (IwMM)

Saturday, August 25, 2012

TENTREMING ATIMU KANG GAWE KAWARASAN

Keteladanan Panembahan Senapati, antara lain tersurat dalam kalimat amemangun karyenak tyasing sesama, yang artinya adalah berkarya untuk menenteramkan hati sesama manusia.

Manusia senantiasa gelisah, meraba dan mencari ketenteraman jiwa. Anak kecil yang tidak terteram secara tidak sadar akan mengisap jempol, sebagai manifestasi tidak sadar dari ketenteraman masa bayi saat menyusu ibunya. Ada juga orang yang salah cari, dikira ketenteraman dapat diperoleh melalui alkohol dan narkoba. Padahal hasilnya hanya kecanduan dan penyakit kronis. Demikian pula orang sakit, ia mencari ketenteraman dengan berbagai manifestasi tingkah dan perilakunya. "Health seeking behavior" tiap orang tidak sama. Yang jelas ia akan mengupayakan apa saja untuk kesehatannya.


ORANG SAKIT BUTUH SEHAT

Tidak ada orang ingin sakit. Sayangnya kebanyakan dari kita tidak berupaya mencegah supaya tidak sakit, melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Yang terjadi adalah kalau sakit itu sudah terjadi, maka kita akan melakukan apa saja supaya kembali sehat. Kita berobat, berpantang makanan tertentu, rajin periksa laboratorium, termasuk pengobatan alternatif baik yang rasionil maupun yang tidak rasionil. Pokoknya kita akan berupaya walau harus merayap sampai ke Timbuktu di Afrika.

Perilaku orang sakit bisa menjadi aneh-aneh bergantung tingkat kesakitan dan ketahanan mentalnya menunggu kesembuhan yang tidak kunjung tiba. Maunya kan begitu ketemu dokter, langsung sembuh. Tamba teka lara lunga.


SAKIT ITU MENDERITA

Apapun penyakitnya, orang pasti merasa tidak enak. Bahkan ada yang mengatakan “tersiksa”. Sebagai contoh:
1.    Mata tidak mampu menikmati pemandangan indah. Semua yang orang lain merasa kesengsem, baginya kelihatan pudar dan kering.

2.    Telinga tidak mampu menikmati kicau burung maupun lagu-lagu indah. Walaupun iramanya mendayu-dayu, baginya tetap “grombyangan”

3.    Hidung tidak mampu merasakan bebauan harum. Kamar sudah diberi pewangi termasuk aromaterapi paling mahal, ia tetap merasa tidak nyaman.

4.    Lidah tidak mampu merasakan makanan enak. Percuma disediakan makanan enak sekaligus mahal karena daya pengecapnya seolah matirasa.

5.    Belum lagi ditambah penderitaan akibat sakitnya: panas, pusing, sakit kepala, sesak napas, sakit perut, gatal, ngilu tulang dan lain-lain
Pokoknya bagi orang sakit tak ada satupun kenyamanan hidup yang tersisa. Yang ada hanya siksa, Semua tidak ada yang benar. Kadang-kadang orang sakit menjadi cepat marah.


KELAKUAN ORANG SAKIT BERANEKA-RAGAM
Bagi orang sakit yang tebal imannya, dan berpendapat bahwa sakit adalah salah satu cobaan dari Allah, selanjutnya yakin bahwa cobaan Allah tidak pernah di luar kemampuan manusia untuk mengatasi, masalahnya selesai. Ia tabah, jiwanya akan tenteram, tidak terasa penyakitnya sembuh. Masalahnya tidak semua orang berperilaku demikian.
Contoh paling mudah adalah anak sakit. Ia pasti rewel. Orang dewasa pun juga bisa rewel dan uring-uringan, tidak sadar bahwa ia telah membuat dongkol orang lain khususnya yang merawat. Saya pernah ketemu seorang ibu yang mengatakan, lebih baik dia yang sakit, ketimbang suami atau anak, karena dia masih mampu mengurus rumah, suami dan anak. Tapi kalau suami dan anak yang sakit, maka semua tidak terurus. Apakah ibu ini mewakili keperkasaan kaum wanita dalam urusan sakit, kelihatannya memang demikian.
Intinya orang sakit itu kelihatan seperti  mau menang sendiri dan memang kurang lebih demikian adanya, orang sakit butuh dimenangkan supaya tenang dan tenteram.


MEMENANGKAN ORANG SAKIT.
Menang adalah kenikmatan. Coba saja tanya orang-orang yang menang. Bisa berupa kemenangan dalam pertandingan olahraga, menyelesaikan pendidikan atau mendapat promosi. Hari itu dunia menjadi miliknya dan semua perhatian tertumpah kepadanya. Memenangkan orang sakit adalah dengan memberi perhatian, kita lihat saja beberapa contoh:
1.    Anak kecil kalau sakit pasti rewel. Ia akan merasa  tenteram kalau dijaga dan dihibur ibunya.. Beruntunglah seorang anak, karena naluri ibu adalah me-nomorsatu-kan anaknya dalam segala hal. Seorang ibu bisa tidak tidur demi anak Lalu bagaimana dengan orang dewasa, siapa mau kasih perhatian 24 jam?

2.    Orang tua yang sedang sakit dan dikunjungi banyak tamu, ternyata hatinya senang sekali.   Ia merasa tidak hanya diberi perhatian tetapi juga menjadi pusat perhatian.  Aneh juga rasanya, orang sakit mestinya banyak istirahat, jangan banyak tamu, supaya cepat sembuh. Yang ini  justru dengan banyak tamu, hatinya senang, merasa diberi perhatian, lupa sakitnya dan menjadi segar. Ketika pengunjung sudah pulang, mulai lagi ia dengan keluh kesahnya.

3.    Sering  kita dengar dokter berkata kepada pasien yang intinya “tidak apa-apa, jangan khawatir”. Demikian pula perawat selalu ramah dan helpful dalam memberikan pelayanan.. Semua bertujuan menenteramkan jiwa. Tetapi ada juga teman berargumentasi: “Dokter bisa ramah kan mereka hanya berkunjung waktu visite, demikian pula perawat ada giliran jaganya. Lha kalau di rumah kan yang ada cuma kita-kita ini, 24 jam lagi. Harap maklum lah kalau lama-lama menjadi sebel juga”.

KESIMPULAN
Orang sakit butuh diberi perhatian lebih, butuh “dimenangkan” melalui perilaku dan ucapan yang menenteramkan. Salah satu operasionalisasi  “Amemangun karyenak tyasing sesama” adalah “nentremake atine kang lagi nandang lara”. Berlaku tidak hanya untuk dokter dan paramedis sebagai petugas pemberi pelayanan kesehatan, tetapi juga kepada keluarga yang di rumah dan seluruh masyarakat. Mengapa masyarakat? Karena masih ada “stigma” terhadap beberapa penyakit tertentu yang mengakibatkan si sakit dijauhi dan dkucilkan. Kapan mereka akan “bagas waras lan waras wiris kaya wingi uni” kalau dijauhi dan dikucilkan oleh sesama manusia. (IwMM)

Friday, August 24, 2012

YEN WEDI AJA WANI-WANI YEN WANI AJA-WEDI-WEDI



Ini adalah pitutur sekaligus tantangan dalam bahasa yang sederhana: kalau takut ya jangan berani-berani sebaliknya kalau berani jangan takut-takut. Maksudnya agar dalam menjalani kehidupan ini kita tidak ragu-ragu. Keraguan adalah pembunuh keberhasilan.

“yen wedi aja wani-wani”  bukan mengajar untuk jadi orang pengecut. Kalau memang setelah kita lakukan analisis hasilnya membahayakan, ya jangan dilakukan. Misalnya saja kita mau menyeberangi laut. Di pelabuhan tersedia kapal kecil tetapi sudah sarat muatan sementara ombak besar. Kalau saya sih akan memilih “yen wedi aja wani-wani”.

“Yen wani aja wedi-wedi” juga bukan mengajar kita untuk “bonek”. Tentunya harus pakai perhitungan, deduga, prayoga, watara danreringa. Kalau sudah yakin OK maka ulat harus madhep dan ati mantep untuk GO AHEAD. Pedhe dan tidak maju mundur lagi.

Dibawah adalah sebuah dongeng sebelum tidur dari eyang putri kepada cucunya tentang induk rusa yang berani melawan harimau:

DONGENG INDUK RUSA DAN HARIMAU


Adalah seekor induk rusa sedang merumput di tepi hutan bersama anaknya. Ia dikejutkan dengan kedatangan seekor harimau yang akan memangsanya. Kepada anaknya ia berpesan: “Kau jangan kelihatan takut nak, biar Emak yang menyelesaikan”. Si induk rusa segera pasang kuda-kuda. Tanduk diarahkan ke harimau, mata dipelototkan dan lidahnya yang merah dijulurkan. Si macan (yang kebetulan macan  tolol) melihat rusa punya  tanduk dengan lidah merah menjulur mengira induk rusa adalah binatang pemangsa yang ganas. Iapun lari terbirit-birit.

Macan dalam pelariannya  ketemu kera. Setelah macan berceritera apa yang dialaminya, kera pun tertawa ngakak: “Tolol kamu, Can. daging rusa itu enaknya sampai mak nyusss”. Harimau yang sudah terlanjur grogi amat sulit diyakinkan  supaya “yen wani aja wedi-wedi”. Karena ditolol-tololkan oleh si kera, akhirnya harimau berani kembali mendatangi rusa asal ditemani. Tidak hanya sekedar menemani, . ekor kera harus diikat ke lehernya, supaya kalau terjadi sesuatu maka kera tidak ngacir duluan. Dalam hal ini sikap harimau adalah “wani tetapi wedi-wedi”.

Dari jauh kelihatan seolah-olah kera berjalan menuntun harimau dengan leher terikat.  Induk rusa pun berteriak: “Hai kera, ternyata kau menepati janjimu kemarin untuk kirim makanan. Kebetulan aku sedang lapar, dan kau bawakan aku daging segar yang pasti enak sekali”.

Macan yang memang datang dengan mental “wani tetapi wedi-wedi” mendengar kata-kata keras induk rusa dengan wajah yang disangar-sangarkan, tanpa pikir panjang lagi langsung balik kanan, ngacir secepat-cepatnya, sambil mencaci-maki kera: “Binatang tolol, hampir saja nyawaku melayang. Dasar kera bego”. Sebaliknya si kera berteriak-teriak kesakitan. Tubuhnya babak-belur terantuk, terbanting dan terseret karena ekornya masih terikat pada leher harimau.

LIDING DONGENG

Induk rusa dan anaknya bersukacita bisa lepas dari bahaya. Sambil membelai kepala si kecil, ia memberi pitutur: “Anakku, dalam menghadapi masalah, ada dua pilihan. Kalau takut, ya secepatnya menyelamatkan diri. Tetapi kalau memang berani, gunakan otakmu, jangan tunjukkan ketakutanmu. Prinsipnya, yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi” demikian ia menasihati anaknya. (IwMM)

Wednesday, August 22, 2012

GETUN, CUWA, DAN SUMELANG


Tiga kata ini, “Getun, Cuwa dan Sumelang” senantiasa setia membayang-bayangi hidup manusia. Saya rangkum tulisan dalam Kalawarti Kejawen, Balai Pustaka, 1932 dan tulisan R Prawira Wiwara, Yogyakarta, 1941 sebagain berikut:


GETUN

Dari aspek waktu “getun” atau “keduwung” adalah menyesali kejadian yang sudah berlalu. Kita sering mendengar: “Seandainya saya dulu ..... tentu sekarang tidak demikian nasib saya”, yang merupakan ungkapan umum perasaan orang “getun”.

Tetapi hal itu sudah terjadi, “nasi sudah menjadi bubur”, mau apa lagi. Orang yang curhat ke”getun”annya kepada kita, mungkin hanya kita beri ucapan simpati, “sing uwis ya uwis, sing durung bae diati-ati”. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, yang belum terjadi marilah kita berhati-hati.


CUWA
“Cuwa” atau “kuciwa”, (kecewa) terjadi karena “karep” kita tidak kesampaian (baca: Karep selalu mulur dan mungkret). Dari aspek waktu “cuwa” berjalan dari “past time” sampai “present time”. Dari “cuwa” bisa menjadi “getun” kalau hasil analisis kita mengatakan bahwa maksud yang tidak sampai itu karena salah langkah pada masa yang telah berlalu. Buah dari “getun” dan “cuwa” adalah kesedihan.
“Cuwa” masih lebih baik daripada “getun”. Karena berlaku dari “past” sampai  “present time” maka kita masih bisa mengalihkan “karep” yang tidak terlaksana ke “karep” lain dengan harapan bisa berhasil. Sedangkan “getun” karena yang disesali adalah kejadian masa lalu maka tak ada pilihan lain kecuali menguburnya dalam-dalam.

SUMELANG
“Sumelang” adalah perasaan was-was. Dari aspek waktu maka perasaan “sumelang” berlaku untuk hal-hal mendatang yang belum terjadi pada saat sekarang. Misalnya sumelang kalau tidak lulus ujian, sumelang kalau sakitnya tidak sembuh, dan masih banyak lagi.
Mengapa orang punya perasaan “was-sumelang” antara lain karena sudah “gawan bayi” dia merupakan orang yang tidak pernah yakin, mungkin juga merasa persiapan kurang matang, bisa jadi ia sudah terlalu sering “kebentus-ketumbuk” sehingga jangan-jangan .... yang ini juga gagal. Lalu besok bagaimana?

JANGAN RAGU MENATAP DAN MENJALANI KEHIDUPAN

Buat apa berkeluh kesah karena keluh kesah tidak menyelesaikan masalah. Mengapa ikut-ikut orang yang kehilangan kekuatan dan harapan karena tidak tahan banting?. Mengapa tidak mengikuti jejak orang-orang yang sentausa jiwanya. Biarpun jatuh bangun tetap kembali bangkit dan pada saatnya ia akan tegak dengan gagah. Bagi orang yang kuat jiwanya maka “getun” justru merupakan “tirta amreta”, air kehidupan yang merupakan tonicum  untuk melangkah maju.
Kalau perasaan “getun, cuwa dan sumelang” bisa diminimalkan sampai mendekati “zero” maka tiga hantu ini tidak akan terlalu menakut-nakuti kehidupan manusia. Buah dari “karep” kan hanya “bungah dan susah” dan bukankah bungah susah gumantung sing nglakoni”. Maka manusia akan menjadi orang yang mampu mengelola “creative tension”nya, mampu menghadapi tantangan kehidupannya.  Dalam bahasa Jawa yang sederhana R Prawira Wiwara (1932) menulis:
  1. Urip kapan? Biyen saiki apa besuk ya wani bae
  2. Urip ing ngendi? Ana ing negara Landa, negara Cina, jeron jagad apa ing jaban jagad, ya wani bae.
  3. Urip kaya apa? Dadi kuli apa dadi ratu, dadi wong sugih apa dadi wong mlarat, ya wani bae.
LIDING DONGENG

Penyesalan dan kekecewaan tanpa upaya memperbaiki ibarat memompa ban bocor tanpa menambal lubangnya. (IwMM)

Tuesday, August 21, 2012

WASIYAT DALEM KGPAA SRI MANGKUNEGARA III: YEN PERINTAH WONG, SARAT KUDU NGLAKONI DHISIK

Ini adalah wejangan Sri Mangkunegara III kepada abdi kinasihnya, Mas Kapitan  Ngabehi Jayapranata, yang saya baca di web Sastra Jawa, Yayasan Karya Lestari, Surakarta. Sederhana kelihatannya: Untuk bisa memerintah orang, syaratnya harus pernah melakukan lebih dahulu. Analog untuk hal ini, kalau kita ingin menjadi pimpinan ya harus pernah menjadi bawahan dulu.

Penjelasan yang saya tangkap dari pitutur ini adalah:

1.    Kita bisa mengetahui kesalahan orang yang kita perintah dan membetulkan. Tidak sekedar marah-marah tetapi kita mampu memberitahu kesalahannya, menunjukkan cara melakukan yang benar sekaligus memberi contoh bagaimana cara melakukannya.

2.    Yang diperintah juga akan lebih “mituhu” (menurut), tidak banyak menyanggah, karena ia tahu bahwa kita tidak sekedar punya hak menegur tetapi punya pengalaman dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan tersebut

3.    Kita akan lebih memiliki rasa “tepaselira”, jauh dari marah dan maki-maki karena kita tahu berat ringannya, gampang susahnya pekerjaan yang dilakukan. Kita bisa menghargai orang dan pekerjaannya, jauh dari sifat sewenang-wenang

4.    Karena kita tidak menunjukkan watak “sok kuasa” walaupun berkuasa, maka yang diperintah pun akan membalas dengan keikhlasan untuk memperbaiki diri dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang “mitayani” (dapat dipercaya).

Pitutur Sri Mangkunegara III ini intinya adalah mendidik supaya orang bisa “tepa selira” mampu menempatkan diri seandainya kita menjadi orang lain. Kalau kita tidak suka dengan perilaku yang seperti itu, ya jangan memperlakukan orang seperti itu pula. Beberapa contoh sederhana, misalnya:
1.    Kalau kita pernah coba menggenjot becak bermuatan dua orang di jalan menanjak, apakah kita akan tega menawar terlalu rendah kepada tukang becak yang sedang sepi penumpang? Turun dari becak pada saat jalan menanjak adalah sifat tepa selira.

2.    Kalau pernah mencoba mencuci mobil sampai mengkilap, apakah kita tega memaki-maki sopir, untuk sedikit kotoran yang melekat di mobil?

3.    Kalau kita  pernah mencoba memasak makanan dengan hasil tidak enak, apakah kita tega mencela makanan di rumah yang kebetulan kurang garam? Apalagi yang memasak isteri kita sendiri.


KESIMPULAN


Kalau hanya memerintah, itu gampang. Tetapi memerintah manusia yang punya perasaan, dan kita ingin memperhatikan hal tersebut, ternyata tidak segampang itu. Dulu saya pernah mendapat tugas di hari libur.  Saya kerjakan baik-baik walau hati mengeluh. Tidak saya sangka besoknya saya dipanggil sebelum laporan siap.

“Bagaimana kemarin? Acara keluarga terganggu ya?” Hanya itu, beliau  tidak menanyakan hasil tugas. Tapi saya merasa diperhatikan. Lalu pimpinan saya melanjutkan: “saya dulu paling tidak senang kalau diberi tugas pada hari libur. Tapi saya tugasi siapa lagi, kalau bukan bawahan. Maaf ya”. Itulah contoh kecil seorang atasan yang memahami makna: “Yen perentah wong, sarat kudu nglakoni dhisik” (IwMM)

Sunday, August 19, 2012

SERAT WEDHATAMA: DEN AWAS, DEN EMUT, DEN MEMET, YEN ARSA MOMOT



Kalimat ini dapat dibaca pada pupuh Gambuh bait ke 25 dalam Serat Wedhatama anggitan KGPAA Sri Mangkunegara IV: Den awas, den emut, den memet yen arsa momot. jadi tujuan kita adalah MOMOT yang supaya bisa dipenuhi harus AWAS, EMUT dan MEMET.

Bait ini merupakan bait penutup Serat Wedhatama (walaupun ada versi Serat Wedhatama yang ada lanjutannya).

Lengkapnya sebagai berikut:



MOMOT

Momot adalah kapasitas memuat. Ibarat sebuah truk, maka kapasitas muatnya selain bergantung pada ukuran truk, makin besar makin muat banyak, bergantung juga kepandaian kita menata barang yang dimuat. Makin rapi penataannya, makin besar pula daya muatnya. .

Yang harus dimomot manusia bisa macam-macam. Antara lain kecerdasan baik intelektual maupun spiritual; Kemampuan menyampaikan pendapat secara runtut dan benar; Kreativitas dan inovasi; Jangan lupa juga bahwa sifat sabar dan kemampuan menyimpan rahasia merupakan kemampuan “momot” juga.

Oleh sebab itu syarat untuk bisa “momot” adalah “AWAS, EMUT dan MEMET


AWAS


“Awas” adalah sifat “waskita”, artinya tanggap penglihatan lahir dan batinnya. Dalam pupuh Kinanthi bait ke 4 (gambar di sebelah) disebutkan:

Dalam hal ini “awas” berarti “weruh warananing urip” (warana: aling-aling). Jadi tahu apa yang ada di balik kehidupan ini, dan “weruh wisesaning tunggal” yang artinya dilandasi kesadaran atas kekuasaan Allah yang Maha Esa.

EMUT

Pengertian “Emut” (eling) yang dalam hal ini adalah ingat kepada Allah SWT saya tulis dalam “Badan dan jiwa yang rewel”. Salah satunya adalah “eling” bahwa manusia ini tidak maha kuasa. Dengan demikian rasa “eling” ini menjadi penyeimbang supaya tidak tumbuh ketakaburan bahwa kita sudah menjadi orang yang “waskita”. 

MEMET

“Memet” adalah sifat yang amat teliti. Kita tidak sembarang mengucapkan, memutuskan dan melaksanakan sesuatu sebelum dipertimbangkan masak-masak. Deduga, prayoga, watara dan reringa harus dipergunakan.

MELOK

Pada baris pertama sd ke tiga pupuh Gambuh bait ke 25 di atas disebutkan “meloke ujar iku; yen wus ilang sumelanging kalbu; amung kandel kumandel marang ing takdir. Pengertian “Melok” adalah melihat dengan jelas sejelas-jelasnya. Hal ini hanya dimiliki orang-orang  yang hatinya tidak memiliki rasa was-was lagi karena tingginya keimanan kepada takdir Ilahi.

MULUK

Kata “muluk” kita jumpai pada bait sebelumnya, yaitu pada pupuh Gambuh bait ke 24, sebagai berikut:


Orang yang sudah “muluk” artinya tingkat ilmunya diakui sudah tinggi sekali, ibarat layang-layang yang “muluk” tinggi ke langit. Orang yang sudah “melok” akan “muluk”. Sebagai contoh, andaikan kita seorang dokter, maka bila ilmu kedokteran kita sudah “melok” kita akan diberi ijazah dokter, kemudian setelah memiliki  ijin praktek, barulah kita boleh muluk sesuai dengan kata-kata: “kena uga wenang muluk; kalamun wius padha melok”.

Tapi awas jangan lupa pesan pada baris pertama sampai ke tiga: “kalamun durung lugu; aja pisan wani ngaku-aku; antuk siku kang mangkono iku kaki”. Kalau kita belum bisa “lugu” dalam pengertian kalau kita belum mampu bersikap apa adanya, alias biasa-biasa saja, tidak sombong, jangan berani-berani mengaku-aku (sebagai orang yang sudah “melok” dan “muluk”) karena akan “antuk siku” atau mendapat kutukan Tuhan.

KESIMPULAN
 
AWAS, EMUT dan MEMET adalah modal dasar dalam upaya kita memperoleh kompetensi  MELOK dan memegang  legitimasi MOMOT, sehingga diperkenankan MULUK, dengan catatan harus tetap LUGU supaya tidak mendapat SIKU (IwMM)

Saturday, August 18, 2012

BUNGAH LAN SUSAH (5): DIRUSAK OLEH “MERI” DAN “PAMBEGAN”

Melanjutkan tulisan Bungah lan susah (4): Tiap orang ukurannya tidak sama, saat itu arloji saku Baskara sudah menunjukkan lewat pukul sembilan malam. Sudah larut untuk ukuran orang kecil di desa, lebih-lebih esok pagi-pagi mereka harus memulai lagi rutinitas kehidupan, guna memenuhi panggilan ana dina ana sega; ana awan ana pangan maka untuk urip dan mangan harus nyambutgawe.

“Maaf mbok, malam sudah larut. Tapi saya masih ingin tanya satu lagi”.

“Lha mangga. Kalau saya bisa menjawab, dan panjenengan bungah, saya lebih bungah lagi”.

“Orang hidup ngoyak (mengejar) drajat, semat dan kramat itu salah apa tidak?”

“Namanya orang hidup ya harus mencari ketiganya, ndara, tapi kalau boleh jangan ngoyak, yang lebih bener NGGOLEK (mencari) bukan NGOYAK (mengejar)”.


MERI DAN PAMBEGAN

“Tetapi kenapa mbok, kebanyakan cara orang NGGOLEK umumnya dengan NGOYAK?"

Mbok Sadrana tersenyum. “jawabnya sederhana Ndara, karena ia punya karep yang dirusak oleh rasa MERI dan PAMBEGAN”. Selanjutnya mbok Sadrana menjelaskan secara sederhana:

1.    MERI atau “iri” adalah perasaan kalah. Misalnya kalah pandai, kalah disayangi, kalah cantik, kalah uangnya dan lain-lain

2.    PAMBEGAN adalah perasaan harus menang. harus menang kaya, menang terhormat, menang cantik, menang pandai,  dan sebagainya

3.    Perasaan kalah dan harus ingin menang ini meracuni hidup manusia. Sehingga ia jungkir balik harus mengejar yang ini ini atau supaya tidak  menjadi seperti itu. Akibatnya tidak sekedar NGGOLEK, tapi NGOYAK. Kalau perlu NGGOROK leher orang pun akan dilakukan.

4.    Kalau rasa MERI dan PAMBEGAN ini bisa dihilangkan, hidup orang akan tenteram. Ia akan NGGOLEK tanpa NGOYAK derajat, semat dan kramat. Ia bisa nggolek dengan tenteram pula karena tidak dihantui perasaan kalah dan ingin menang.

Baskara mengangguk-angguk mengerti. Sifat MERI dan PAMBEGAN lah penyakit yang merusak hidup manusia. Ia ganti bertanya pada pak Sadrana: “Pak Sadrana, siapa sebenarnya mbok Sadrana ini? Dia seorang wanita yang amat bijak sekaligus pandai".


SUAMI ISTERI SADRANA

Pak Sadrana menjelaskan bahwa mbok Sadrana waktu muda dulu ikut priyayi yang baik di kota. Melihat gadis dusun ini cukup cerdas, maka bendaranya mengajari macam-macam ketrampilan dan kagunan:  memasak, baca tulis bahkan tembang-tembang macapat. Karena ia ketengen (disayangi), pintar dan cantik, lama-lama  timbullah rasa meri dan pambegan diantara pembantu-pembantu yang lain. Akhirnya mbok Sadrana tidak kuat dan memilih mencari kedamaian hidup, pulang ke desa. Walaupun bendaranya berusaha mencegah, Tetapi tekad mbok Sadrana sudah bulat.

Baru kali ini Baskara mendengar mbok Sadrana tertawa, kemudian ia menimpali ceritera suaminya: “Pak Sadrana sendiri teman satu desa yang menjadi tukang kebun bendara kami. Melihat saya pulang dia ikut pulang lalu kami menikah. Anak kami tiga, sudah cekel gawe. semua. Walau tidak jadi priyayi tetapi kami bungah sekali”.

Ada kelebihan lain dari suami isteri Sadrana. Pak Sadrana pandai memetik “siter”  (alat musik Jawa) dan mbok Sadrana pandai nembang. Keahlian ini sering bisa memberikan penghasilan tambahan kalau ada permintaan untuk menambah semaraknya acara-acara keluarga di desanya.

Setelah mendapat kode dari isterinya, Pak Sadrana mengeluarkan siter dari biliknya. Bersila di bawah, Pak Sadrana memetik siternya sambil melagukan solo tembang Pucung dari Serat Wedhatama.

angkara gung nèng ôngga anggung gumulung | gêgolonganira | tri loka lêkêre kongsi | yèn dèn umbar ambabar dadi rubeda ||

Irama berubah ke tembang Pangkur, dan mbok Sadrana melanjutkan, masih dari Serat Wedhatama,

socaning jiwangganira | jêr katara lamun pocapan pasthi | lumuh asor kudu unggul | sumungah sêsongaran | yèn mangkana kêna ingaran katungkul | karêm ing rèh kaprawiran | nora enak iku kaki ||

LIDING DONGENG

Baskara menangkap pesan yang tersirat dari tembang yang dilantunkan suami isteri itu.

1.    Dari Pak Sadrana ia mendapat pesan bahwa nafsu angkara yang bergulung dalam jiwa kita, kalau diumbar akan menimbulkan masalah besar (angkara gung neng angga anggung gumulung ....... yen den umbar ambabar dadi rubeda). Biang rubeda tersebut  adalah setan yang bernama “Angkara”

2.    Kemudian Mbok sadrana mengingatkan kembali tentang orang yang terlena dengan sifat MERI dan PAMBEGAN, tidak mau kalah, harus unggul ( .....  lumuh asor kudu unggul .... yen mangkana kena ingaran katungkul). Itulah dua jenis racun yang disebar setan berjejuluk ANGKARA: Yang pertama LUMUH ASOR dan yang kedua KUDU UNGGUL

Thursday, August 16, 2012

BUNGAH LAN SUSAH (4): TIAP ORANG UKURANNYA TIDAK SAMA

Melanjutkan tulisan Bungah lan susah (3): Menanam “karep” panen “bungah” dan “susah” sampailah dokar yang dinaiki Baskara dan Sadrana di depan rumah sederhana Sadrana  Melihat dokar berhenti di depan rumahnya, seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh keluar. Ia heran melihat suaminya turun dari dokar. Lebih heran lagi ``ketika mengamati sosok laki-laki tampan empatpuluhan yang menyertai. “Panjenengan ......  Ndara Baskara?” tanyanya ragu-ragu.


MBOK SADRANA

“Betul Mbok, kok tahu saya?”

Mbok Sadrana mau jongkok, tetapi dicegah Baskara. (Jongkok adalah perilaku orang Jawa dulu untuk menghormati orang yang lebih tinggi). “Saya pernah diajak teman bantu masak waktu ada hajatan di rumah panjenengan. Malah setelah selesai, saya diparingi kain sama ndara putri”

“Den Baskara mau menginap di rumah kita, mbokne”, sambung Sadrana. Tentusaja mbok Sadrana “njondhil”. (njondhil: terjingkat kaget)

“Gubuk kami seperti ini, apa pantas ndoro?”

Baskara menjelaskan tak ada masalah baginya. Kalau pak Sadrana dan mbok Sadrana bisa tidur disitu, dia juga bisa. Ambin di depan bisa dia pakai tidur. Untuk makan malam, di dokar ada perbekalan yang disiapkan isterinya. Dengan rendah hati ia meminta mbok Sadrana menerima sejumlah uang untuk beli kebutuhan yang diperlukan. Pak Jadipa, sais dokar, disuruh pulang, ia  diminta kembali besok pagi-pagi.

Beruntung Sadrana punya sumur sendiri yang agung airnya. Dilengkapi bilik mandi,  walaupun tidak ada kakus. Beberapa orang tetangga terlihat menimba air di sumur itu. “Kami hanya bisa berbagi air”, kata mbok Sadrana waktu ditanya Baskara. Menambah keyakinan Baskara bahwa mbok Sadrana juga mempunyai hati semulia suaminya.


UKURAN BUNGAH DAN SUSAH

Malam itu mereka bertiga duduk di lincak depan rumah. Ada wedang jahe dan pisang goreng disediakan. Baskara yang datang mau  “ngangsu kawruh” melontarkan pertanyaan: “Bungah itu seperti apa?” ia sadar pertanyaan ini terlalu sulit untuk dijawab. Sudah ia diduga, mbok Sadrana yang menjawab. Wanita setengah tua ini memang tampak  cerdas, sebagai bakul di pasar, dan sering ikut buruh kemana-mana, pergaulannya pasti lebih luas dibandingkan Sadrana yang ngarit dan sendirian.

“Tidak gampang menjawab itu ndara. Bungah dan susah selalu bergantian. Saya bungah ndoro kersa nginap disini. Tapi berganti  susah karena tidak mampu memberi layanan yang baik. Kemudian saya bungah lagi ketika ndara ternyata bisa manjing ajur ajer dengan wong cilik”

“Tapi seperti apa. Apa beda antara bungah saya dengan bungah pak Sadrana, misalnya” Baskara melanjutkan pertanyaannya. Ia sadar pertanyaannya tolol karena mbok Sadrana tidak pernah merasakan jadi orang kaya. Tapi mbok Sadrana bisa menjawab dengan baik,

“Menurut saya, sama saja. Yang namanya bungah maupun susah, biar raja atau kere sama rasa lan suwene bungah (rasa dan lama bungahnya)”. Mbok Sadrana terdiam sejenak. “Tetapi ada bedanya juga .....” ia ragu-ragu melanjutkan kata-katanya.

“Teruskan mbok ...” pinta Baskara

Mbok Sadrana melanjutkan: “yang beda tuntutannya. Maksudnya, tuntutan apa yang dibungahi dan apa yang disusahi”.

Mbok Sadrana memberi contoh bungah dan susah dengan mengambil orang dan peristiwa yang ada di sekitar kehidupannya, sebagai berikut:

·        Buruh seperti pak Sadrana kalau upahnya naik ya bungah sekali. Kalau dipotong tentu amat sedih
·        Penjual di pasar seperti saya kalau dagangan laris dan bisa cepat pulang bungahnya bukan main. Sebaliknya kalau tidak laku akan susah sekali.
·       Orang miskin kalau berkurang miskinnya akan bungah. Kalau tambah miskin  makin nelangsa
·        Penipu kalau berhasil akan amat bungah, kalau ketahuan dan dilaporkan polisi menjadi sebaliknya.
·        Orang bodoh akan bungah kalau ada yang memberi penerangan
·        Orang pelit kalau bisa ngirit akan bungah. Kalau keluar uang akan susah.

Baskara memotong penjelasan mbok Sadrana. “Lha kalau orang seperti saya ini kira-kira bungahnya apa mbok?”

“Sulit membayangkan untuk orang yang sudah kajen keringan (kaya dan disegani) seperti ndara. Barangkali bungahnya sudah habis, tapi takut dapat susah”.

Jawaban spontan dari mbok Sadrana membuat Baskara terhenyak. “Persis mbok dengan yang saya alami. Lalu apa yang harus saya lakukan supaya saya bungah, mbok?”


LIDING DONGENG

“Ada tembang Sinom, terkenal, dalam serat Wedhatama, pasti panjenengan tahu. Wong saya orang dusun yang cobolo (bodoh) juga tahu.  Kisah Panembahan Senapati yang selalu amemangun karyenak tyasing sesama (membuat tenteram hati semua orang). Panjenengan sudah membuat Sadrana dan saya amat bungah, apa panjenengan tidak bungah?”

“Iya, iya ,, mbok. Ternyata saya bungah kalau bisa membuat orang lain senang. Saya hanya ingin meyakinkan diri saya saja, bahwa apa yang saya lakukan sudah benar.” Dalam hati ia berpikir, mbok Sadrana ini bukan orang kebanyakan. Sesuai peribahasa Jawa, ia ibarat “kencana katon wingka” (emas berlian yang tampil seperti gerabah), janma tan kena ingina. Di rumah sederhana ini ia menemukan "Bathok bolu isi madu"

Malam belum terlalu larut, tetapi Baskara sadar bahwa pak dan mbok Sadrana perlu istirahat. Besok dini hari mbok Sadrana harus ke pasar dan pak Sadrana mencari rumput untuk ternak Jayeng. Tapi Baskara masih punya pertanyaan satu lagi: kapan lagi kalau tidak ditanyakan sekarang.  (IwMM)

 



Most Recent Post

POPULAR POST